Cerita

Berani Hidup Untuk PSS: Sebuah Cerita dari Perbatasan

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Secara harfiah supporter berasal dari kata kerja (verb) dalam bahasa Inggris to support dengan akhiran (suffict) “–er”. To support mempunyai arti mendukung, sedangkan untuk akhiran “-er” menunjukkan pelaku. Jika ditarik maknanya maka supporter berarti sebagai orang yang memberikan dukungan atau support pada ikhwal tertentu yang dilandasi cinta dan fanatisme.

Walau tak jarang ada sedikit pergeseran makna dan nilai dari kata supporter tersebut dikarenakan tindakan kekerasan dari oknum maupun kelompok tertentu. Paragraf pertama ini memang berisi teori ideal yang tidak akan ditemui dalam kondisi nyata.

Seperti teori gas ideal yang pernah kita pelajari pada mata pelajaran fisika masa SMA dulu. Gas ideal sebenarnya tidak ada di alam. Gas ideal merupakan penyederhanaan atau idealisasi dari gas yang sebenarnya (gas nyata) dengan membuang sifat-sifat yang tidak terlalu signifikan sehingga memudahkan analisis.

Namun orang dapat menciptakan kondisi sehingga gas nyata memiliki sifat-sifat yang mendekati sifat-sifat gas ideal. Jika kita hubungkan teori gas ideal dengan teori supporter, tidak ada suporter yang ideal. Yang ada adalah mendekati ideal, yang berhasil membuang sifat-sifat yang tidak baik.

Mengutip pesan dari Bapak Kapolres, bahwasanya suporter PSS Sleman besar di stadion bukan di jalanan. Tak dipungkiri semenjak BCS menyuguhkan dukungan yang kreatif dengan koreo, chants yang segar, dan pergerakan yang progresif, masyarakat mulai berbondong-bondong untuk memadati setiap sudut stadion. Bahkan slogan “No Ticket, No Game” dilakukan Sleman Fans dengan sadar, bangga dan konsisten.

Hal tersebut merupakan bukti sederhana jika memang pendukung PSS besar di stadion. Andai ada segelintir orang yang mengklaim suporter PSS besar di jalanan dikarenakan ketidaktaatan akan peraturan lalu lintas, motor knalpot blombongan yang mbleyer-mbleyer, atau bahkan pelemparan kepada kelompok suporter lain saat melintas daerah Sleman, hal tersebut menjadi kewajiban bersama untuk saling mengingatkan tanpa harus mem-bully.

PSS menjadi daya tarik tersendiri beberapa tahun belakangan. Ketenaran PSS meningkat, seiring dengan semakin besarnya nama BCS itu sendiri. Hal ini tidak dipungkiri membuat suporter PSS semakin banyak. Tidak hanya yang berdomisili di Sleman namun juga yang di luar Sleman.

Menjadi Sleman Fans yang berdomisili di area perbatasan merupakan tantangan dan memaksa diri untuk lebih menahan ego demi keselamatan. Seringkali harus memilih lebih menyimpan atribut, melepas stiker, dan segala yang berkaitan dengan PSS saat perjalanan menuju MIS saat laga home.

Menahan cibiran penakut yang seakan distempelkan pada dahi kami. Disaat rivalitas mulai kotor, keselamatan menjadi hal utama. Berangkat dan pulang dengan selamat agar dapat terus mendukung kebanggaan berlaga. Bahkan di media social kami tak pernah memasang foto profil dan menunjukkan diri sebagai Sleman Fans.

Toh, menjadi saksi perjalanan PSS berjuang pun sudah cukup. Jika harus ada perkelahian saat perjalanan, itu kami lakukan dengan sangat terpaksa semata-mata untuk menjaga diri. Karena kami percaya bahwa nyawa lebih penting dibandingkan dengan sepakbola.

Mengutip tweet dari pengelola akun Sleman-Football (14/7), “Berani mati sih banyak yang bisa guys, beneran. Ayolah sekarang dibalik, berani hidup untuk PSS!”.  Jangan sampai kita berani mati tapi tidak berani hidup dengan perbedaan warna kebanggaan, sehingga mati-matian menentangnya dengan permusuhan dan kekerasan.

Berani hidup bukan berarti tidak pernah takut, tetapi memiliki kemauan untuk menghadapi keadaan yang sulit, penuh tantangan, dan kadang harus menghadapi situasi yang tidak mungkin.

Inilah yang kami lakukan sebagai Sleman Fans yang ada di perbatasan. Berani Hidup. Karena sepak bola bukanlah segalanya, masih ada kehidupan kami. Masih ada masa depan yang jauh lebih penting, dibandingkan rivalitas konyol.

Seseorang yang berani memiliki kemampuan untuk menghadapi ketakutan, rasa sakit, bahaya, ketidakpastian, intimidasi dan berbagai ancaman lainnya. Satu saja syaratnya, dari dasar hati yang paling dalam, ia percaya bahwa Tuhan menyertainya senantiasa sehingga ia berani hidup dalam keadaan apapun.

Salam hormat untuk kawan-kawan suporter PSS, terkhusus untuk mereka yang berdomisili diluar Sleman. PSS menyertai kita semua.

#PekanMenulisSlemanFans

Komentar