Opini

Apa Istimewanya Derbi Jilid II untuk PSS?

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Liga 2 2018 sudah memasuki pekan ke-21, yang berarti tinggal menyisakan 2 pertandingan untuk mengakhiri fase grup. Pada pekan ini, akan tersaji pertandingan yang menarik di Grup Timur, yaitu pertandingan derbi DIY antara PSS melawan PSIM Yogyakarta.

Pertandingan ini merupakan derbi jilid II, di mana pada pertemuan pertama PSIM berhasil mengalahkan PSS dengan skor tipis, 1-0. Saat itu gol tunggal PSIM dicetak oleh sang kapten, Hendika Arga di babak kedua.

Pertandingan ini (rencananya) akan digelar pada Rabu, 10 Oktober 2018 di Stadion Maguwoharjo. Secara kompetisi dan posisi klasemen, sebenarnya derbi ini bukanlah pertandingan yang spesial. Tidak menjadi spesial karena tidak ada yang target khusus yang harus dicapai oleh kedua tim pada laga itu.

Di awal musim, PSIM menargetkan untuk dapat bertahan di Liga 2. PSIM telah memenuhi target apabila laga melawan Persiwa Wamena dianggap WO (walked out). Capaian ini tentu cukup luar biasa, mengingat PSIM memulai liga dengan poin -9 setelah mendapatkan sanksi dari FIFA.

Untuk PSS, target awal mereka di babak grup adalah lolos ke babak 8 besar. Seto sendiri mengatakan bahwa PSS tidak harus berada di peringkat pertama. Saat ini PSS sudah dipastikan lolos ke babak 8 besar, bahkan berstatus sebagai tim pertama yang lolos.

Secara tim, dan dilihat dari posisi klasemen, PSS dan PSIM tidak bisa dikatakan rival. Kedua tim jelas memiliki target yang berbeda musim ini. Lagipula pada saat derbi berlangsung, kedua tim sudah mencapi targetnya masing-masing. Tapi memang, PSS masih memerlukan satu kemenangan lagi untuk bisa mengunci posisi pertama di klasemen.

Spesialnya laga ini sebenarnya adalah karena adanya rivalitas dari kedua suporter. Perseteruan tanpa akhir dari kedua suporter yang kemudian memberikan image, bahwa derbi ini adalah pertandingan sarat gengsi, dan pertandingan hidup mati.

Menjadi Suporter yang Dewasa

Namun, bagaimana kita sebagai suporter harus secara bijak dan cerdas dalam menyikapi rivalitas tersebut. Sebagai Sleman Fans yang sejak dulu dilabeli dengan sebutan “cerdas”, sudah sepatutnya kita bisa melihat situasi dalam lingkup yang lebih luas.

Setelah babak grup selesai, PSS masih harus melakoni babak 8 besar yang berformat grup. Format ini membuat PSS masih harus menjalani 3 pertandingan kandang dan 3 pertandingan tandang.

Kita bisa berkaca dari kejadian yang menimpa Persib Bandung. Adanya kerusuhan saat pertandingan melawan Persija membuat mereka mendapatkan sanksi berat dari Komdis. Pada akhirnya Persib harus terusir dari Bandung selama sisa musim ini dan para pendukungnya dilarang untuk menyaksikan pertandingan secara langsung sampai setengah musim kompetisi mendatang.

Adanya kerusuhan dalam pertandingan derbi bisa membuat PSS terusir dari MIS. Sanksi semacam ini tentu akan sangat merugikan untuk PSS. Pertama, membuat Super Elja harus mencari alternatif kandang. Kedua, PSS harus menjalani pertandingan tanpa didukung oleh para suporter.

Jika para suporter menganggap pertandingan ini adalah pertandingan yang mempertaruhkan harga diri. Masih banyak suporter yang melakukan keributan dengan dalih menjaga harga diri. Benarkah? mari coba kita ubah pola pikir kita.

Harga diri yang dimaksud adalah harga diri dalam sebuah pertandingan sepakbola, yang berarti adalah pertarungan antara para pemain di lapangan. Merekalah (pemain) yang seharusnya memperjuangkan harga diri klub yang dibelanya. Harga diri berarti kemenangan, dan kemenangan dalam pertandingan itulah yang kita cari. Bukan keributan yang tidak ada ujungnya.

Bagi saya, PSS harus menang dalam laga derbi ini. Saya juga menganggap pertandingan ini sebagai pertaruhan harga diri, namun harga diri dari sudut pandang hasil pertandingan. Membuat kerusuhan di dalam dan luar stadion bukanlah sebuah cara untuk mempertahankan harga diri. Itu hanyalah sebuah perilaku bar-bar yang mengatasnamakan harga diri. Sekali lagi, jangan sampai karena ketidakdewasaan kita sebagai suporter malah merugikan PSS.

Fungsi suporter adalah memberikan support dan tidak merugikan tim yang kita dukung. Jika yang kita lakukan malah membuat tim kesusahan, lebih baik kita pensiun menjadi suporter.

Tujuan akhir PSS musim ini adalah promosi ke Liga 1, bukan sekadar memenangkan derbi. Jika menang derbi harga mati, jangan ada jiwa yang (kembali) mati. Karena harga diri tidak dibawa mati.

Komentar
Ahmad Indra Pranata

Dokter muda yang mencintai sepakbola, bisa kamu hubungi di akun Twitter @mamas_ahmad