Opini

Dilema yang Berujung Petaka

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Ini adalah kelanjutan dari tulisan saya sebelumnya.

Dilema di Lini Tengah PSS

Memang saat itu Seto sedang dalam kondisi dilema yang bahagia. Betapa bahagianya seorang pelatih memiliki 8 stok pemain tengah dengan berbagai macam tipe. Seto bisa menyesuaikan siapa pemain yang diturunkan berdasarkan tim yang dilawan atau bagaimana kondisi tim di lapangan.

Sebuah dilema dalam artian positif yang membuat para pendukung PSS begitu yakin untuk naik kasta pada musim ini.

Walau begitu, sebuah kalimat yang mengatakan “Allah maha membolak-balikkan keadaan” begitu terasa dalam kondisi PSS saat itu. Bagaimana nasib semua ciptaannya bisa dengan mudah berbalik 180 derajat.

Semua bermula ketika PSS mengumumkan 7 rekrutan terbarunya untuk menghadapi babak 8 besar. Ada 2 nama gelandang tengah yang diproyeksikan Seto menambal lubang lini tengah: Busari dan Hendika Arga. Dua nama dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Jika digabungkan dengan para pemain lama, mungkin saat itu lini tengah PSS adalah yang paling komplit dibandingkan kontestan yang lain. Sekali lagi, membuat harapan untuk promosi membumbung tinggi.

“Kun Fayakun!”

“Jadilah, maka terjadilah ia”

Beberapa hari setelah jendela transfer 8 besar ditutup, kejadian pertama muncul. Hendika Arga memutuskan untuk pensiun dini karena hal yang tidak dia jelaskan. Hal yang tentu saja sangat disayangkan karena di diproyeksikan untuk bersaing dengan Ichsan Pratama di posisi gelandang serang. Tapi tenang, masih ada 7 gelandang lain yang bisa silih berganti mengisi lini tengah.

Berikutnya, sehari menjelang keberangkatan ke Tangerang untuk menghadapi Persita, ada info bahwa Arie Sandy mengalami cedera saat latihan terakhir. Pihak pelatih memutuskan tidak membawanya ke Tangerang dan menggantikannya dengan Taufiq.

Tenang, mungkin hanya cidera biasa, mungkin besok lawan Persiraja juga sudah bisa main lagi. Mungkin itu adalah pikiran para Sleman Fans, termasuk saya, ketika mendengar berita tersebut.

Dalam pertandingan melawan Persita, Dave yang dimasukkan di babak kedua mendapatkan kartu kuning untuk sebuah pelanggaran yang sepele. Hal itu membuatnya harus absen di pertandingan lawan Persiraja. Ini membuat lini tengah PSS makin megap-megap ditinggal pemain andalannya.

Tapi tenang, pikir Sleman Fans saat itu. Arie Sandy bisa disusulkan ke Aceh untuk menutup pos yang ditinggalkan Dave. Namun, semudah membalikkan telapak tangan, ada berita dari akun resmi klub yang mengatakan bahwa Arie Sandy mengalami cedera ACL dan memaksanya harus absen sampai akhir kompetisi.

Rasa optimis yang beberapa minggu lalu membumbung, mungkin mulai sirna seiring dengan terkikisnya lini tengah PSS. Dengan hilangnya Hendika, Arie Sandy, dan Dave, membuat pilihan lini tengah PSS kala bertandang ke Aceh makin sedikit. Seto pun memilih membawa Busari, Taufiq, dan Irhaz (selain Amarzukih dan Ichsan yang memang tidak tergantikan).

Ya, mungkin dengan lini tengah ini PSS bisa mencuri poin di Aceh. Ditambah saat itu PSS bermain meyakinkan di babak pertama. Sekali lagi, mungkin itulah pemikiran Sleman Fans yang selalu dipenuhi oleh rasa optimisme.

Namun, penampilan di babak kedua (vs Persiraja) membuat kita kembali harus geleng-geleng kepala. Busari yang didapuk menjadi kapten tim bermain buruk dalam penjagaan area lini tengah sepanjang babak kedua. Membuat Amarzukih berjuang sendiri sebagai filter serangan lawan.

Busari tampak kelelahan memasuki pertengahan babak kedua, membuatnya tidak maksimal saat bertahan maupun menyerang. Amarzukih yang berjuang sendirian di belakang juga tidak bisa berbuat banyak ketika digempur terus menerus oleh para pemain lawan. Tak bisa dipungkiri, lini tengah PSS menjadi bulan-bulanan pemain Persiraja sore itu.

Dengan kondisi yang seperti ini, lini tengah PSS seakan berubah dari dilema menjadi bencana. Jika permainan di Aceh selalu ditampilkan oleh PSS sepanjang babak 8 besar ini, saya rasa akan sulit untuk PSS bisa mencapai babak semifinal.

Yang kita harapkan adalah semoga Amarzukih dan Ichsan selalu diberikan kebugaran dan fit untuk bisa bermain di laga sisa. Keduanya, sekali lagi, adalah pemain yang tidak tergantikan dan menjadi roh di lini tengah PSS.

Mari kita berdoa supaya hal-hal buruk yang terjadi di skuat PSS tidak terjadi lagi dan bisa segera memukan titik terangnya.

Semoga Seto bisa segera menemukan formula yang pas untuk meracik lini tengahnya. Setidaknya, dia bisa memilih pemain terbaik dari yang ada. Mengubah yang ada menjadi luar biasa, untuk Super Elja.

Komentar
Ahmad Indra Pranata

Dokter muda yang mencintai sepakbola, bisa kamu hubungi di akun Twitter @mamas_ahmad