Cerita

Bakti untuk Negeri dari Kabupaten Italy

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Tanggal 13 Juni 2017, Sleman ditunjuk untuk menggelar pertandingan  internasional melawan Puerto Rico. Pada pertandingan tersebut, Indonesia menurunkan timnas U-22 plus 5 pemain seniornya.

Pada uji tanding yang berakhir 0-0 itu, Stadion Maguwoharjo kembali sukses menggelar laga persahabatan bertaraf Internasional.

Kenapa saya bilang “Kembali Sukses”, karena Maguwoharjo sudah beberapa kali ditunjuk oleh PSSI sebagai venue pertandingan timnas Indonesia di berbagai kelompok usia; mulai U-16, U-19, U-22, U23, sampai timnas senior.

Beberapa waktu lalu, timnas U-16 melakukan uji tanding dengan Filipina U-16 di Sleman, pertandingan berjalan lancar dan berakhir dengan kemenangan timnas, 4-0.

Tahun lalu, timnas senior melakukan pertandingan persahabatan melawan Vietnam, tepatnya pada 9 Oktober 2016 yang berakhir imbang 2-2. Sebelumnya, timnas U-19 juga menggunakan Stadion Maguwoharjo saat menghadapi perlawanan Fiilipina U-19; pertandingan berakhir 3-1 untuk kemenangan Indonesia.

Jika diurut lagi ke belakang pada tahun 2013; tepatnya tanggal 18 Agustus, Maguwoharjo juga dipercaya menggelar laga persahabatan timnas U-23 melawan Brunei Darusalam U-23. Saat itu pertandingan berakhir 1-0, untuk kemenangan Indonesia muda.

Selama ini, Jakarta (dan Cibinong, Stadion Pakansari) dan Solo selalu menjadi opsi pertama untuk menggelar pertandingan internasional. Beberapa tahun belakangan, Maguwoharjo perlahan bisa menjadi pilihan seperti ketiga kota tersebut.

Ada banyak alasan mengapa Maguwoharjo dijadikan venue untuk menggelar pertandingan Timnas Indonesia. Faktor utama tentu saja karena Gelora Bung Karno sedang direnovasi.

Selain itu, dekatnya Stadion Maguwoharjo dengan Bandara menjadi alasan lain, sehingga tim yang bertanding tidak kesulitan untuk menjangkau stadion. Banyaknya pilihan hotel dalam radius 10 km dari stadion juga merupakan nilai tambah.

Kualitas lapangan dan rumput yang bagus, fasilitas stadion yang “lumayan” juga menjadi pertimbangan khusus. Belum lagi terkait dengan panitia pelaksana pertandingan yang tidak pernah mengecewakan pihak PSSI.

Selain itu, tentu saja faktor dukungan dari suporter. Pelatih Luis Milla menyebutkan bahwa dengan adanya suporter fanatik dari Sleman dan sekitarnya bisa meningkatkan mental bertanding para pemain.

Terkait Stadion Maguwoharjo, mantan pelatih Indonesia, Alfred Riedl, menyebut stadion ini sebagai stadion favoritnya.

“Saya pilih Sleman (Stadion Maguwoharjo) yang benar-benar stadion untuk klub sepakbola, karena semua stadion di Indonesia bergaya olympic yang memiliki lintasan lari,” ucap Alfred Riedl.

Keadaan yang saya tulis di atas (Sleman sebagai venue pertandingan Timnas) sepertinya berbanding terbalik dengan asumsi (sebagian orang) di media sosial; beberapa tahun kepungkur, sewindu terakhir, Kabupaten Sleman dikenal luas oleh para penikmat sepakbola sebagai Kabupaten Italy. Merujuk salah satu negara, Italia, negara yang menjadi juara Piala Dunia 2006. Mungkin hal ini agak  membingungkan bagi sebagian orang.

Sebutan tersebut tidak terlepas dari perkembangan salah satu suporter di Sleman, Brigata Curva Sud. Suporter yang menarik perhatian insan sepakbola dunia sejak beberapa tahun ke belakang.

Mereka (BCS) dianggap meniru cara suporter dari Italia ketika mendukung PSS Sleman. Yang paling dikenal, tentu saja dengan chants “ALE” nya.

Dari situ kemudian banyak pihak yang menyebut Kabupaten Sleman sebagai salah satu bagian dari negara Italia. Guyonan-nya, jika away ke Sleman maka kalian harus menyiapkan visa terlebih dahulu. Konyol, memang.

Asumsi yang berbanding terbalik dengan fakta yang ada. Kok bisa, (yang katanya) Kabupaten Italia malah sering digunakan menjadi venue pertandingan Timnas Indonesia? Sedangkan, Gianluigi Buffon dkk justru tidak pernah bertanding di Maguwoharjo. Ha ha ha.

Saya ulangi lagi, the Kabupaten Italy things is just a mere assumption. Tidak berdasarkan fakta, tentu saja.

Faktanya adalah, Kabupaten Sleman merupakan salah satu Kabupaten di DIY dan (tentu saja) masih menjadi bagian dari Indonesia. Sesuai dengan pernyataan dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX pada 5 September 1945 yang menyatakan bahwa: Negara Ngayogyakarto Hadiningrat yang bersifat kerajaan adalah Daerah Istimewa dari Negara Republik Indonesia.

Masalah nasionalisme, saya rasa tidak perlu diperdebatkan lagi. Mayoritas masyarakat yang ada di Kabupaten “Italy” ini juga bisa menyanyikan Lagu Indonesia Raya. Presidennya juga bapak Jokowi; yang pernah membuat Vlog pribadi di Stadion Maguwoharjo. Bahasa Italia-pun tidak ada di kurikulum pendidikan sekolah-sekolah di Sleman.

Publik Sleman juga sama seperti daerah-daerah lain. Bangga ketika daerahnya digunakan sebagai venue pertandingan timnas Indonesia.

Beberapa kalangan bahkan sudah kebingungan mencari tiket sebelum hari-H. Saat pertandingan, mereka berbondong-bondong datang ke stadion, dan meneriakkan yel-yel penyemangat untuk timnas Garuda. Dukungan penuh disuarakan publik Sleman kepada timnas Indonesia.

Suporter PSS Sleman sebagai tuan rumah, menunjukkan sikap dewasanya. Mereka membuka diri kepada siapa pun pendukung timnas Indonesia dari segala penjuru Indonesia, untuk datang dan bersama mendukung perjuangan Kurnia Meiga dan kawan-kawan.

Suporter PSS Sleman (BCSxPSS dan Slemania ) mengajak semua elemen suporter di Indonesia untuk menanggalkan ego masing-masing, dan bersama mendukung timnas Indonesia.

Mereka juga menyarankan anggotanya untuk menanggalkan atribut berbau PSS Sleman saat datang mendukung Indonesia. Karena mereka percaya, Sepakbola adalah alat pemersatu bangsa. Hal ini mereka dengungkan dengan hashtag #penakseduluran #WeAreOne.

Bagi kami, memberikan dukungan penuh untuk timnas Indonesia, ikut mensukseskan jalannya pertandingan adalah salah satu bentuk bakti Kabupaten Italy untuk negeri kami, NKRI.  Karena pada akhirnya walau (kebanyakan dari kami) suka bilang ale-ale, makanan kami masih tetap tahu tempe.

Komentar
Ahmad Indra Pranata

Dokter muda yang mencintai sepakbola, bisa kamu hubungi di akun Twitter @mamas_ahmad

Comments are closed.