Cerita

Bambang Pamungkas dan Laga Perdana PSS di Divisi Utama

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Sejak kapan Bambang Pamungkas (Bepe) pernah main di PSS Sleman? Itu pasti yang terlontar pertama kali ketika membaca judul di atas. Tenang, memang Bepe tidak pernah main di PSS, yang ada malah Bambang Pamungkas  menjebol gawang PSS.

Namun uniknya berkat wonderkid Salatiga itu saya mulai mengenal dan mencintai PSS. Ceritanya begini, ketika saya masih duduk di bangku SD tahun 1998 atau 1999 (saya lupa persisnya), headline salah satu Surat Kabar di Yogyakarta membahas tentang Piala Soeratin. Di berita tersebut terpampang sosok pemain bola bernama Bambang Pamungkas bersama klubnya saat itu: Persikas Kabupaten Semarang. Saat itu Persikas merupakan tim unggulan di kawasan Jateng Jogja.

Tepat di hari itu, Bambang dan timnya dijadwalkan bertemu dengan tim PSS Junior di Stadion Tridadi. Saat itu kebetulan sekali Bapak saya mengajak ke Tridadi menyaksikan pertandingan tersebut. Mungkin bapak saya juga terpengaruh soal pemberitaan Bepe.

Pertama kali nonton di Tridadi saya disuguhkan pertandingan yang seru, Bepe memang pemain ajaib, hanya dia seorang diri sudah bisa mengobrak-abrik lini pertahanan PSS Sleman. Hingga lima menit jelang bubar, Laskar Sembada muda tertinggal 3-2. Namun siapa sangka serangan di akhir babak kedua, yang digalang ‘Putra Seyegan’ Muhamad Ansori & ‘Putra Wonosari’ Rizka Iskandar mampu samakan keadaan. Skor 3-3 berakhir sampai peluit akhir pertandingan dibunyikan.

Sejak saat itu saya jatuh cinta dengan PSS Sleman, klub daerah saya sendiri. Ungkapan batin saya sederhana: dengan pemain yang tidak digembar gemborkan media, nyatanya tim daerah saya mampu mempersulit tim unggulan. Mulai saat itu timbul kebanggan dalam hati saya, ya saya bangga dengan klub daerah saya PSS Sleman!

Kala itu saya punya keyakinan PSS pasti bisa lolos ke kasta tertinggi. Ternyata benar dua tahun berselang, PSS masuk kasta tertinggi. PSS Sleman berhasil masuk ke Divisi Utama dengan bermodalkan pemain-pemain lokal Sleman. Suatu hal yang sangat membanggakan.

Euforia seluruh kabupaten meningkat, gairah akan hiburan pertandingan sepakbola bergelora, Tridadi pun dipugar. Perasaan saat itu hanya tak sabar ingin nonton PSS asuhan alm. Soeharno bertarung di kasta tertinggi.

Pertandingan perdana selalu sulit, termasuk juga untuk panitia pelaksana. Sesuai dugaan animo masyarakat sleman (Saat itu belum ada Slemania, BCS, ataupun Sleman Fans) tumpah ruah memenuhi stadion Tridadi. Stadion yang memiliki kapasitas hanya 1/4 nya Maguwo.

Laga perdana PSS di Divisi Utama ini menyisakan kenangan yang takkan terlupakan bagi anak kecil seperti saya. Waktu itu di laga pertama di Tridadi, entah kenapa saya dan Bapak saya datang agak mepet, sekitar setengah jam sebelum kickoff. Tak disangka satu-satunya pintu masuk tribun timur sudah dijejali lautan manusia. Kami kesusahan untuk mencapai pintu, padahal suasana di dalam sudah meriah dengan teriakan MC Pak Pur yang legendaris:

“dan di posisi straiker dipercayakan kepada Muhamadddd Eksannn.”

Bisa dibayangkan betapa terburu-burunya anak kecil seperti saya ingin segera menerobos masuk ke dalam stadion. Tapi suasana tak memungkinkan untuk masuk dengan lancar, saya terjepit dan terhimpit, nyaris sulit bernafas. Ditambah saya kehilangan jejak bapak, perasaan sukacita mendadak berubah jadi kecemasan. Setelah menerobos masuk saya hanya bisa teriak-teriak minta tolong polisi untuk mencarikan bapak. Pak polisi dengan enteng menjawab, “menek munggah pager wesi wae le” setengah emosi sebenarnya waktu itu tapi berhubung pertandingan sudah mulai rasa cemas itu lantas berkurang, tak lama setelah PSS bikin peluang hati tetiba bergejolak senang dan bapak sudah berdiri di bawah saya!

Baru awal jatuh cinta saja sudah bikin cemas dan takut, tapi tragedi itu justru tak menyurutkan saya menonton PSS lagi dan lagi. Termasuk di era kegelapan, era selepas Castano cs gagal ikut serta ke ISL. Era dimana selalu deg-degan di pekan pamungkas memperebutkan tahta satu strip di atas zona degradasi.

Di tengah jaman kelam itu, saya tetap datang menonton ke Maguwoharjo walau kerap bolong-bolong dengan suasana stadion yang lowong. Setia mengikuti perkembangan Super Elja dari zaman koran lokal, portal suporter, hingga zaman facebook lalu twitter. Luwes melafalkan nama-nama pemain yang selalu berganti tiap tahun mulai dari yang kondang seperti Anderson da Silva, Yuniarto Budi, Slamet Nurcahyo, hingga yang tak lekang oleh waktu seperti Yves Kalamen, Hendro Bawono, Sardi. Walau ala kadarnya kondisi tim kala itu, jika sudah cinta ya selalu cinta, karena PSS memang layak dicinta.

Masa berganti masa, era berganti era, awan gelap itu mulai disapu angin, kini hembusan angin muson kencang berhembus mengangkat nama PSS Sleman. Nama Super Elang Jawa mulai menapaki popularitas di dunia maya. Begitu pula dunia nyata perlahan-lahan dengan prestasinya. Mari terus jaga api cinta ini, sampai saat kita semua bisa menyaksikan pertandingan perdana PSS di Liga 1.

Komentar