Cerita

Apakah Sepakbola Adalah Agama Lain Kita?

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Sebelum kita membahasnya lebih dalam, mari kita ber-intermezzo sedikit apa definisi dari sepakbola. Sepakbola atau football berasal dari kata foot dan ball yang berarti bola tersebut harus dimainkan dengan kaki. Bola yang digunakan berbentuk bulat dan biasanya terbuat dari karet atau kulit agar mudah ditendang oleh pemain.

So, definisi singkat dari sepak bola adalah sebuah permainan yang dilakukan dengan cara menendang bola yang dilakukan oleh pemain, dengan bertujuan memasukan bola ke gawang lawan. Pada awal ditemukannya sepakbola, permainan ini hanya dilakukan oleh beberapa orang saja.

Seiring berjalannya waktu, semakin banyak orang yang memainkannya sehingga pada tahun 1863, dua belas tim sepakbola di Inggris menyepakati peraturan baku untuk bermain sepakbola. Setelah itu, munculah The Football Association (FA) dan menggelar kompetisi sepakbola untuk pertama kalinya yang dinamai FA Cup.

Permainan sepakbola pun berubah semakin modern dan semakin banyak orang yang tertarik untuk menontonnya. Banyak stadion yang dibangun untuk memfasilitasi para penonton dalam menikmati sepakbola. Penonton yang semula hanya duduk manis dan menonton lama kelamaan terangsang untuk bersorak dan mengumandangkan yel serta nyanyian untuk mendukung tim kebanggaannya. Dari sinilah awal kemunculan suporter.

Menurut Rudy Bastam dalam sport.idntimes.com, suporter terbagi menjadi lima yaitu hooligan, casual, tifosi, ultras, dan mania. Meskipun cara mendukung mereka berbeda, namun tujuan mereka tetaplah sama, to support their lovely team. Suporter akan selalu berusaha mendukung secara langsung dimanapun klub kebanggaan mereka berlaga baik home atau away. Di sinilah soul dari permainan sepakbola selain dari segi bisnis. Namun, apa hubungan antara sepakbola dan religion?

Bersamaan dengan dukungan yang mereka berikan, mereka meletakkan harapan yang besar kepada pemain dan klub agar bermain dengan totalitas sehingga mereka dapat memenangkan pertandingan. Semakin klub yang mereka dukung memperoleh kemenangan, semakin tinggi pula rasa cinta mereka terhadap kebanggaan mereka.

Rasa cinta akan klub membuat mereka selalu ingin memberikan dukungan meskipun harus meninggalkan kewajiban untuk sekolah, kuliah, atau bekerja. Rasa cinta tersebut memunculkan harapan sekaligus keyakinan bahwa klub yang mereka dukung akan bermain baik dan memenangkan pertandingan selanjutnya.

Menariknya, banyak orang yang menyamakan ‘keyakinan’ ini dengan agama. Opini ini terbentuk karena fanatisme suporter dalam mendukung sebuah klub sama dengan fanatisme seseorang dalam beragama. Tapi apakah benar-benar sama?

Agama dan keyakinan adalah dua kata yang sering membingungkan karena orang berpikir ada kesamaan dalam maknanya. Michel Meyer (dalam Rousydiy, 1986) berpendapat bahwa agama adalah sekumpulan kepercayaan dan pengajaran-pengajaran yang mengarahkan kita dalam tingkah laku kita terhadap Tuhan, terhadap sesama manusia dan terhadap diri kita sendiri.

Sementara keyakinan adalah suatu sikap yang ditunjukkan oleh manusia saat ia merasa cukup tahu dan menyimpulkan bahwa dirinya telah mencapai kebenaran. Jadi, di dalam suatu keyakinan tidak selalu memerlukan konsep Ketuhanan di dalamnya. Lalu apa keyakinan yang melekat dalam jiwa suporter?

Hubungan dari sebuah football club dan pendukungnya akan membentuk suatu simbiosis. Sebuah klub akan lebih termotivasi dalam bertanding saat didukung oleh banyak pendukungnya.

Sementara suporter akan mencapai kebahagiaan dan kepuasan batin saat melihat kebanggaan mereka meraih kemenangan. Di sinilah keyakinan itu tercipta. Keyakinan dalam mendukung, mengawal, dan melindungi kebanggaan. Keyakinan yang menumbuhkan cinta seiring dengan kemenangan demi kemenangan yang diraih klub.

Namun, tidak selalu harapan akan sesuai dengan kenyataan. Akan ada saat dimana performa klub menurun dan mengalami kekalahan. Hal itu menimbulkan perasaan kecewa dan kesal. Tak jarang kekecewaan ini menjadi pemicu tindakan yang kurang bijaksana yang tidak perlu disebutkan. Rasa kesal tidak selalu ditimbulkan oleh kekalahan atau menurunnya performa klub, namun juga faktor lain seperti ejekan, hinaan atau cacian dari kelompok suporter lain.

Rasa kesal akan timbul saat sesuatu yang kita cintai dan banggakan mendapat perlakuan yang kurang baik. Atas dasar keyakinan dan cinta inilah, para supporter tidak akan membiarkan seorangpun melukai atau mengejek kebanggaan mereka. Fanatisme yang serupa saat kita menjalankan agama kita. Kemarahan yang sama saat seseorang mengkritik agama yang kita anut.

Pertanyaan terakhir, apakah realistis menyetarakan sepakbola dengan agama? Jawaban dikembalikan kepada pembaca dan penikmat bola. Yang jelas, jika kita melandaskan keyakinan kita pada agama, maka ekspresi dan tindakan kita akan menjadi lebih tertata, karena penulis meyakini tidak ada satupun agama yang menuntun pada keburukan.

Komentar
CampusBoys UNY

Dapat ditemui di akun @campusboys_UNY