Cerita

Johan Arga: “Kalau Saya Bermain Lebih Lama di Sleman”

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

“Dulu waktu saya kecil nontonnya juga Marcello Braga, Anderson (da Silva), M. Eksan, Seto Nurdiyantoro, M. Anshori, Suwita Pata, Aceng Juanda, Joice Sorongan. Sampe hafal, kan, saya,” ujar Johan Arga sembari menggali lagi ingatan lamanya.

Kisah keemasan PSS Sleman di awal hingga medio 2000-an memang melegenda. Susah untuk menutup mata terhadap kepakan Super Elja saat itu yang sempat bercokol sebagai salah satu tim kuat di Liga Indonesia. Kegemilangannya tak luput mengisi ingatan Johan Arga ketika kecil.

Bahkan sudah lebih dari sepuluh tahun berselang dari masa itu, ia masih dengan mudah menyebutkan nama-nama penggawa Laskar Sembada. Memorinya masih tertancap bahkan ketika ia sudah menghabiskan sebagian besar karirnya bersama Laskar Mataram.

“Dedi Setiawan, Nugroho Andrianto, Leke (dos Santos), Deca (dos Santos), Anton Hermawan, Kahudi Wahyu. Sampai hafal saya pemannya,” lanjut mantan kapten PSIM Yogyakarta itu dengan fasih menyebutkan pemain PSS Sleman yang mengisi masa kecilnya.

Mengenakan kaos putih berkerah, Johan Arga menemui saya di salah satu outlet makaroni miliknya. Ia tak sekalipun menutupi bahwa ia merupakan suporter PSIM dan berbagi cerita tentang bagaimana rasanya membela klub yang notabene merupakan rival dari kesebelasan yang ia banggakan.

“Seorang Wayne Rooney juga adalah suporter Everton. Andres Iniesta juga seorang suporter Barcelona. Dan ketika saya juga condong ke PSIM padahal pernah memperkuat PSS, itu sebenarnya hal lumrah,” ia mengungkapkan perasaannya sebagai seorang pesepakbola profesional.

“Ketika main di PSIM juga sebagai profesional, main di PSS juga sebagai seorang profesional. Tetapi ketika saya menanggalkan saya sebagai seorang profesional, saya adalah suporter PSIM,” imbuhnya sambil menyantap satu bungkus nasi ayam.

Johan memang tumbuh sebagai seorang suporter Laskar Mataram, cintanya terhadap tim tersebut tumbuh secara natural seiring dengan karirnya. Ia memulai karirnya bersama PSIM U-17 selama dua musim lalu dilanjutkan tujuh musim bersama PSIM senior.

Bagi seorang suporter, membela tim yang dibanggakannya tentu merupakan sebuah impian. “Ketika membela PSIM selain dibalut sebuah keprofesionalan, di situ ada kebanggaan bahwa tim yang saya idolai, sekarang juga saya perjuangkan.” ungkapnya.

Dalam sembilan tahun karirnya sebagai pesepakbola, hanya ada dua tahun Johan tak membela PSIM Yogyakarta. Pertama, karena cedera lutut yang memaksanya harus menepi. Kedua, adalah ketika waktu-waktunya dihabiskan bersama skuad Super Elja pada akhir tahun 2014 hingga awal tahun 2015.

Memang bagaimanapun hati tak bisa berbohong. Bermain bersama Laskar Sembada terasa berbeda baginya. “Ketika main di PSS profesional pasti, tapi memang rasanya kurang. Walaupun saya tetap bermain dengan hati. Tidak mungkin orang kerja, kok, tidak pake hati,” ujar Johan sambil terus menyantap makan malamnya.

Sebagai seorang profesional, pemain yang pernah mengenakan nomor sepuluh di PSS Sleman itu mengaku terbiasa dengan orang-orang baru yang ia temui setiap pembentukan tim di awal musim. Namun, pindah ke Sleman tak semudah biasanya.

“Yang membuat sedikit beban adalah ketika itu banyaknya pro dan kontra dari suporter PSS. Ada yang menerima, ada yang menolak. Tetapi pada akhirnya mereka menerima, karena saya mulai membiasakan diri dengan kultur dengan kebiasaan suporter Sleman. Namun sayang, kompetisi batal.” ujarnya diakhiri nada kekecewaan.

Tak hanya sekali Johan menunjukkan bahwa ia menyesal tidak dapat membela PSS Sleman lebih lama. Dari kontrak berdurasi sepuluh bulan, hanya lima bulan saja yang ia jalani. Konflik PSSI yang berujung dengan hukuman FIFA membuat liga tidak berjalan. Skuad Super Elja dibubarkan dan bersama itulah ceritanya di PSS Sleman berakhir.

Kisahnya yang hanya lima bulan tersebut diakuinya sebagai kesan tersendiri dalam karirnya. Ia bahkan melontarkan kemungkinan untuk mencintai PSS Sleman jika saja saat itu tiada kisruh dalam persepakbolaan negeri ini. “Sebenarnya, kalau saya bermain lebih lama di Sleman, bisa saja saya jadi suka dengan PSS,” ungkapnya tentang sebuah keniscayaan dalam hatinya.

Satu yang membuat kemungkinan itu Johan ucapkan, ia percaya bahwa cinta itu tumbuh bersama waktu. “Tresno jalaran seko kulino,” ujarnya. Pengandaiannya menemui nalar karena cintanya terhadap PSIM Yogyakarta juga berawal dari “kulino”. Maka jika saja saat itu ada waktu untuk “kulino”, mungkin saja cintanya kepada PSS Sleman akan mekar.

Johan sempat menemui momen di mana hatinya mulai terpaut dengan Super Elja. Ia menceritakannya dengan sumringah layaknya pertama kali seseorang jatuh cinta walaupun ia lupa pada pertandingan melawan mana.

“(Laga itu) menang. Ya, sempet saya bergetar. Wah, ya, mulai ini. Mulai. Tetapi akhirnya liga batal,” ujarnya tentang momen di mana cintanya layu sebelum sempat berkembang dan lagi-lagi diakhiri dengan nada kecewa.

Komentar
Andhika Gilang

Perintis @tapakbola. Dapat dihubungi secara personal melalui akun @AndhikaGila_ng