Cerita

Deretan Mantan Bek Sayap PSS Sleman

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Belum adanya sosok fullback yang greget musim ini, membuat penulis sedikit ingat perjalan PSS Sleman ke belakang. Meskipun prestasinya sering kali mengalami inkonsistensi, nyatanya Super Elja memiliki banyak sekali pemain-pemain bagus nan berbakat. Tak terkecuali posisi bek sayap.

Bahkan ada beberapa diantara mereka mampu bersaing dengan pemain-pemain kasta tertinggi sepakbola Indonesia. Tak jarang kemudian mereka harus berpisah dan bergabung dengan klub-klub besar lain. Anda akan penulis ajak untuk kembali mengingat bagaimana aksi pemain-pemain ini merumput bersama PSS Sleman.

Persiapkan diri Anda untuk tidak bisa lepas dari bayang-bayang masa lalu.

M. Ansori

Legenda sepakbola DIY yang satu ini menjadi saksi kejayaan Super Elang Jawa di kancah Liga Bank Mandiri. Ia turut membawa PSS Sleman menapaki posisi ke-4 klasemen  Liga Bank Mandiri era pelatih Yudi Suryata dan  Daniel Roekito.  Posisinya sebagai bek kanan pun tidak tergantikan. Pemain asli bumi Sembada ini dikenal disiplin dan modern pada zamannya. Ia dikenal cukup cakap membantu penyerangan dan memberikan umpan manja kepada M. Eksan ataupun Seto Nurdiantoro.

M. Ansori juga dikenal memiliki tendangan bebas yang keras ala Roberto Carlos. Beberapa kali ia kerap membahayakan gawang lawan atau bahkan mencetak gol dari situasi ini. Salah satu prestasi pemain pemilik nomor punggung 26 di PSS ini adalah membawa PSS naik ke kasta tertinggi Divisi Utama,  menjadi pemain terbaik  pilihan Slemania tahun 2005 dan sempat menjuarai kompetisi Divisi Utama bersama Persiba Bantul.

Kini, pemain yang memiliki julukan “Bagong” ini telah menjalani masa pensiun sebagai pesepakbola profesional dan menikmati hidup sebagai suami dan ayah bagi putra putrinya.

Slamet Riyadi

Pemain yang satu ini juga satu  angkatan dengan M. Ansori dkk yang mengantarkan Super Elja naik ke kasta tertinggi Divisi Utama kala itu. Pemain ini dikenal memiliki lari yang cepat juga lincah. Tak hanya cakap dalam bertahan, ia juga sering membantu penyerangan. Ia menyisir lini sebelah kiri lapangan PSS Sleman dan berseberangan dengan M. Ansori.

Tak jarang ia juga tampil sebagai penyelamat tim kala itu dengan mampu menyalamatkan PSS  dari ambang  kekalahan atas PSM Makassar menjadi 1-1 setelah Sebelunya tertinggal dengan kedudukan 1-0 lewat Gol Cristian Gonzales pada kompetisi Liga Bank Mandiri 2003/2004. Dulu, di posisi ini Slamet bersaing dengan Legenda Persib Bandung Suwita Patha.

Wahyu Gunawan

Wahyu Gunawan adalah sosok senior dan tak tergantikan di posisi bek kiri Super Elja saat itu. Pemain kelahiran 10 November 1985 ini memilik gaya permainan yang lugas membuat pemain lawan sulit menembus jantung pertahanan PSS lewat sisi sayap. Hal ini membuat Deny Rumba harus rela menjadi pelapis sang pemilik nomor punggung 19.

Pemain yang akrab disapa “Cak Gun” ini juga dikenal dingin dalam eksekusi penalti. Selama penulis menonton, ia tak pernah gagal mengeksekusi penalti. Yang paling fenomenal adalah tendangan penaltinya yang mengantarkan PSS Sleman merahaih gelar juara Divisi Utama LPIS 2013. 

Ia juga pernah merasakan tangan dingin Herry Kiswanto pada musim kompetisi Divisi Utama 2014. Terakhir Cak Gun melanjutkan karir profesionalnya bersama Lampung Sakti besutan Coach Nova Arianto di kompetisi Liga 2.

Rasmoyo

Sosok pemain senior ini malang melintang di kancah persepakbolaan Indonesia. Berbagai klub-klub besar di negeri ini pernah ia bela. Pemain kelahiran 18 Juni 1978 ini bergabung dengan PSS Sleman pada kompetisi Divisi Utama 2014. Perawakannya yang cukup kurus membuatnya memiliki kecepatan sprint yang oke punya meski usianya tak lagi muda. Ia sering sekali membantu penyerangan dan mengajak adu sprint pemain lawan.

Di barisan pertahanan peranannya menggalang lini pertahanan tak tergantikan bersama Waluyo dan kolega. Karir Rasmoyo bersama PSS harus usai harus ketika tersisih pada awal musim kompetisi di tahun 2016 karena performanya yang mulai menurun dan kondisi cedera lututnya yang membutuhkan waktu panjang untuk pemulihan. Posisinya kemudian digantikan oleh pemain muda belia asli Sleman, Rama Yoga.

M. Bagus Nirwanto

Di era kepelatihan Freddy Mulli, penampilan Bagus Nirwanto cukup menjanjikan. Bagus memiliki ketenangan dan kedisiplinan saat bertahan. Saat pemain sayap PSS mengalami kebuntuan, Bagus sering melakukan overlapping yang kemudian memberikan crossing-crossing yang cukup akurat. Pemain kelahiran 23 Maret 1993 ini selalu dipercaya Don Freddy bermain selama 90 menit.

Pemain yang akrab disapa “Munyeng” ini juga memiliki kemampuan pressing lawan yang baik. Ia acap kali menjadi pemutus serangan balik lawan melalui sayap ketika build-up play PSS Sleman gagal. Ketika Bagus Nirwanto naik, posisinya diback-up oleh duet Waluyo-Jodi Kustiawan dan kemampuan bertahan Arie Sandy. Ia juga sempat mencetak gol dan membawa PSS menang atas  Persibat Batang dan memastikan langkahnya di 16 besar Liga 2.

Bagus Nirwanto harus berpisah pada akhir kompetisi Liga 2 dan memilih kembali merumput bersama tim Pesut Etam.

Nah, itu dia mantan pemain PSS Sleman yang berposisi sebagai bek sayap paling memorable versi penulis. Tentunya mereka sangat berkontribusi besar pada sepak terjang PSS Sleman mengarungi kompetisi. Mereka besar pada masanya masing-masing.

Semoga ke depannya Super Elja bisa kembali ke kompetisi tertinggi lewat determinasi semua pemain di berbagai posisinya. Kalau Anda memiliki punya pemain favorit lain di posisi bek sayap tersebut silakan berdiskusi dibagian kolom komentar.

Salam Super Elja !

Komentar
Awaludin

Masih menimba ilmu di UIN Sunan Kalijaga dan masih akan terus mencintai PSS. Bisa dihubungi via akun Twitter @al_arif14