Berita

Denda-Denda yang Mengintai

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Kick Off Liga 2 tinggal menyisakan beberapa hari lagi, dengan pertandingan Persis Solo vs Semen Padang sebagai partai pembuka. Dengan mulainya kompetisi Liga 2, diharapkan menjadi hiburan bagi para pendukung tim yang menjadi peserta. Liga 2 tahun ini diikuti oleh 24 tim dari ujung barat sampai ujung timur Indonesia. Menjadikannya sebagai hiburan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Di dalam sebuah kompetisi, terdapat banyak aspek-aspek yang terlibat dan semuanya diatur oleh penyelenggara kompetisi. Peraturan yang dimaksud mencakup tim, wasit, infrastruktur, panpel, suporter, juga pada tentang denda.

Pada tulisan kali ini, kami ingin memberikan penyegaran kepada seluruh Sleman Fans tentang hal-hal yang tidak diperbolehkan terjadi pada saat pertandingan berlangsung; plus ancaman denda yang mengintai. Kami merasa ini perlu dan penting, karena kami melihat pada match terakhir (PSS vs PSIR), masih banyak pelanggaran-pelanggaran yang terjadi. Jika pelanggaran tersebut terjadi pada saat kompetisi, tentu akan merugikan PSS Sleman.

Disadur dari Kode Disiplin PSSI 2018, terdapat satu bagian khusus yang mengatus sanksi tentang tingkah laku buruk penonton. Bagian ini dibagi ke dalam beberapa poin yaitu: kekerasan terhadap orang atau obyek tertentu, penggunaan benda yang mengandung api (kembang api, smoke bomb, flare), penggunaan laser, pelemparan misil (botol minum, batu, gelas plastik, kombinasi), menampilkan slogan yang berbau SARA atau politis, menggunakan kata-kata yang mengandung hinaan, dan memasuki lapangan tanpa izin.

Kekerasan kepada orang atau obyek tertentu yang dimaksud adalah adanya tingkah buruk penonton yang melibatkan orang lain atau obyek. Misalnya adalah terjadi tawuran antar suporter di saat pertandingan berlangsung, atau ada penonton yang masuk ke lapangan dan memukul wasit atau perangkat pertandingan lainnya. Jika hal ini terjadi, PSSI menyatakan bahwa sanksi yang didapat tergantung dari akibat yang ditimbulkan/beratnya pelanggaran. Dalam artian, sanksi akan ditentukan dalam rapat komite disiplin. Namun yang pasti, semakin parah akibat yang ditimbulkan, maka sanksi yang diterima klub juga akan semakin besar.

Penggunaan benda yang mengandung api ini adalah pelanggaran yang masih sering terjadi. Kurangnya kontrol individu dan kelompok membuat barang-barang seperti kembang api, flare, dan smoke bomb masih sering bisa masuk ke dalam stadion. Sanksi yang ditetapkan oleh PSSI juga tidak main-main, menjadi sanksi yang paling besar dibanding poin lainnya. Disebutkan bahwa jika ditemukan satu kali penyalaan, maka denda adalah Rp50.000.000 (lima puluh juta rupiah. Jika ditemukan 2 hingga 5 kali penyalaan, denda sebesar Rp100.000.000 (seratus juta rupiah). Jika penyalaan di atas 5 kali, denda yang diterima adalah sebesar Rp200.000.000 (dua ratus juta rupiah).

Membawa laser atau alat penyorot ke dalam stadion juga dilarang. Disebutkan denda sebesar Rp20.000.000 (dua puluh juta rupiah) akan dibebankan kepada tim yang penontonnya membawa laser dan mengarahkannya ke dalam lapangan (dalam arti mengganggu jalannya pertandingan).

Pelemparan misil atau benda-benda yang tidak seharusnya ke dalam stadion, merupakan yang paling sering terjadi di Sepak Bola Indonesia. Botol minum, sepatu, sandal, roll paper, keramik, adalah contoh yang sering ditemukan. PSSI dalam Kode Disiplin, telah merinci jenis pelanggaran dan sanksi yang diberikan sebagai berikut:

  • Botol air minum terisi: denda sebesar Rp50.000.000 (lima puluh juta rupiah)
  • Botol air minum kosong: denda sebesar Rp30.000.000 (tiga puluh juta rupiah)
  • Batu atau benda keras: denda sebesar Rp50.000.000 (lima puluh juta rupiah)
  • Gelas plastik atau kertas (roll paper): denda sebesar Rp20.000.000 (dua puluh juta rupiah)
  • Kombinasi benda-benda di atas: denda sebesar Rp50.000.000 (lima puluh juta rupiah)

Selanjutnya, adalah denda yang berkaitan dengan isu SARA dan Politik. PSSI dengan tegas melarang sepak bola indonesia dicampur adukkan dengan isu-isu tersebut (mengesampingkan kasus ketua non aktifnya saat ini). Pesan-pesan tersebut dilarang ditampilan dalam bentuk spanduk, bendera, koreo, atau sejenisnya. Jika melanggar, maka denda yang diberikan adalah sebesar Rp. 20.000.000 (dua puluh juta rupiah) per obyek dengan maksimal 5 obyek.

Chant-chant rasis, bernada menghina dan melecehkan juga dilarang selama pertandingan berlangsung. Komite Disiplin akan menjatuhkan denda tergantung dari akibat yang ditimbulkan atau beratnya pelanggaran.

Terakhir, adalah masuknya penonton ke dalam lapangan pertandingan selama pertandingan berlangsung. Karena pada hakikatnya, sebuah pertandingan harus steril dari orang-orang yang tidak berkepentingan di atas lapangan hijau. Denda yang diberikan adalah sebesar Rp30.000.000 (tiga puluh juta rupiah) untuk satu orang yang memasuki lapangan. Jika ada dua sampai lima orang yang masuk lapangan, denda yang diberikan sebesar Rp50.000.000 (lima puluh juta rupiah). Ketika orang yang masuk ke lapangan lebih banyak lagi, maka Komite Disiplin akan menjatuhkan denda tergantung dari akibat yang ditimbulkan atau beratnya pelanggaran.

Itulah beberapa poin pelanggaran yang akan dijatuhkan kepada panpel atau tim ketika terjadi pelanggaran dari pihak penonton. Kami mengajak Sleman Fans untuk mentaati peraturan-peraturan tersebut sehingga tidak membuat PSS rugi. Karena sejatinya, PSS membutuhkan dukungan positif dari Sleman Fans. Bukan dukungan yang malah menjadikan beban untuk PSS Sleman. Mari kita mulai dari diri kita sendiri, kemudian ingatkan samping kanan kiri jika ada sesama Sleman Fans yang hendak melakukan tindakan yang merugikan.

Komentar
Ahmad Indra Pranata

Dokter muda yang mencintai sepakbola, bisa kamu hubungi di akun Twitter @mamas_ahmad