Cerita

Angkat Piala Tanpa Naik Kasta

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Wahyu Gunawan meletakkan bola di titik putih. Dia mengambil beberapa langkah ke belakang. Dari atas tribun sudah bergemuruh para suporter sambil mengangkat kedua tangan mereka. Dia ambil ancang-ancang, dan dengan pasti dia mengirimkan bola ke pojok kanan bawah gawang Lampung FC. Lokasi yang hampir pasti dipilih oleh Wahyu Gunawan ketika mengeksekusi penalti.

GOL!!!

Saat itu mungkin adalah saat paling bergemuruh di Stadion Maguwoharjo. Seisi stadion bersorak meluapkan kegembiraannya menyambut gol telat dari Wahyu Gunawan tersebut.

Saking pecahnya suasana stadion kala itu, para pemain Lampung FC terlihat bertepuk tangan sambil melihat ke atas tribun. Seolah mereka sedang sedang berada di tengah Colosseum, ikut menikmati atmosfer tersebut.

Pertandingan tersebut harus berjalan sampai perpanjangan waktu setelah pada waktu normal skor masih imbang 1-1. Gol PSS diciptakan oleh Agung Suprayogi, sebelum dibalas oleh pemain Lampung FC beberpa menit kemudian.

Sampai peluit akhir dibunyikan, tidak ada gol tambahan tercipta. PSS berhasil menjadi juara Divisi Utama PT LPIS 2013. Panggung langsung disiapkan, para pemain tampak sudah berganti baju. Baju putih bertuliskan “CHAMPIONS” bergambar piala berkuping besar bak Piala Liga Champion.

Satu persatu pemain dipanggil ke atas panggung, dikalungkan medali untuk masing-masing pemain, dan terakhir piala diserahkan kepada sang kapten, Anang Hadi. Piala diangkat, kembang api langsung menyala. Dibarengi dengan lagu We Are The Champions.

Seluruh stadion bersama-sama menyanyikan lagu dari Queens tersebut. Semuanya larut dalam kegembiraan. Semua ikut merayakan, ada tawa bahagia, tangis haru, teriakan kebanggaan. Semua bercampur aduk jadi satu. Malam yang melepas dahaga para pendukung PSS akan prestasi.

Tampak Paman Pardji, ikut mengangkat piala di atas panggung, di tengah pemain PSS. Senyum sumringah, sebuah senyum tulus jelas terpancar dari mukanya. Menurut saya, dialah orang yang paling pantas merayakan malam itu. Kita semua tau, bagaimana seorang paman Pardji “babat alas” mengangkat PSS dari keterpurukan di musim-musim sebelumnya, sehingga bisa menjadi juara di akhir tahun itu.

Tahun itu, PSS diperkuat oleh pemain seperti Aji Saka, Abda Ali, Waluyo, Abda Ali, Ade Christian, Adelmund, Anang Hadi, Bona S, Juan Revi, Fajar Listiantoro, Mudah Yulianto, Monieaga, Agung Suprayogi, dan pemain-pemain lainnya. Lafran Pribadi menjadi pelatih PSS kala itu, seorang pelatih asli Sleman. Lafan Pribadi menjadi suksesor Yusack Susanto yang mengundurkan diri di akhir putaran pertama.

Perjalanan PSS musim tersebut memang penuh dengan liku, terlebih dengan adanya dualisme yang ada di tubuh PSSI sehingga membuat kompetisi Divisi Utama menjadi prioritas nomor sekian.

Walaupun sempat ada wacana juara Divisi Utama tidak akan membuat PSS naik ke ISL, namun hal yang harus kita apresiasi di sini adalah perjuangan para pemain untuk menjuarai kompetisi kala itu.

Pada akhirnya, PSS dipastikan tidak mendapatkan jatah untuk naik kasta walaupun menjadi juara. Piala yang saat ini berada di ruang PT PSS menjadi saksi perjuangan para penggawa PSS. Perjuangan tanpa penghargaan dari federasi.

Saat ini, lima tahun kemudian, kita sedang berada di titik di mana PSS bisa kembali mengulang momen indah tersebut. Tahun ini, semoga menjadi sebuah momentum untuk kembali mengulang kesuksesan. Mengulang saat dimana para pemain PSS mengangkat piala, bersama para suporter menyanyikan lagu We Are The Champion.

Yang paling penting tentu saja menuntaskan  satu hal yang belum tersalurkan: Naik kasta.

Komentar
Ahmad Indra Pranata

Dokter muda yang mencintai sepakbola, bisa kamu hubungi di akun Twitter @mamas_ahmad