Analisis

Dilema di Lini Tengah PSS

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Liga 2 telah memasuki fase perempat final. Delapan klub terbaik dari babak penyisihan sudah terpilih dan bersiap untuk kembali berkompetisi untuk memperebutkan 3 tiket ke Liga 1 tahun depan.

Untuk menghadapi babak ini, PT LIB kembali membuka jendela transfer dan mepersilakan setiap tim yang lolos untuk menambah pemain.

PSS termasuk salah satu tim yang sangat aktif di bursa transfer babak 8 besar ini. Tercatat, ada pemain baru yang didatangkan tim pelatih PSS. Dari 7 pemain itu, jika dijabarkan berdasarkan posisi, maka ada 3 pemain belakang, 2 pemain tengah, dan 2 pemain depan.

Dilihat dari kedalam skuat yang ada dan adanya tambahan 2 pemain tengah maka total ada 9 pemain tengah yang dimiliki oleh PSS. Mereka adalah: Arie Sandy, Wahyu Sukarta, Dave Mustaine, Ilhamul Irhaz, Ichsan Pratama, Amarzukih, Taufiq F, Busari, dan Hendika Arga. Pada akhirnya Arga memilih untuk mengundurkan diri dari tim sehingga saat ini ada 8 pemain tengah dalam skuat PSS.

Dengan adanya 8 pemain tengah ini, tentu banyak yang berpikir bahwa PSS memiliki stok gelandang yang sangat gemuk. Terutama melihat fakta bahwa skuat ini hanya akan dipakai selama 8 pertandingan untuk mengarungi babak perempat final sampai final (jika PSS sampai ke babak final).

Hal ini juga diakui oleh Seto, namun dia menanggapi skuat gemuknya dengan nada positif. Dalam salah satu wawancara, dia mengatakan bahwa recovery antar pertandingan akan sangat singkat dan dia membutuhkan banyak pemain untuk melakukan rotasi.

“Mengingat recovery antar pertandingan pendek. Jika pun melakukan rotasi kami punya banyak pilihan.” Ujarnya.

Tampaknya Seto sudah memiliki bayangan akan menjalankan skema seperti apa di babak 8 besar, terutama di sektor tengahnya.

Pada artikel kali ini, kita akan mencoba melakukan pembedahan lini tengah Super Elja, dan memprediksi siapa yang akan menjadi starter di lini tengah PSS di babak 8 besar.

Pertama, kita pisahkan gelandang PSS dalam 2 tipe: bertahan dan menyerang. Secara umum, gelandang akan mempunyai karakter permainan yang lebih dominan dalam menyerang atau bertahan.

Sekali lagi, ini hanya pemisahan kategori yang sederhana, karena atribut seorang pemain tidak sesederhana itu (bertahan dan menyerang).

Amarzukih, Arie Sandy, Taufiq, Wahyu Sukarta, dan Busari adalah gelandang yang bertipe bertahan. Dalam skema yang sering dimainkan Seto, pemain ini akan mengisi pos gelandang bertahan.

Ichsan Pratama, Dave Mustaine, dan Ilhamul Irhaz adalah gelandang yang beratribut menyerang. Zona bermainnya lebih sering berada di area pertahanan lawan. Selama putaran pertama, ada Dave dan Ichsan Pratama yang selalu mengisi posisi ini. Di putaran kedua, ketika Dave Mustaine cedera, Seto dibuat pusing untuk mencari penggantinya.

Saat itu Ilhamul Irhaz belum bisa menutup lubang yang ditinggalkan Dave dengan optimal. Pada beberapa pertandingan, bahkan Seto sempat memercayakan posisi ini kepada Taufiq, walaupun hasilnya masih jauh dari kata memuaskan.

Dari gelandang yang ada, hanya Ichsan yang selalu bermain apik ketika ditugaskan dalam hal membantu penyerangan. Hal ini dibuktikan dengan tak pernah absennya Ichsan Pratama dari starting line up.

Ichsan Pratama, Si Penjelajah Ruang Antarlini

Jika Seto masih menggunakan skema yang sama seperti di babak penyisihan, hadirnya Hendika Arga ke dalam skuat Super Elja akan melengkapi sebuah bagian puzzle yang hilang. Hendika akan mengisi posisi yang selama ini ditinggalkan Dave ketika dia cedera.

Hal ini juga mengantisipasi kemungkinan Dave yang belum kembali ke top form nya selepas cedera panjang. Namun kenyataan bahwa Arga mengundurkan dari tim membuat Seto harus berpikir keras untuk mencari komposisi yang pas di lini tengah.

Di gelandang bertahan, ada satu nama yang menurut saya akan paten ditempatkan di posisi DMF. Dia adalah Amarzukih yang bermain solid di sepanjang putaran kedua. Sebelumnya, Amarzukih diduetkan dengan Arie Sandy atau Taufiq F untuk membentuk pivot ganda. Namun 2 nama terakhir tersebut tidak maksimal ketika ditugaskan membantu serangan.

Arie Sandy tidak terlalu baik dalam mengirimkan umpan secara vertikal. Sedangkan Taufiq terlalu grusa grusu sehingga sering kehilangan bola dan salah umpan.

Untuk Arie Sandy, walaupun dia adalah salah satu pemain terbaik PSS di babak penyisihan, saya prediksi perannya akan sedikit berkurang di babak 8 besar. Hal ini karena datangnya Busari, dan di lini belakang dia juga harus bersaing dengan duo Persis Solo yang baru saja didatangkan.

Hadirnya Busari adalah jawaban jika Seto ingin kembali memainkan pivot ganda di lini tengah. Mundur 2 tahun ke belakang, saat PSS bermain di ISC B Seto sering memainkan 4-2-3-1. Saat itu Seto menduetkan Busari dengan Dirga Lasut. Busari adalah gelandang yang memiliki visi bermain bagus, yang ditugaskan oleh Seto untuk menjadi gelandang bertahan sekaligus pemain yang memulai build up serangan dari belakang.

Namun, jika dilihat dari pertandingan terakhir melawan Persita, Busari harus memperbaiki performanya di lapangan tengah. Tugasnya sebagai pembagi bola, mengirimkan umpan diagonal ke sisi sayap. Tugas itu diperankan dengan baik, namun ada satu hal penting yang belum bisa dia tunjukkan. Belum terlihat chemistry antara Busari dengan Ichsan, yang kemudian membuat Ichsan tidak bisa tampil maksimal dalam proses serangan PSS.

Busari sendiri mengatakan bahwa dia lebih nyaman ditempatkan di posisi gelandang bertahan dibandingkan dengan gelandang serang. Pengalamannya bermain di bawah asuhan Seto tentu sangat berpengaruh dalam pemahamannya terhadap tugas yang harus dia perankan.

Walaupun begitu, ketika dilihat di babak kedua pertandingan lawan Persita, Busari tidak bisa memerankan fungsinya dengan gelandang bertahan dengan baik. Hal ini karena Busari harus memainkan gelandang bertahan tunggal, bukan pivot ganda seperti babak pertama. Busari tampil buruk ketika harus membantu pertahanan, ketika serangan PSS patah Busari sering terlambat untuk turun melakukan cover di area tengah.

Kerapatan di lini tengah yang bagus di babak pertama tidak lagi terlihat. Jarak antara Busari dengan Dave dan Ichsan terlalu jauh. Ini membuat sistem “penyaringan” yang selama ini diperankan Amarzukih atau Arie Sandy tidak berjalan baik. Beruntung Persita tidak bisa memanfaatkan hal ini untuk menambah keunggulan di sepanjang babak kedua.

Walaupun Busari adalah pemain “lama” di PSS, untuk saat ini dia harus segera menyesuaikan diri dengan pemain PSS lainnya. Terutama dengan Ichsan Pratama, hal ini karena Ichsan adalah pemain terbaik PSS di lini tengah. Seto pun harus segera menemukan jalan keluar untuk segera memadukan keduanya. Jika tidak, Seto punya pilihan untuk menurunkan Dave Mustaine untuk mendampingi Ichsan, seperti di putaran pertama babak penyisihan.

Pada akhirnya, menurut saya ada 2 pemain tengah yang harus berada di starting line up. Mereka adalah Amarzukih dan Ichsan Pratama. Keduanya adalah Ying and Yang di lini tengah, pemilik keseimbangan bertahan dan menyerang yang ekuivalen. Namun begitu, sesuai dengan pernyataan Seto, pemilihan pemain di lini tengah bisa disesuaikan dengan tim yang akan dihadapi.

Menghadapi tim yang kuat di lini tengah, mungkin memasang duet Amarzukih dan Busari sebagai pivot ganda bisa menjadi pilihan. Dalam keadaan ekstrim, ketika PSS menghendaki full defense, bisa dimainkan duet Amarzukih dan Arie Sandy.

Sebaliknya, ketika PSS ingin memainkan permainan menyerang, Seto bisa menerapkan formasi 4-3-3 dan langsung menurunkan 3 gelandang dengan atribut menyerang. Posisi Amarzukih bisa digantikan oleh Busari yang lebih baik dalam urusan menyerang, untuk 2 gelandang lainnya  adalah Ichsan dan Dave (atau Irhaz). Kasus ini bisa dilihat di 30 menit terakhir babak kedua Persita vs PSS kemarin. Busari – Ichsan – Dave di lini tengah menopang Gonzales – Budi – Qischil di lini serang.

Jika PSS menginginkan memasang 5 gelandang sekaligus, bisa mencoba bermain dengan skema 4-5-1. Amarzukih dan Busari (atau Arie Sandy) bisa dipasang di posisi gelandang bertahan, Ichsan dan Busari (atau Irhaz) mengisi posisi half space, dan Dave ditugaskan untuk mengisi posisi di belakang striker. Untuk sayap, bisa diserahkan kepada kedua bek sayap yang bisa diperankan sebagai wingback.

Namun agaknya skema tersebut sangat sulit diterapkan jika melihat track record PSS. Di babak penyisihan, lini sayap PSS adalah yang paling moncer dalam urusan mencetak gol. Jika PSS harus mengorbankan pemain sayapnya hanya untuk mengakomodir pemain tengahnya, maka itu adalah keputusan yang kurang tepat.

Itulah beberapa opsi yang mungkin bisa diambil oleh coach Seto untuk mengisi lini tengahnya. Walau begitu, keputusan tertinggi tetap ada di tangan pelatih. Dengan skuat yang ada, target promosi ke Liga 1 seharusnya bisa terealisasikan pada tahun ini.

Komentar
Ahmad Indra Pranata

Dokter muda yang mencintai sepakbola, bisa kamu hubungi di akun Twitter @mamas_ahmad