Opini

Dirgahayu Kabupaten Sleman ke 102: Bhinneka Tunggal Elja!

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Sleman merupakan salah satu Kabupaten yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta.  Menurut Perda No. 12 Tahun 1998, tanggal 15 Mei Tahun 1916 (Senin Kliwon, 12 Rejeb Tahun 1846) ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Sleman. Hari ini, 15 Mei 2018, Kabupaten Sleman genap berusia 102 tahun.

Selama ini Sleman dikenal sebagai penghasil salak pondoh, buah khas yang menjadi buruan para pelancong yang singgah ke Kabupaten Sleman. Selain itu, nama Sleman sering disebut ketika Gunung Merapi sedang aktif dan mengeluarkan lahar yang dikenal dengan “Wedhus Gembel”. Pada 2010, semua mata kembali tertuju ke Sleman, khususnya kepada  Mbah Maridjan. Sebuah kisah tentang loyalitas, yang membuat sebagian Indonesia meneladani beliau.

Kabupaten Sleman juga dikenal memiliki puluhan Perguruan Tinggi (secara wilayah berada di Kabupaten Sleman), yang kemudian berafiliasi dengan sebutan Kota Pelajar. Julukan yang selama ini menjadi melekat pada Yogyakarta.

Banyaknya perguruan tinggi membuat dinamika penduduk di Sleman juga beragam. Penyebabnya adalah banyaknya mahasiswa yang mencari Ilmu di Sleman. Kita bisa bertemu dengan mahasiswa yang berasal dari berbagai macam suku, dari Sabang sampai Merauke.

Sebagai contoh jika kita berjalan-jalan di area Babarsari, kita seakan melihat Indonesia mini. Mahasiswa dari berbagai daerah tumpah ruah di sana, semuanya saling berinteraksi dengan damai. Sangat jarang terjadi perselisihan atau keributan yang mengatasnamakan SARA di Sleman. Sesuatu yang sangat indah, melihat mereka berbaur dan berinteraksi tanpa melihat latar belakang Suku, Agama, atau Golongan.

Membahas Sleman dan Sepakbola, beberapa tahun terakhir Kabupaten Sleman juga dikenal karena hal lain di luar salak atau pendidikannya. Kabupaten Sleman dikenal dengan PS Sleman-nya.  Seiring dengan naiknya nama PSS, atau pendukung fanatiknya, secara tidak langsung nama Sleman juga ikut terangkat.

Tidak sedikit orang-orang dari luar Sleman menjadi pendukung PSS, yang kemudian mempelajari seluk beluk tentang Kabupaten Sleman. Jika diibaratkan, hubungan antara PSS dengan Kabupaten Sleman adalah hubungan simbiosis mutualisme.

Naiknya pamor PSS, dan beragamnya masyarakat di Sleman berimbas pada satu hal: pendukung PSS yang heterogen. Saat PSS bermain di Maguwoharjo, kita bisa lihat bahwa tidak hanya orang Jawa saja yang berada disitu. Ada orang Papua, orang Medan, orang Sunda, orang Kalimantan, dan lain sebagainya. Semuanya berbaur dengan rukun di Stadion untuk mendukung Super Elja.

Mari kita jadikan momen HUT Kabupaten Sleman ini untuk berintropeksi diri, untuk mempererat tali persaudaraan. Tidak perlu muluk-muluk dalam hal kenegaraan atau agama, kita mulai dari sepak bola.

Hal itu bisa kita lakukan dengan tidak saling adu jotos dengan sesama pendukung PSS, tidak menyebar kebencian kepada pendukung klub lain, tidak melakukan teror-teror yang meresahkan orang lain. Kita jadikan HUT Kabupaten Sleman sebagai momentum untuk menjadikan sepak bola sebagai alat pemersatu bangsa.

Sekali lagi, selamat ulang tahun kepada Kabupaten Sleman, mari kita jadikan Sleman sebagai kota yang damai, dan kota sepak bola.

Karena, kita, Bhinneka Tunggal Elja!

Komentar
Ahmad Indra Pranata

Dokter muda yang mencintai sepakbola, bisa kamu hubungi di akun Twitter @mamas_ahmad