Cerita

Belajar Dari Skuat PSS Sleman Tahun 2000

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Ada sebuah hal menarik pada perjalanan awal PSS Sleman dalam mengarungi kompetisi Indofood Liga 2 musim kompetisi 2017 ini. Didapuk menjalani laga kandang pertama sekaligus laga pembuka liga, tim asuhan Freddy Muli justru tersungkur di kandang. Tak heran jika keraguan dan kekhawatiran suporter seketika meluap terhadap tim kesayangan mereka.

Tidak ada yang kurang dari tubuh tim sekarang ini. Mulai dari persiapan awal musim, PSS Sleman tidak kekurangan waktu untuk persiapan. Sejak dari persiapan pembentukan tim, hingga laga uji tanding dan kompetisi pra musim semua telah dilalui dengan baik oleh PSS Sleman.

Di luar hal teknis, semua pemain PSS Sleman juga mendapat fasilitas yang layak. Mulai dari asupan gizi, tempat tinggal, hingga kebutuhan sandang pribadi juga disediakan oleh pihak klub. Tidak ada yang kurang. Klub ini sangat memanusiakan para pemainnya.

Tapi pada kenyataannya, prestasi tidak melulu datang dari sesuatu yang serba mewah. Hampir 2 dekade lalu, tepatnya pada tahun 2000, PSS Sleman memiliki skuat yang bisa dibilang seadanya. Tidak ada nama besar dalam tim. Apalagi fasilitas mewah seperti sekarang, wong kadang latihan saja masih memakai kaos partai.

Jika melihat komposisi pemain PSS Sleman pada musim kompetisi tahun 2000, tampaknya akan ada banyak pihak yang meragukan langkah laskar sembada dalam mengarungi kompetisi Divisi I musim tersebut. Bagaimana tidak, seluruh pemain yang bermain untuk PSS kala itu kebanyakan adalah pemain-pemain debutan hasil seleksi klub-klub lokal di wilayah Sleman.

23 pemain yang berhasil lolos seleksi pada musim tersebut berasal dari klub Gapura, Panji Putra, Triyoso, Pemda Sleman, PIM, Danagung, IKIP, AMS, PSK Primagama, Merapi Putra, serta POSS.

Minimnya kas klub yang kala itu masih berstatus amatir mau tidak mau membuat manajemen memaksimalkan potensi daerah dan tanpa menggunakan jasa pemain bintang seperti klub peserta Divisi I lainnya. Maka tidak heran jika target utama pada musim tersebut sebenarnya hanya tetap bertahan di kompetisi Divisi I alias tidak terdegradasi.

Akan tetapi hasil yang mengejutkan justru diraih oleh anak asuhan duet pelatih Bambang Nurjoko dan Herwin Syahrudin tersebut di akhir musim. PSS Sleman mampu mencatatkan hasil gemilang: merajai klasmen akhir babak penyisihan, menjadi runner-up babak delapan besar, serta menjadi runner-up akhir kompetisi Divisi I tahun 2000 yang pada akhirnya mengantarkan skuat ini promosi ke tingat divisi yang lebih tinggi.

PSS Sleman era 2000 mengajarkan banyak hal kepada kita. Bahwa sebenarnya etos kerja adalah hal paling penting dalam mewujudkan sebuah keinginan. Etos kerja yang baik dalam tim dibangun oleh rasa kekeluargaan. Tidak peduli siapa kamu, pemain bintang atau lokal, ketika sudah mengenakan jersey PSS Sleman, maka berikanlah yang terbaik dari seluruh kemampuanmu.

 

 

 

Komentar
Ardita Nuzulkarnaen Azmi

Sleman Fans sejak dalam kandungan, bisa dikontak via akun Twitter @ardhi___ tapi ojo dibully ya...

Comments are closed.