Analisis

Catatan Statistik Akhir Kompetisi: Bek Tengah

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Dari semua lini permainan PSS Sleman, lini belakang merupakan salah satu bagian yang paling banyak mengalami perubahan selama perjalanan menuju tangga juara Liga 2. Nama-nama seperti Ahmad Hisyam Tolle, Yudi Khoerudin dan Sahrul Kurniawan harus berpisah bersama PSS pada jendela transfer kedua, pertengahan babak grup.

Selanjutnya, sebelum memasuki babak 8 besar, Super Elang Jawa mengakhiri kerjasamanya dengan Yericho Christiantoko. Dalam dua jendela transfer tersebut, Seto Nurdiyantoro menambah Jodi Kustiawan, Rian Miziar, Ikhwan Ciptady, Arsyad Guforn, dan Aditya Putra Dewa untuk mengisi pos lini belakang.

Banyaknya pemain yang masuk dan keluar bisa menjadi indikasi bahwa PSS masih terus mencoba untuk menambal dan meningkatkan kualitas lini belakang sepanjang perjalanan di Liga 2. Sebuah usaha yang tidak sia-sia. Lini belakang PSS mampu tampil baik seiring dengan semakin jauhnya langkah PSS menuju juara Liga 2, yang akhirnya berhasil didapatkan.

Hanya kebobolan 20 kali dari 31 pertandingan, pertahanan PSS bisa dibilang mampu bermain cukup baik. Lalu, bagaimana penampilan Super Elja hingga mampu membentuk pertahanan yang cukup kokoh? Mari kita bahas sedikit mengenai lini belakang PSS, terutama penampilan para bek tengahnya.

Dari banyaknya pemain berposisi bek tengah yang sempat bermain untuk PSS musim ini, hanya ada enam pemain yang memiliki menit main lebih dari 360 menit; Hamdan Zamzani, Rian, Jodi, Ikhwan, Ahmad Hisyam Tolle, dan Gufron. Pembahasan kali ini hanya memasukkan pemain yang memiliki menit main lebih dari 360 menit demi keakuratan data.

Pembahasan mengenai bek tengah dalam tulisan ini akan lebih melihat mengenai tipe permainan para pemain dan dilihat dari strategi dan taktik yang digunakan oleh Seto, sebagai pelatih. Oleh sebab itu, akan diperkenalkan mengenai istilah “Bertahan Reaktif” dan “Bertahan Proaktif”.

Bertahan Reaktif dalam tulisan ini berarti mengenai aksi bertahan yang lebih pasif. Dalam hal ini akan digunakan data statistik Recovery untuk menentukan nilai Bertahan Reaktif pemain. Sedangkan Bertahan Proaktif berarti merupakan aksi bertahan yang lebih aktif. Data statistik yang digunakan adalah Tackle dan Interception.

Gambar 1. Bertahan Reaktif x Bertahan Proaktif Bek Tengah PSS Sleman

Jika kita lihat dari Gambar 1, terlihat bagaimana tipe permainan para bek tengah PSS. Zamzani, Ahmad Hisyam Tolle, dan Gufron lebih banyak melakukan aksi bertahan yang proaktif. Hal ini menunjukkan bahwa para pemain ini akan aktif berduel untuk menghentikan serangan lawan dengan melakukan intersep atau tekel. Zamzani mencatatkan 2.1 tekel dan 5.66 intersep p90.

Walaupun harus mengakhiri kerja sama dengan PSS lebih cepat, AH Tolle mampu melakukan 2.6 tekel dan 4.4 intersep p90. Sementara itu, Gufron mencatatkan 1.8 tekel dan 5.13 intersep p90. Dari angka-angka ini, terlihat bagaimana para bek ini lebih sering melakukan intersep untuk memotong bangun serangan yang dilakukan lawan.

Sementara itu, bek tengah PSS yang lain, Ikhwan, Jodi, dan Rian lebih cenderung bertahan secara reaktif dibandingkan dengan bek tengah PSS yang lain. Para bek tengah ini lebih banyak mencatatkan aksi bertahan yang lebih pasif untuk menghentikan serangan lawan.

Secara berturut-turut, Ikhwan, Jodi, dan Rian mencatatkan recovery p90 sebanyak 6.43, 7.45, dan 3.25. Hal ini bisa dilihat bahwa dalam sistem permainan bertahan yang diterapkan oleh PSS, salah satu bek tengah akan lebih aktif saat bertahan, sedangkan bek tengah yang lain akan memberikan cover.

Terdapat catatan penting yang bisa kita lihat dari Gambar 1. Meskipun Ikhwan, Jodi, dan Rian lebih cenderung bertahan reaktif, nilainya tidak jauh dari “reference line” yang memisahkan antara Bertahan Reaktif dengan Bertahan Proaktif. Artinya, walaupun dalam permainan biasanya mencatatkan aksi bertahan pasif yang lebih besar, mereka juga harus mampu berduel secara aktif untuk memutus aliran bola ke daerah pertahanan PSS.

Jika kita sekilas melihat sistem bertahan yang coba diterapkan oleh Seto, hal di atas adalah wajar. Saat tidak menguasai bola, PSS cenderung akan melakukan pressing dengan orientasi penjagaan orang per orang. Dalam beberapa momen, lini tengah PSS sering terlambat dalam melakukan pressing pada lawan yang harus dijaganya. Saat hal ini terjadi, bek tengah sering harus keluar dari garis pertahanan dan melakukan duel aktif dengan pemain lawan.

Jadi, dapat kita simpulkan bahwa bek tengah PSS dituntut untuk lebih mampu Bertahan Proaktif, tanpa mengesampingkan kemampuan pengambilan posisi untuk melakukan covering. Para bek tengah yang bermain untuk PSS di musim ini mampu menjalankan perannya dengan baik. Gufron, Ahmad Hisyam Tolle, dan Zamzani yang lebih cenderung bertahan secara aktif memiliki tandem yang siap melakukan covering dengan tetap memiliki kemampuan bertahan secara aktif yang baik dalam diri Ikhwan, Jodi, atau Rian.

Menghadapi Liga 1 musim depan, lini belakang PSS yang banyak melakukan duel untuk memutus serangan lawan akan menghadapi ujian yang lebih besar dari para pemain asing dan pemain dengan kualitas yang lebih baik. Peningkatan kualitas lini belakang, baik melalui penambahan pemain atau peningkatan kemampuan individu dan taktik dari pemain yang sudah dimiliki adalah sesuatu yang wajib dilakukan.

Komentar
Dani Rayoga

Football Addict | Physics Lovers | @DaniBRayoga

Comments are closed.