Cerita

Daniel Roekito dan Indahnya Musim 2004-2005

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Selasa 8 Agustus 2017, PSS akan menghadapi Persibat Batang di pertandingan ke 11 Liga 2. Persibat datang dengan semangat baru, setelah mengumumkan Daniel Roekito sebagai pelatih barunya. Di bawah asuhan Daniel Roekito, Persibat belum terkalahkan di 3 pertandingan (2H1A).

Pertandingan ini terasa spesial, karena PSS tinggal membutuhkan 1 kemenangan untuk memastikan sebagai tim pertama yang lolos ke babak 16 besar. Lebih spesial karena PSS akan bertemu kembali dengan pelatih yang pernah membawanya ke puncak prestasinya di medio tahun 2000an. Dia adalah Daniel Roekito, pelatih yang menangani PSS di Divisi Utama musim 2004-2005. Saat itu PSS menduduki posisi 4 di klasemen akhir Divisi Utama, dan di tahun berikutnya PSS berhasil mencapai babak Semifinal Copa Indonesia.

Bagaimana kisah indah PSS dengan Daniel Roekito, mari kita simak bersama-sama.

Tanggal 24 Oktober 2003 PSS mengumumkan pelatih barunya untuk mengarungi kompetisi Divisi Utama X (Liga Bank Mandiri 2004). Pelatih yang terpilih adalah Daniel Roekito, dia terpilih setelah menyingkirkan beberapa kandidat lain seperti Yusack Sutanto, Rahmad Darmawan, Suimin Diharja, dan Muhammad Al Hadad. Coach Daniel saat itu menggantikan posisi Yudi Suryata, pelatih yang sebelumnya berhasil membawa PSS ke posisi 4 klasemen akhir DU IX (2003). Yudi Suryata yang sebenarnya masih ingin bertahan di PSS kehilangan kesabaran karena tidak kunjung dihubungi oleh manajemen. Selain itu, Yudi Suryata sudah dipinang oleh Persipura Jayapura yang ditinggal Rudy W Keltjes.

Daniel Roekito musim sebelumnya menangani klub di kota asalnya, PSIS Seramang. Kala itu Daniel Roekito mendapat tugas berat, yaitu menyamai prestasi musim sebelumnya, yaitu bertahan di papan atas klasemen akhir. Pertama yang dilakukannya adalah menyusun skuat untuk menghadapi kompetisi yang dimulai pada bulan Januari 2004. Daniel mempertahankan pemain-pemain terbaik PSS musim lalu, dan menambal beberapa posisi yang dirasa kurang.

Skuat PSS saat itu diantaranya adalah: Joice sorongan, Nugroho Andrianto, Anderson da Silva, M. Soleh, M. Ansori, Slamet Riyadi, Fajar Listiantoro, Yuniarato Budi, Bona Simanjuntak, Seto Nurdiantoro, Deca dos Santos (c) Marcello Braga , Ndolar Blaise, M. Eksan, Abdul Musafri (Magang), Busari (Magang). Nama-nama yang tentu tak asing untuk para pandemen PSS.

Tahun 2004 adalah masa dimana PSS kembali bermarkas di Stadion Tridadi, setelah sebelumnya menggunakan Mandala Krida. Singkat cerita, PSS mengalami musim yang menjanjikan. Permainan cepat dan ngotot sangat ditakuti oleh tim-tim lawan saat itu. Tidak hanya jago kandang, PSS pernah mencatat rekor 2x kemenangan away beruntun, yaitu saat mengalahkan Semen Padang 0-1, dan Persita Tangerang 1-2. Belum lagi saat PSS tour ke Jawa Timur dan berhasil menahan Deltras Sidoarjo, Persela Lamongan, dan secara mengejutkan mengalahkan calon juara Persebaya Surabaya (0-1) di Gelora 10 November.

Yang lebih impresif lagi adalah PSS mempunyai catatan kemenangan kandang yang sangat panjang. PSS menjadi tim dengan rentetan kemenangan terpanjang, dari awal kompetisi sampai di akhir-akhir kompetisi. Kekalahan pertama PSS dikandang kala itu diterima saat dipecundangi oleh PSPS Pekanbaru. Kekalahan dari PSPS ini sekaligus menghentikan rekor PSS. Kekalahan yang membuat PSS harus menyerah pada perebutan juara. Hal itu (kekalahan vs PSPS) juga berbuntut panjang. โ€œKononโ€ katanya beberapa pemain PSS terindikasi menerima suap sehingga bermain buruk di pertandingan tersebut. Akibatnya, trio pemain Brazil harus rela dicoret oleh tim pelatih.

Pada akhirnya dengan tangan dingin Daniel Roekito, PSS berhasil memenuhi target di awal musim: Mempertahankan posisi 4 di klasemen akhir Divisi Utama X. PSS berhasil mengemal 53 poin, hasil dari 14x kemenangan, 11x hasil seri, dan 9x kalah. Super Elja berada di bawah Persebaya Surabaya (juara), PSM Makassar, Persija Jakarta.

Klasemen akhir Liga Bank Mandiri 2004

Apiknya performa yang ditunjukkan PSS dan kreatifitas yang ditunjukkan Slemania membuat Daniel Roekito dan Slemania mendapatkan nominasi ANTV Sepakbola Awards untuk musim kompetisi 2004. Walau pada akhirnya Daniel Roekito harus mengakui keunggulan Jacksen F Tiago, yang membawa Persebaya Juara. Tetapi, publik Sleman tidak lantas tertunduk lesu. Slemania yang kala itu terkenal dengan slogan Bocah Edan Tapi Sopan berhasil menggondol predikat The Best Supoorter 2004. Slemania mengalahkan nama-nama besar seperti Viking dan Maz Man.

Berhasil mencapai target yang diberikan, Daniel Roekito kembali melatih PSS. Di musim keduanya bersama Super Elja, Daniel mendapatkan target yang lebih berat: Juara!

Namun ternyata musim 2005 (Liga Djarum 2005) tidak semulus yang dibayangkan. Ditinggalkan Trio Brazil, dan hanya menyisakan Anderson Da Silva membuat PSS kesulitan bersaing. Belum lagi krisis keuangan yang dialami PSS di musim tersebut. Berada di dasar klasemen di putaran pertama, membuat kursi pelatih panas. Daniel Roekito mengajukan surat pengunduran diri dari posisinya sebagai pelatih PSS Sleman. Kegagalan membawa Elang Jawa ke papan atas menjadi alasannya. Surat pengunduran ditolak oleh manajemen PSS dan Slemania, mereka ingin Daniel Roekito tetap berjuang bersama PSS Sleman.

Melalui perjuangan yang berat, akhirnya PSS merevisi targetnya: bertahan di Divisi Utama. Hal itu dilalui dengan proses yang sangat dramatis. PSS berhasil mengalahkan PSIS di Stadion Tridadi, sedangkan Deltras Sidoarjo dikalahkan oleh PSMS Medan. Dengan kemenangan atas PSIS, Super Elja puas menempati posisi 7 di klasemen akhir sekaligus mengamankan posisinya di Divisi Utama musim depan.

Terseok-seok di kompetisi, PSS mencatatkan torehan gemilang di Copa Indonesia 2005. Di babak 16 besar PSS berhasil mengalahkan Persita Tangerang, dan berhadapan dengan tim tangguh Persebaya di 8 besar. Keberuntungan bagi PSS, sebelum sempat saling berhadapan, Persebaya mendapatkan sanksi skorsing dari Komdis. Sanksi yang diberikan pada Persebaya berupa larangan bertanding selama dua tahun dalam kompetisi profesional.

Dengan begitu, bisa dikatakan bahwa PSS berhasil melaju ke 4 besar Copa Indonesia tanpa perlu berkeringat. PSS akan berhadapan dengan Arema Malang (saat itu belum bernama Arema Cronus atau Arema Indonesia) di Semifinal. Sebelum menghadapi Arema, PSS dihadapkan pada masalah lainnya: selesainya kontrak para pemain dan pelatih.

Daniel Roekito sendiri memilih untuk tidak memperpanjang kontraknya sebelum PSS menghadapi Arema Malang. Daniel menerima pinangan dari Persik Kediri setelah Persik tidak memperpanjang lagi kontrak pelatih lamanya Fredy Muli.

Mengisi kekosongan kursi pelatih, PSS ditangani oleh Haryadi yang menjabat sebagai pelatih sementara. Dengan skuat seadanya, PSS menjadi bulan-bulanan Arema Malang. PSS menyerah 0-2 di Tridadi, dan dibantai 3-0 di Stadion Gajayana. Lebih menyedihkan lagi adalah PSS hanya mempunyai 2 pemain pengganti saat bertandang ke Bumi Arema.

Begitulah cerita singkat, bagaimana kisah Daniel Roekito bersama PSS Sleman. Dua musim yang bisa diibaratkan sebagai roller coaster, saat PSS pernah merasakan dinginnya papan atas dan panasnya dasar klasemen.

Selamat datang kembali Coach Daniel Roekito. Dulu (2006) saat kau datang ke Tridadi bersama Persik Kediri, kami berhasil mematahkan catatan tidak terkalahkan timmu. 11 tahun kemudian kau datang dengan catatan yang sama (tak terkalahkan di 3 pertandingan). Sudah siap membawa pulang hasil yang sama ?

Tulisan dioleh dari beberapa sumber: PSS-Sleman.co.id, Slemania.or.id, wikipedia.

Komentar
Ahmad Indra Pranata

Dokter muda yang mencintai sepakbola, bisa kamu hubungi di akun Twitter @mamas_ahmad