Analisis

Apa yang Harus Dilakukan PSS Agar Menjadi Klub Profesional?

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Sebagai Sleman Fans, tentu kita semua ingin PSS Sleman dapat bersaing di kancah nasional, regional, maupun internasional. Namun, ternyata untuk dapat bersaing di kompetisi nasional maupun regional Asia tidak hanya membutuhkan kesebelasan yang mumpuni. Ada aspek lain yang harus diperhatikan yaitu profesionalitas klub.

Kemudian muncul pertanyaan seperti apakah klub yang profesional?

Induk federasi persepakbolaan Asia (AFC) telah menetapkan standar mutu klub dalam Club Licensing Regulation (CLR). CLR AFC diadopsi dari CLR yang dikeluarkan FIFA dan seharusnya PSSI juga mengadopsi CLR AFC sebagai patokan dalam verifikasi klub sebelum dimulainya liga.

Mungkin CLR memang asing di telinga orang-orang Indonesia. Namun, sebenarnya lisensi ini telah disetujui FIFA sejak tahun 2004 dan mulai berlaku pada 1 Januari 2008.

FIFA menggambarkan CLR sebagai dokumen kerja dasar untuk sistem perizinan klub. Dokumen ini bertujuan untuk menjamin nilai-nilai olahraga, transparansi dalam keuangan, kepemilikan dan kontrol dari klub, serta kredibilitas dan integritas dari kompetisi klub.

Dalam dokumen tersebut terdapat syarat minimal bagi sebuah klub sepakbola untuk mengikuti kompetisi di tingkat benua maupun internasional. Walaupun kenyataannya PSSI belum sepenuhnya menerapkan CLR AFC, tidak ada salahnya bagi klub seperti PSS untuk mulai memenuhi persyaratan yang ada dalam lisensi tersebut karena CLR AFC juga dapat digunakan sebagai tolok ukur profesionalitas sebuah klub.

Mengenal persyaratan AFC Club Licensing Regulations

AFC telah mengeluarkan AFC Club Licensing Regulations yang merupakan patokan profesionalitas sebuah klub. Dalam regulasi ini diberikan berbagai macam kriteria minimal sebuah klub untuk mendapat lisensi dari AFC. Kriteria-kriteria yang tercantum dalam AFC Club Licensing Regulations dibagi menjadi:

1. Sporting Criteria

Kriteria ini berhubungan dengan player development, baik pemain yang berada di tim utama maupun pemain yang berada di tim kelompok umur di bawahnya. Dalam kriteria ini disebutkan bahwa sebuah klub harus memiliki minimal tiga tim: Tim utama, tim kelompok umur U-18, dan tim kelompok umur U-15. Selain itu, klub juga harus melaksanakan Youth Development Programmes dan Grassroots Programmes sebagai bentuk kepedulian terhadap pembinaan usia dini dalam sepakbola. Kalimat sederhananya, sebuah klub wajib memiliki akademi sepakbola.

2. Infrastructure Criteria

Sebuah klub wajib memiliki stadion sendiri atau mengontrak stadion dengan kontrak tertulis. Masa kontrak stadion minimal selama satu musim penuh yang berarti selama 365 hari, baik ada pertandingan maupun tidak. Stadion tersebut juga wajib memenuhi kriteria AFC Stadia Regulations. Selain itu, klub harus memiliki aset berupa fasilitas latihan untuk tim utama atau mengontrak fasilitas latihan dengan kontrak tertulis selama satu musim penuh. Fasilitas latihan untuk program pembinaan usia dini juga wajib dimiliki.

3. Personnel and Administrative Criteria

Bagian ini mewajibkan sebuah klub untuk memiliki sekretariat untuk menjalankan administrasi klub. Klub juga harus mempekerjakan general manager, finance officer, petugas keamanan, fisioterapis, dan dokter tim yang dikontrak secara profesional. Selain itu, pelatih tim utama wajib memiliki lisensi kepelatihan dengan standar AFC atau sederajat dan didampingi asisten pelatih. Sementara pelatih tim akademi juga harus memiliki lisensi kepelatihan berstandar AFC atau sederajat.

4. Legal Criteria

Klub harus memiliki dokumen resmi dari pemerintah, memiliki kejelasan kepemilikan, dan memberikan kontrak tertulis kepada setiap pemainnya. Selain itu, klub wajib menyatakan ketersediaannya mengikuti kompetisi antarklub AFC secara resmi.

5. Financial Criteria

Beberapa kriteria yang tercantum dalam bagian ini misalnya klub wajib memiliki Rancangan Anggaran Belanja (RAB) dan Rancangan Anggaran Pendapatan (RAP). Klub juga harus menyediakan laporan keuangan selama satu tahun yang telah diaudit oleh auditor independen.

Kriteria yang telah disebutkan di atas hanyalah sebagian kecilnya saja. Jika ingin mengetahui krtiteria yang lebih lengkap, AFC Club Licensing Regulations bisa didapatkan melalui laman resmi AFC.

Manfaat Club Licensing Regulations

Jika dibandingkan dengan persyaratan yang tercantum dalam CLR, hampir semua klub di Indonesia tertinggal jauh. Namun, jika klub berani berbenah dan mencoba memenuhi satu per satu persyaratan yang telah ditetapkan, hal itu akan banyak memberi manfaat.

Pemenuhan syarat yang telah ditetapkan dalam CLR dapat memprofesionalkan manajemen klub, termasuk di dalamnya aspek stabilitas finansial, transparansi keuangan, legalitas kepemilikan, dan kelangsungan hidup klub itu sendiri.

Bagi pemain, CLR akan sangat menjamin pengembangan pemain muda, baik dalam bidang sepakbola maupun dalam pendidikan non-sepakbola.

Lisensi ini juga memperjelas hubungan antara pemain dan klub yang tertuang dalam kontrak dan didasari dengan legalitas hukum yang sah serta dapat dipertanggungjawabkan. Selain itu, perawatan medis bagi pemain juga dapat dijamin.

Sementara itu, CLR tentunya akan menyuguhkan pertandingan yang aman dan kompetisi yang menarik bagi suporter. Pemenuhan persyaratan tersebut juga akan menimbulkan kepuasan tersendiri bagi fans.

Jika PSS Sleman dapat mulai memenuhi kriteria yang ditetapkan dalam CLR AFC, Sleman Fans pasti akan semakin bangga dengan Super Elja yang perlahan terbang sebagai klub profesional.

Komentar

Perintis @tapakbola. Dapat dihubungi secara personal melalui akun @AndhikaGila_ng

Comments are closed.