Cerita

August Rush!

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Menyambut Agustus dengan makna perjuangan seperti 72 tahun yang lalu ketika bangsa ini mengakhiri masa kelam penjajahan. Sedikit membuka buku-buku sejarah, di bulan Agustus 1945 para pahlawan menyusun rencana untuk bangsa ini agar terbebas dari belenggu penjajah yang berusaha mengambil kekayaan tanah air pertiwi. Nyawa ditaruhkan untuk kemerdakaan bangsa ini dengan penuh keyakinan dan keikhlasan.

Tulisan ini bukan menyimpulkan tentang isi film August Rush, akan tetapi mengambil intisari dari film yang disutradarai oleh Kirsten Sheriden. Film yang berkisah tentang bagaimana musik bisa menyatukan keluarga. Sama halnya yang terjadi di negeri ini, sepakbola yang konon katanya dapat menyatukan rakyat Indonesia.

Nyatanya memang benar, semua berhak datang ke stadion tanpa memandang etnis, suku dan agama tertentu. Kita dapat merasakannya ketika 11 pahlawan bangsa berjuang demi lambang garuda di dada. Isi stadion dipadati puluhan ribu masyarakat pecinta bola dengan meninggalkan atribut klub mereka. Sebuah momen penting ketika rivalitas sedang memanas dengan banyak korban yang tak diharapkan.

Makna film tersebut dapat dirasakan juga di bumi Sembada. Ketika sekumpulan manusia dikumpulkan untuk mendukung kebanggaan PSS Sleman, yang perlu dicatat adalah sekumpulan orang itu ada karena PSS. Meski Sleman Fans nampak mellow di bulan ini akan tetapi perjuangan untuk tim kebangaan tak akan berhenti begitu saja. Rasa memiliki yang kuat Sleman Fans dinilai salah satu faktor tim ini tumbuh hebat dengan didukung akal sehat.

Di bulan yang syarat akan perjuangan, punggawa Super Elja nampak sedang diuji betul. Pasalnya sepanjang Agustus ini tak akan ada Sleman Fans yang setia menemani dibalik pagar tribun. Larangan tanpa kajian dari penguasa federasi memaksa Sleman fans hadir memenuhi luaran stadion. Di bulan yang banyak memunculkan nama “Agus” ini Sleman Fans tak akan bisa hadir di kota-kota indah lainnya.

Sebuah momen penting akan terjadi di bulan Agustus karena 4 laga penting demi memastikan langkah ke babak selanjutnya. Diawali dengan bertemu Persip Pekalongan di kandang mereka. Kemudian 2 laga kandang menghadapi Persibat Batang dan Persijap Jepara. Akhir bulan skuat Super Elja melawat ke kandang PSGC Ciamis.

Patut dinantikan perjuangan punggawa Laskar Sembada ini. Ujian mental tanpa kehadiran Sleman Fans dan racikan coach FM dengan beberapa pemain barunya akan mengisi cerita di bulan agustus. Sesuai judul tulisan ini Sleman Fans berharap bulan ini segera terlewatkan. Sedangkan untuk PSS akan terburu-buru mendapatkan point untuk memastikan tempat di 16 besar.
Ini ujian harap bersabar. Dua laga kandang praktis akan membuat klub kehilangan nominal milyaran rupiah. Kabar yang beredar, akan ada pergerakan untuk PSS dengan tetap membeli tiket meskipun laga mengharuskan tanpa adanya penonton.

Sebuah langkah positif untuk tim kebanggaan agar kemulusan tim dalam merebut gelar tetap dijalurnya. Juga jauh dari permasalahan finansial yang sedang ramai dibahas kalangan pecinta bola. Beberapa kontestan Liga 2 sudah banyak yang terancam berguguran karena tak didukung finansial yang memadai. Beruntunglah Sleman mempunyai daya tarik sponsor karena semaraknya dunia bola sembada. Pada dasarnya sumber keuangan klub berasal dari suporternya.

Sedikit kita analisa, nominal tiket datangnya dari berapa yang datang ke stadion. Merchandise juga suporter yang membeli. Produk dari sponsor pun suporter lah targetnya. Sangat disayangkan memang, ketika stadion tak lagi ramai penuh teriakan tanpa rasisme.

Ayo Sleman Fans, selipkan doamu untuk PSS dan tetap mendukung segala pergerakan. Jadikan bulan ini untuk berbenah dari kenyataan pahit yang sudah terjadi. Semarakan momen Agustus dengan terus menebarkan virus-virus kebaikan untuk Super Elja. Jadikan bulan perjuangan ini untuk berdamai dengan rival karena ketika bangsa ini bersatu tak ada yang sanggup melawannya lagi, sekaligus menghormati jasa pahlawan yang menyampaikan pesan persatuan untuk rakyat Indonesia. Semoga saja.

Salam Super Elja

Komentar