Cerita

Awaydays

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Sebuah pertandingan olahraga tentu saja tidak hanya berlangsung di kandang tim itu sendiri. Akan ada sistem yang menentukan di mana pertandingan itu berlangsung. Pertandingan home dan away akan nampak lebih adil apalagi dengan sistem liga dan lain halnya itu terjadi di sebuah turnamen skala kecil maupun besar.

Sebagai pecinta klub kebanggaan pastinya tidak akan melewatkan satu pertandingan pun timnya berlaga. Biasa istilah itu kita sebut bertandang atau awaydays. Awaydays itu sendiri adalah sebuah langkah mendukung tim berlaga di luar kandang. Beberapa kelompok suporter beranggapan bahwa dengan awaydays untuk mengukur kecintaan klub. Secara tak langsung apa yang terjadi ketika away akan beda perlakuannya ketika bermain di kandang.

Di luar sana awaydays sudah menjadi budaya wajib bagi kelompok suporter terutama sepakbola. Sudah menjadi tradisi mengawal sang kebanggaan dimanpun ia bertanding. Tentu saja untuk merasakan atmosfir yang ada di kandang lawan. Tak jarang awaydays sering dianggap berbahaya tatkala bertemu dengan kesebelasan rival seteru abadi. Tentu saja ada pembatasan kouta karena antusias kedua suporter dengan pertandingan besar tersebut.

Pembatasan kouta yang terkadang membatasi semangat kubu tamu. Semuanya pasti sudah dipikirkan  pihak keamanan di sana demi menjaga clash sebelum atau sesudah pertandingan. Awaydays memang sudah menjadi bumbu wajib para suporter dengan banyak cerita pahit manis nya hingga beberapa penggiat seni drama banyak mengangkat topik tersebut untuk dijadikan tontonan berkelas para penggiat bola.

Di Indonesia sendiri budaya ini mulai muncul di tahun 1987. Lewat website emosijiwaku.com diceritakan bagaimana bonek mengawali tradisi baru di Indonesia kala itu. Mereka membanjiri senayan dan berangkat dengan biaya seadanya demi klub kebangaan. Sebuah kisah tentang sejarah suporter Indonesia.

Hingga era milenial ini budaya awaydays kian kental di Indonesia. Entah hanya menunjukan eksistensi dan gengsi mereka atau memang benar-benar tulus memaknai kultur tersebut. Ditambah transportasi yang memudahkan akses mereka membuat nyali awaydays kian membara. Resiko apapun yang akan terjadi nyatanya tak membuat antusias itu turun.

Mari kita satukan dengan budaya lokal yang sudah dari lama terlahir. Selayaknya bertamu, kubu tamu akan lebih santun memberikan kenangan berupa oleh-oleh khas daerah mereka. Secara simbolik saja langkah ini diyakini akan membawa persaudaraan antar suporter makin erat. Ibarat berkunjung ke keluarga dengan membawa buah tangan khas lokal sana. Bukankah kita semua diciptakan secara berkeluarga dengan persaudaraan yang kuat?

Sleman Fans pernah melakukannya dikala PSS berlaga menghadapi PSCS Cilacap pada gelaran final ISC-B 2016. Salak! Panganan khas sleman ini banyak ditemui di sepanjang perjalanan ke Jepara. Para sleman fans membagikan dari tol Semarang hingga warga Jepara itu sendiri. Seolah-olah membawa simbolik kedatangan mereka dengan rasa syukur tim nya berlaga hingga final. Satu kata dari penulis, indah!

Momen awaydays nyatanya membuat beberapa kelompok suporter nampak mawas diri. Benar saja hal itu tak jauh dari ungkapan sudah ngapain aja kalian dengan klub kebanggaanmu. Setelah era kelam sepakbola Indonesia menunjukan terang kembali, semua aspek berbenah, sepakbola indonesia mulai semarak kembali.

Cerita awaydays menjadi bagian penting dari peran suporter. Skala kecil maupun besar suporter tamu pasti nampak di laga sepakbola tanah air. Sisi positif dari perkembangan bola nasional. Sudut pandang lainnya, awaydays sangat menguntungkan apabila yang akan bertanding klub dengan basis suporter besar.

Stadion yang awalnya nampak biasa akan menjadi penuh sesak dengan 2 kubu yang berbeda. Pemain beradu skillnya sedang suporter beradu kreativitasnya. Sungguh akan membuat kalian merinding disaat isi stadion bergemuruh meriah. Tentu saja hal itu akan terwujud apabila tak ada lagi darah dalam dunia suporter Indonesia.

Nyanyian tanpa saling ejek dengan penuh nada persatuan itu yang diharapkan. Sejatinya suporter hanya beradu kreativitas bukan otot. Suporter besar karna klubnya, dan klub besar karna sepakbolanya, nada yang sering terucap oleh announcer di Sleman. Sudahilah saja saling tikam diluar 90 menit. Cerita awaydays akan lebih dikenang dengan hal santun yang dilakukan. Tak ada lagi yang hanya menunjukan seramnya atau eksistensinya. Sejatinya kultur luar yang dipakai hanya sebatas pergerakan baik, bukan buruknya. Semoga saja.

Komentar