Cerita

Cristian Gonzales: Bersinar di Kala Senja

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Usianya sudah 42 tahun. Bagi kebanyakan pesepakbola, sudah saatnya pensiun. Mulai mengambil kursus kepelatihan atau mulai fokus di bisnis lain.

Namun, ia memilih tetap berlaga di lapangan. Tidak ingin buru-buru mengakhiri karier sebagai pemain. Sesekali ia masuk ke lapangan sebagai pemain pengganti, tapi lebih sering tampil sebagai pemain inti. Juga masih mampu bermain 90 menit penuh.

Di Indonesia, sejauh penulis bisa mengingat, hanya dua pemain yang bisa konsisten di usia ini. Keith Kayamba Gumbs yang bermain di Sriwijaya FC dan Arema, lalu jauh ke belakang ada Mario Kempes, veteran Piala Dunia dari Argentina yang bermain untuk Pelita Jaya.

Pemain kelahiran Montevideo, 30 Agustus 1976, ini tetap bisa diandalkan PSS Sleman. Pada laga melawan Persiraja Banda Aceh (21/11) dia mencetak hattrick. Pada usia 42 tahun, dia masih mampu mencetak tiga gol dalam satu pertandingan. Fenomenal!

Tiga golnya berpengaruh besar bagi skuad Super Elang Jawa yang sore itu mengemban misi harus menang untuk mengamankan satu tiket ke semifinal Liga 2. Tentu beban berat ada di pundak para pemain.

Sebagai pemain berpengalaman, Crisgo tetap tenang. Baginya segenting apa pun situasi di lapangan mesti dihadapi dengan tenang. Dia sudah terbiasa dengan laga-laga penting dalam kariernya, baik di level klub maupun tim nasional.

Dan dia adalah energi penting bagi tim. Sosoknya menjadi penenang bagi kawan-kawannya. Penyelesai handal di depan kotak penalti. Golnya pada menit 12 meruntuhkan beban besar. Anak asuh Seto Nurdiantoro makin bisa menemukan keasyikan bermain setelah gol pertama disarangkan.

Gol pada menit 55 yang memperlebar jarak makin membuat semua elemen yang hadir lebih tenang. Suporter yang memadati stadion bersorak gembira. Lantunan lagu dukungan semakin menggema.

Ketenangan dan daya juang untuk segera memastikan langkah ke semifinal akhirnya disusul dengan gol tiga menit kemudian yang menjadi penanda hattricknya senja itu. Gol Dave Mustaine dan Aditya Putra Dewa akhirnya melengkapi kemenangan lima gol tanpa balas.

Kemenangan telak itu memastikan langkah ke semifinal dan itu berarti tinggal selangkah lagi PSS lolos ke Liga 1 jika berhasil mengalahkan Kalteng Putra pada pertandingan empat besar. Di sini, Gonzales akan kembali memainkan perannya.

Dia tetap akan jadi tumpuan coach Seto dalam dua laga semifinal. Dua pertandingan yang akan begitu penting karena ini jarak terdekat PSS dengan Liga 1 sejak target promosi ke divisi teratas dicanangkan lima tahun lalu.

Ada dua hal yang membuatnya bertahan di liga dalam kondisi terbaiknya hingga kini. Pertama, tentu saja insting predatornya sebagai penyerang. Dia sudah mencetak 12 gol (salah satunya melalui titik putih) dalam 16 pertandingan yang ia jalani sejak penyisihan grup hingga delapan besar.

Dia begitu tajam. Terbukti catatannya 2.58 tendangan di dalam kotak penalti, yang mana merupakan yang terbaik di skuad PSS. Akurasi tembakannya 53%. Masih cukup baik untuk kelas striker di Liga Indonesia.
Catatan impresifnya itu yang membuat I Made Wirahadi yang datang lebih dulu ke PSS awal musim ini dengan status penyerang yang membawa PSMS Medan meraih tiket promosi tersingkir. Wirahadi kini bermain di Kalteng dan akan saling berhadapan Minggu (25/11) nanti.

Sebagai penyerang utama, Gonzales begitu licin. Pandai mencari posisi. Golnya tidak selalu spektakuler, tapi cukup dengan tap in –gol dengan tendangan pelan dari jarak dekat tanpa dikawal pemain lawan—seperti dua golnya ke gawang Persiraja.

https://www.instagram.com/p/Bqb63PdBXCF/?utm_source=ig_web_copy_link

Gol pertama terlihat mudah tapi itu menunjukkan kematangannya sebagai penyerang. Bisa lolos dari kawalan pemain lawan dan mendapat posisi terbaik untuk menerima umpan dari rekannya.

Cara serupa dia lakukan untuk gol ketiganya.

https://www.instagram.com/p/BqcDYkth130/

Alasan kedua mengapa ia bisa bertahan hingga sekarang tentu saja kemampuannya menjaga stamina baik ketika sedang bermain maupun latihan. Dia bukan pemain yang akan terus menerus menambah porsi latihan. Yang paling penting baginya adalah menjaga kebugaran. Menghindari hal-hal yang membuatnya cedera.

Ketika bermain, dia lebih memilih mengandalkan pencarian posisi yang tepat dan tak lama memegang bola. Dengan begitu dia menghemat banyak tenaga. Sprint pendek hanya dilakukan sesekali ketika diperlukan.

Sederhananya, dia terlihat lebih malas, tapi tetap tajam. Dia juga tak mencetak gol di setiap pertandingan. Bisa terlihat sangat buruk dalam satu pertandingan, tapi bisa sangat bagus di pertandingan penting. Form is temporary, class is permanent!

Setelah sekian lama tidak melihat PSS punya pemain bintang yang berpengalaman dan bisa mengangkat moral tim, maka memiliki Cristian Gonzales adalah anugerah pada setiap senja yang hadir di Maguwoharjo.

Komentar
Joko Sembada

Menanti waktu untuk menikmati teh di beranda rumah bersamamu, dik...