Cerita

Fight For Pride Not For Praise

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Ada yang menarik di pekan ke-3 Liga 2 yang mempertemukan PSS Sleman dengan Persip Pekalongan. Pertandingan yang digelar di Maguwoharjo ini disuguhi aksi-aksi menakjubkan, baik dari Slemania maupun Brigata Curva Sud. Pada pertandingan malam itu, koreo 3D ditampilkan oleh pasukan tribun selatan. Sebuah koreo yang “wah”, baik dari bentuk maupun artinya.

Koreo terdiri dari mozaik beberapa warna di tribun selatan: putih, kuning, hijau dan hitam. Sebuah gambar besar yang terdiri dari sekelompok figur: El Capitano Busari, Coach FM, dan Asisten pelatih Seto Nurdiantoro.

Tampak juga 2 figur yang menunjukkan suporter yang tampak sedang berteriak mendukung tim kebanggaannya. Dilengkapi dengan sebuah spanduk bertuliskan “Fight For Pride Not For Praise”.

Bagi sebagian besar Sleman Fans mungkin tidak sulit untuk menebak apakah arti dari koreo tersebut, koreo yang ditujukan untuk semua elemen di PSS Sleman, baik pemain maupun pelatih. Mengingatkan untuk bermain dengan rasa bangga terhadap candi di dada, bukan untuk mengejar populariti apalagi materi.

Sebuah sindiran atau tamparan halus dari permainan buruk yang ditunjukkan saat melawan PSCS Cilacap. Kalimat “Fight For Pride Not For Praise” sebelas dua belas dengan quote terkenal dari Tony Adams “Play for the name on the front of the shirt, and they’ll remember the name on the back”.

Bermainlah untuk sebuah nama di depan (lambang klub), maka mereka (suporter) akan mengingat nama (pemain) di belakang punggung.

Sekali lagi, aksi tersebut bisa jadi adalah sebuah sindiran bagi pemain PSS yang bermain buruk di laga pembuka Liga 2 saat melawan PSCS Cilacap. Suporter menganggap kekalahan itu sebagai anti klimaks, dimana para pemain selalu dipuji dan dielu-elukan namun bermain sangat buruk di pertandingan itu (vs PSCS).

Muncul anggapan bahwa para pemain tidak bermain dengan sepenuh hati, sesaat itu pula pujian berubah menjadi hujatan, kebiasaan (beberapa) pemain PSS yang aktif di media sosial menjadi sasaran empuk bagi para fans.

Mengkambinghitamkan kebiasaan tersebut, yang menjadi penyebab buruknya permainan PSS. “Diokehi latihane, ora mung ngartis wae”.

Tapi tunggu, sesombong itukah kita, yang hanya menuntut ini – itu kepada para punggawa, dan merasa kita yang paling sempurna. Senaif itukah kita?

Lalu apa maksud 2 orang suporter di koreo 3D tersebut? Tampaknya Sleman Fans-pun tidak luput dari sindiran.

Tugas suporter adalah berjuang untuk klub kebanggaan mereka. Suporter punya cara sendiri untuk berjuang, mendukung tim dari tribun dengan suara dan kreativitas mereka. Memberikan semangat selama 90 menit dengan chants-chants tanpa henti.

Sindiran ditujukan untuk mereka yang hanya mencari popularitas (praise) di atas tribun, hanya ber swafoto demi tujuan panjat sosial, tanpa niat ikut bernyanyi mendukung kebanggaan mereka. Sindiran yang sangat tepat, untuk dinamika per-suporteran saat ini.

Kita berharap pesan dari koreo tadi tersampaikan kepada semua pihak, suporter ataupun tim. Para pemain bisa kembali bermain dengan penuh semangat sepanjang laga, dan para suporter mendukung penuh sepanjang masa. Sesuai tagline “If You Give Us 90 Minutes, We’ll Give You a Lifetime”.

Komentar
Ahmad Indra Pranata

Dokter muda yang mencintai sepakbola, bisa kamu hubungi di akun Twitter @mamas_ahmad