Cerita

Dave Mustaine: Saya ke Gresik Itu, Begini Ceritanya

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Perjumpaan Super Elja dengannya berawal dari sebuah laga pada ajang Piala Kemerdekaan tahun 2015. Saat itu, seorang gelandang stylish yang masih berseragam Persekap Pasuruan bermain apik ketika menghadapi PSS Sleman. Berselang beberapa bulan, ia bergabung bersama Super Elja dan baru saja mendapat kontrak baru untuk tetap menjadi salah satu tumpuan di lini tengah. Sleman Football berkesempatan menemuinya beberapa hari setelah laga final Liga 2 musim 2018. Ia adalah Dave Mustaine.

Bagaimana cerita awal karir menjadi pesepakbola?

Jadi saya awalnya di Diklat Salatiga sampai lulus SMA. Saya bareng Ega Rizky di Salatiga. Setelah itu, balik ke Sidoarjo di Deltras U-21. Lalu dari Deltras U-21 akan dinaikin ke senior. Tetapi ada konflik jadi saya tidak mau. Lalu, saya keluar dari Sidoarjo dan karena itu nama saya terkena blacklist sampai sekarang. Saya bergabung dengan Persekap Pasuruan dari 2010 sekitar tiga tahun kalau tidak salah, sampai 2014. Akhirnya, yang sepakbola tidak jadi itu (tahun 2015 saat PSSI terkena sanksi FIFA, red.).

Lalu, saya ke Persebaya ISL (sekarang Bhayangkara FC, red.). Di Persebaya saya kalah bersaing karena banyak pemain timnas U-19 saat itu. Setelah itu saya balik lagi ke Pasuruan. Kemudian saya coba peruntungan di Bali United. Di Bali tidak dapat, saya muter-muter sampai akhirnya saya baru ke Sleman. Saya bergabung ke Sleman juga akhir-akhir saat ISC sudah hampir mulai.

Ketika itu status di Persebaya ISL dan Bali United apa?

Kalau yang di Persebaya sudah teken kontrak. Tetapi, setelah itu, diputus kontrak. Kalau di Bali, saya trial. Saya awalnya menunggu. Tetapi, menunggu kok terlalu lama. Akhirnya, saya tanya ke pihak Bali. Setelah saya tanya, lalu diberi keputusan. Akhirnya saya pergi.

Setelah dari Persebaya ISL dan Bali United, mengapa saat itu mau bergabung dengan PSS Sleman?

Sleman termasuk tim besar. Siapa yang tidak mau ke Sleman. Basis suporternya juga bagus. Ketika itu, dengar-dengar dari teman-teman juga manajemennya juga bagus. Pasti semua bakal mau kalau ke Sleman.

Tetapi mengapa dulu sempat pindah ke Persegres Gresik?

Saya ke Gresik itu, begini ceritanya. Setiap individu pemain pasti ingin main di liga teratas. Saat itu kebetulan ada tawaran dari Gresik. Kebetulan juga dekat dari rumah di Sidoarjo. Saya koordinasi dengan orang tua. “Bagaimana ini enaknya. Kalau memang kamu ingin ke Liga 1, silakan”, kata mereka. Saya coba ke Liga 1. Tetapi di Gresik agak bagaimana begitu. Lalu akhirnya, Sleman masih mau memakai jasa saya. Saya pikir dua kali, ujung-ujungnya saya keluar dari Gresik lalu kembali lagi ke Sleman.

Memangnya ada apa di Gresik?

Manajemennya mungkin. Lingkungannya juga. Kalau di Sleman lingkungan sepakbolanya sudah nyaman.

Ketika berseragam Persegres Gresik sempat melawan PSS Sleman di Piala Presiden, bagaimana rasanya?

Istilahnya pulang ke rumah kedua. Kasarannya seperti itu. Tetapi mau tidak mau harus dihadapi. Yang namanya disoraki suporter, diteror suporter, itu bagian dari bermain sepakbola. Mau tidak mau harus dirasakan.

Banyak kritikan dari suporter muncul saat awal-awal kembali ke Sleman karena performa yang menurun, bagaimana tanggapannya?

Kritikan itu, kritikan membangun. Bisa dijadikan motivasi tersendiri. Mungkin memang setelah saya awal di ISC penampilan seperti itu, lalu saya pergi ke Gresik, kemudian kembali lagi ke Sleman, mungkin harapannya suporter bisa seperti saat ISC. Satu hal yang perlu diketahui karena satu beda pelatih pasti beda karakter. Kemauan pelatih seperti apa, kita harus mengikuti pelatih. Menit bermain juga berpengaruh. Istilahnya butuh jam terbang. Kalau jam terbang kurang itu juga memengaruhi.

Kalau musim ini, sepertinya keluhan dari suporter untuk tim sering muncul saat babak 8 besar. Bagaimana cara mengatasi tekanan tersebut?

Saat itu terasa juga tuntutan dari suporter. Piye, Man, ngene ngene ngene. Tetapi kita optimis aja. Kita punya dua laga kandang dan kita pasti bisa ambil poin penuh dengan semangatnya anak-anak. Kalau yang dia pikir panjang pasti menerima keadaan kita saat itu (menjadi juru kunci). Tetapi kalau yang inginnya menang dan menang dan menang itu yang susah.

Sebenarnya kondisi pemain saat itu bagaimana?

Mungkin kita tidak diuntungkan jadwal pertandingan di putaran pertama. Karena saat itu kita seharusnya laga pertama home melawan Persita, lalu akhirnya kita away. Saat kita dua kali di posisi terbawah itu pelatih istilahnya sebisa mungkin bagaimana caranya memicu semangat anak-anak. Di situ anak-anak juga punya komitmen yang kuat untuk membawa PSS ini bisa lolos.

Beban terberat di babak 8 besar saat laga melawan apa?

Bebannya lebih berat saat home melawan Madura FC karena kita dua kali di penyisihan kalah. Lalu, Madura juga punya pelatih yang istilahnya kuat di fisik. Coach Salahudin itu terkenal fisiknya kuat. Apalagi di kandang, kita diharuskan menang. Kita juga sudah berusaha semaksimal mungkin saat itu.

Pertandingan apa yang paling berkesan musim ini?

Di Balikpapan dan final kemarin. Sebelum di Balikpapan, kita tidak pernah bermain seperti itu. Kita bisa menang. Kita bermain bagus dan juga bermain cantik.

Ketika bertandang ke Persegres Gresik bagaimana rasanya, berkesan juga?

Biasa aja. Ha ha ha. Lebih mengena saat kembali ke sini (Sleman) ketika masih bermain bersama Gresik.

Menjadi Man of The Match di pertandingan final berkesan atau tidak?

Saya malah tidak terpikirkan ketika itu. Lah, man of the match. Perasaan, saya mainnya juga biasa-biasa aja, tidak ada yang istimewa. Mungkin karena sudah rejekinya.

Komentar
Andhika Gilang

Perintis @tapakbola. Dapat dihubungi secara personal melalui akun @AndhikaGila_ng

Comments are closed.