Analisis

Hak Siar Televisi: Pisau Bermata Dua

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Hingar bingar sepakbola nasional akhirnya sebentar lagi akan kita nikmati lagi. Setelah satu tahun lebih kompetisi resmi PSSI absen dikarenakan pelbagai masalah, akhirnya pada 15 April 2017 kick-off untuk kompetisi dengan nama Gojek Traveloka Liga 1 akan resmi bergulir dan disusul 4 hari berselang untuk Liga 2.

Dalam liga yang katanya lebih profesional ini, kita akan banyak disuguhi unsur baru mulai dari operator liga, regulasi pemain, regulasi pertandingan, hingga tayangan live televisi yang akan menjamah Liga 2 yang notabene adalah kasta kedua kompetisi.

Dalam era sepakbola industri seperti sekarang ini, mau tidak mau segala hal yang berhubungan dengan sebuah indeks adalah hal yang lazim untuk dijual. Jika kita berbicara mengenai sepakbola, maka dari segi bisnis kita sedang membicarakan indeks masa dalam jumlah besar.

Jumlah masa yang besar ini merupakan pasar menarik untuk dikeruk potensi bisnisnya, seperti contohnya dalam penjualan tiket, sponsorship, merchandise, hingga hak siar televisi.

Rencananya, Liga 2 juga akan  mendapat porsi tayangan live dari pemegang hak siar kompetisi, Viva Group. Tentu tidak semua klub akan mendapat banyak jatah siaran live, mengingat ada 61 klub yang berlaga di kompetisi kasta kedua ini.

Selain itu, liga kasta kedua ini juga tentu tidak terlalu seksi untuk mendapatkan rating tinggi, terlebih karena banyak game yang akan dimainkan pada hari kerja.

PSS Sleman adalah salah satu klub yang mendapat jadwal siaran live cukup banyak (dengan asumsi seluruh pertandingan live dijalankan sesuai jadwal). Menurut jadwal terakhir yang dirilis oleh operator liga, PT. Liga Indonesia Baru, PSS Sleman yang menghuni Grup 3 mendapat 6 kali jatah siaran live.

Ada banyak suara pro dan kontra mengenai jadwal siaran langsung yang diterima oleh PSS Sleman. Yang pertama, dan yang paling dikhawatirkan tentu adalah asumsi bahwa siaran live bisa menekan angka suporter yang hadir pada laga baik tandang maupun kandang.

Asumsi tersebut cukup masuk akal, terlebih semua siaran live PSS Sleman akan berlangsung pada hari Rabu dengan rincian 4 kali di kandang dan 2 kali tandang. Di pertandingan yang berlangsung di hari kerja, dan kelompok fans dan suporter yang kebanyakan adalah kelas pekerja dan pelajar, maka siaran live akan menjadi alternatif bagi mereka yang tidak bisa datang ke stadion.

Jika ditarik ke belakang, banyaknya game di hari kerja juga imbas dari penyesuaian jadwal tayang. Tidak mungkin pihak operator televisi lebih melakukan live di akhir pekan karena slot siaran tentu sudah diisi liga kasta tertinggi.

Dampak langsung dari adanya kontrak siaran live adalah tidak beroperasinya Elja TV dalam melayani layanan streaming. Sampai saat ini, masih belum jelas bagaimana kontrak antara pihak televisi dengan pihak klub.

Semisal, apakah jika pada hari PSS Sleman bertanding dan tidak disiarkan televisi, bolehkah Elja TV melakukan kegiatan streaming? Hal tersebut harus jelas aturannya.

Mengingat mulai banyak juga klub di Liga 2 yang memiliki layanan televisi berbasis internet. Kejelasan regulasi dan kontrak dengan pemegang hak siar akan sangat membantu mereka dalam mengambil langkah.

Namun di balik itu semua, tentu selalu ada hal positif yang bisa diambil. Dengan seringnya PSS Sleman tampil di televisi, maka ada beberapa benefit yang akan diperoleh.

Pertama tentu adalah uang dari hak siar televisi. Hingga hari ini besaran jumlah uang diperoleh oleh klub-klub yang mendapat jatah siaran live memang masih simpang siur. Baik dari Liga 1 maupun Liga 2, belum ada rilis resmi besaran nilai hak siar yang diberikan.

Yang jelas, jumlah uang yang diterima oleh tuan rumah dan tamu ketika siaran live tentu akan berbeda. Logikanya, harus ada kompensasi lebih bagi tuan rumah ketika timnya disiarkan, yang mungkin berdampak pada penyusutan kehadiran suporter di stadion.

Keuntungan kedua adalah publikasi dan promosi dengan skala nasional. Dengan adanya siaran live kemungkinan klub level kedua untuk mendapat sorotan akan lebih besar. Baik untuk pemain maupun klub, akan sama-sama mendapat keuntungan.

Potensi para pemain daerah di berbagai wilayah di Indonesia sebenarnya masih melimpah. Indra Sjafri beberapa tahun lalu membuktikannya ketika membetuk skuat U-19 yang hingga kini beberapa alumninya masih beredar di kasta tertinggi.

Ini berarti, dengan adanya siaran live, para pemain yang memiliki potensi lebih mudah terpantau bakatnya.

Bagi pihak klub, adanya siaran live akan membantu dalam promosi mereka. Terlebih jika animo suporter mereka besar, akan menjadi nilai plus di mata calon sponsor.

Tingkat kehadiran suporter yang tinggi di stadion dan aksi-aksi atraktif suporter ketika pertandingan berlangsung bisa menjadikan citra yang baik di mata calon sponsor. Kesempatan inilah yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya guna membentuk citra yang baik di persebakbolaan nasional.

Dengan beberapa asumsi di atas, siaran live memiliki dua sisi positif dan negatif tergantung dari perspektif mana kita melihat. Sepakbola Indonesia perlahan mengarah ke era sepakbola industri. Semoga semakin ada perbaikan di persepakbolaan tanah air.

 

Komentar
Ardita Nuzulkarnaen Azmi

Sleman Fans sejak dalam kandungan, bisa dikontak via akun Twitter @ardhi___ tapi ojo dibully ya...

Comments are closed.