Cerita

Disabilitas dan Sepakbola Lokal: Pengalaman Seorang Tunanetra “Menyaksikan” PSS Sleman

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Pertandingan pembukaan Piala Presiden 2017 yang diselenggarakan di Stadion Maguwoharjo beberapa waktu yang lalu meninggalkan cerita tersendiri bagi seorang Deny Septya Nugroho. Pertandingan antara tuan rumah PSS Sleman melawan Persipura Jayapura tersebut merupakan pertandingan pertama yang ‘ditonton’ langsung oleh seorang Deny di stadion.

Ya, Deny adalah seorang mahasiswa tunanetra yang menggilai tim PSS Sleman. Pertandingan yang berlangsung Sabtu, 4 Februari 2017 tersebut menjadi awal candu baginya karena di Liga 2 Indonesia musim 2017 seorang Deny menjadi ketagihan menonton langung pertandingan home PSS Sleman.

Menonton sepakbola sebagai olahraga terpopuler di dunia merupakan hal wajar. Tak terkecuali juga bagi orang-orang dengan kemampuan yang terbatas atau difabel. Difabel atau disabilitas adalah sebuah fenomena komplek yang mencerminkan interaksi antara ciri dari tubuh seseorang dan ciri dari masyarakat tempat dia tinggal. Istilah difabel dan disabilitas sendiri memiliki makna yang agak berlainan.

Difabel didefinisikan sebagai seseorang yang memiliki kemampuan dalam menjalankan aktivitas berbeda bila dibandingkan dengan orang-orang kebanyakan serta belum tentu diartikan sebagai ‘cacat’ atau disabled. Sementara itu, disabilitas (disability) didefinisikan sebagai seseorang yang belum mampu berakomodasi dengan lingkungan sekitarnya sehingga menyebabkan disabilitas.

Program kebijakan pemerintah Indonesia bagi penyandang disabilitas cenderung berbasis belas kasihan (charity) sehingga kurang memberdayakan penyandang disabilitas untuk terlibat dalam berbagai masalah. Hal ini juga terjadi dalam lingkup sepakbola.

Deny harus didampingi temannya saat menonton bola secara langsung. Dari teman penerjemahnya lah dia mendapat informasi jalannya pertandingan. Semua detail jalannya pertandingan mulai formasi tim sampai nama pemain disampaikan temannya secara rinci. “Saya menyukai sepakbola sejak dari bisa melihat sampai tunanetra seperti sekarang,” ucap Deny kepada teman-teman lainnya.

Mahasiswa UNY semester 6 ini mengaku ada sesuatu yang terasa istimewa saat menonton pertandingan PSS Sleman saat home match. “Saat PSS bertanding dan teman-teman di tribun bernyanyi, di situ terasa bagaimana teman-teman memiliki kekompakan yang bagus demi mendukung kebanggaannya,” ucapnya lagi. Mahasiswa anggota Pertuni Yogyakarta ini juga memiliki doa dan harapan untuk PSS ke depannya.

“Bisa konsisten permainan dari PSS, manajemen klub semakin bagus, suporter semakin kompak, dan bisa selalu mengawal PSS,” ucap Deny. Mahasiswa asal Wonosobo ini juga berharap suporter sebagai pemain kedua belas di tribun agar selalu memberikan semangat kepada PSS saat bertanding.

Selain itu Deny yang sering melihat PSS bertanding dari tribun timur Stadion Maguwoharjo juga berharap di Stadion Maguwoharjo ada fasilitas untuk penyandang disabilitas, salah satunya adalah agar akses masuk stadion lebih mudah dan tidak berdesakan.

Dia juga berangan-angan suatu saat akan ada penerjemah saat pertandingan berlangsung seperti reporter yang disediakan khusus untuk penyandang disabilitas. Terlepas dari semua harapannya, Deny mengaku semua yang telah dia alami saat berada di Stadion Maguwoharjo sudah luar biasa.

Kita berharap agar PSSI lebih memperhatikan hal-hal seperti ini agar ke depannya sepakbola bisa dinikmati oleh semua orang. Bukan tidak mungkin Liga Indonesia akan berproses seperti liga-liga Eropa dimana stadion akan semakin ramah untuk fans penyandang disabilitas.

Memang benar apa yang dikatakan John Dykes, komentator terkenal Liga Primer Inggris. Dykes menilai Indonesia memiliki hasrat yang besar terhadap sepakbola dan itu sudah tertanam dalam diri suporter-suporter di Indonesia. “Mereka punya sejarah yang panjang dengan sepakbola dan dari sepanjang sejarah itu tumbuh tradisi dalam diri pendukung sepakbola. Hal itu sudah ada dalam hati mereka,” ucapnya dalam sebuah bincang media bersama Fox Sport, 4 November 2017 silam.

Seorang penyandang disabilitas tidaklah berbeda dengan orang-orang lainnya. Mereka juga memiliki hak yang sama untuk menikmati sepakbola. Begitu pun bagi seorang Deny Septya Nugroho. Hasratnya untuk menonton PSS Sleman secara langsung patut diapresiasi.

Mimpinya akan Super Elja dan Indonesia tidak perlu diragukan lagi. Karena sepakbola adalah candu. Karena sepakbola adalah rindu. Karena sepakbola adalah pemersatu.

* Artikel ini dibuat untuk mengenang pertama kali Sdr. Deny Septya Nugroho datang ke Stadion Maguwoharjo

Komentar
CampusBoys UNY

Dapat ditemui di akun @campusboys_UNY