Cerita

Ketika Timnas Menyatukan Kita

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Hari Selasa lalu, 13 Juni 2017, Indonesia menjalani laga persahabatan melawan Puerto Rico di Stadion Maguwoharjo. Banyak yang bisa dipelajari dari laga yang berkesudahan tanpa gol tersebut. Bahwa sepakbola tidak hanya perkara 90 menit di atas lapangan. Lebih dari itu, sepakbola adalah tentang kemanusiaan dan persatuan.

Ada kejadian menarik ketika di sisi tribun selatan, berdiri dua orang di atas stagger menghadap ribuan orang yang senantiasa melantunkan nada-nada pengobar semangat untuk skuat Garuda yang bermain di hadapan mereka.

Adalah Batak Jore dan Ferdian Uyo yang memandu sorak ribuan manusia tersebut untuk terus lantang membakar semangat Garuda. Bagi sebagian orang mungkin tidak ada yang aneh dengan kejadian tersebut. Namun jika paham dengan dinamika suporter Indonesia, hal tersebut sangatlah membanggakan.

Bisa dibilang kedua nama di atas merepresentasikan dua kelompok yang berbeda. Batak yang seorang Brigata Curva Sud, dan Ferdian adalah seorang Pasoepati. Seperti kita tahu, mereka adalah dua orang dari dua kelompok suporter yang sempat berselisih paham cukup lama.

Entah berapa judul berita yang naik di surat kabar menyinggung perselisihan kedua kelompok suporter ini selama bertahun-tahun urung berakhir.

Begitu pula apa yang terjadi di media sosial. Saling serang kata setiap ada momen tertentu tampaknya tak bisa terhindarkan. Baik saling lempar caci atau kata-kata keras.

Namun, api amarah yang selama bertahun-tahun sengaja dihidupkan dengan bahan bakar ego tersebut akhirnya padam juga pada tahun ini. Kedua kubu memilih untuk merajut kembali persaudaraan daripada terus memupuk ego untuk bermusuhan.

Tidak ada gunanya memelihara dendam. Tidak ada alasan untuk kedua suporter kembali berselisih. Jika dipikir-pikir, tidak pernah ada sebuah keuntungan dari permusuhan/perkelahian.

Puncak dari segala usaha keduanya untuk memperbaiki keadaan terlihat pada hari Selasa lalu. Tidak ada garis batas antara keduanya, semua melebur merapalkan semangat untuk perjuangan skuat Garuda.

Inilah hakikat sebenarnya dari sepakbola. Sepakbola seharusnya menjadi pemersatu kita semua. Terserah apa agama Anda, dari suka apa Anda berasal, dari kelompok mana Anda datang, semua sama ketika kita masih menginjak tanah air yang sama.

Dan sekali lagi, apa yang dulu terjadi di Maguwoharjo, ketika kita sempat bersitegang dengan saudara kita Pasoepati, pada akhirnya hanya menjadi cerita lalu saja. Malam itu, kita dipertemukan lagi dengan saudara kita, dari tanah Surakarta.

 

 

 

Komentar
Ardita Nuzulkarnaen Azmi

Sleman Fans sejak dalam kandungan, bisa dikontak via akun Twitter @ardhi___ tapi ojo dibully ya...