Cerita

Johan Arga: “Kamu Sebaiknya Tidak Usah Menonton Sepakbola Lagi Saja”

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Warung kecilnya sudah mulai dirapikan oleh pegawainya, hanya meja saya dan Johan yang tidak dibereskan. Outlet makaroni tempat kami bercengkrama yang hanya berjarak selemparan batu dari tempat tinggalnya itu sudah akan tutup. Namun, kami masih melanjutkan obrolan.

Kecintaan Johan kepada sepakbola menjadi salah satu hal yang mendorongnya kerap mengunggah foto akhir-akhir ini. “Dan kalau saya tidak respect dengan PSS, tidak mungkin saya upload fotonya (foto Johan berseragam PSS). Tetapi, sayangnya stock fotoku dengan PSS sedikit. Lha, kompetisi belum mulai,” ucapnya sambil bergurau.

Salah satu dari foto yang ia unggah adalah foto skuat PSS Sleman ketika melawan Persires di Stadion Maguwoharjo. Laga baru berjalan empat menit, Johan melakukan cut inside dari sisi kanan ke depan kotak penalti. Pemain bernomor punggung 10 itu lalu melepaskan tembakan dengan kaki kirinya yang memperdaya kiper tim tamu.

Gol tersebut merupakan yang pertama dan terakhir bagi PSS Sleman yang dicetak olehnya. Memang hanya dalam laga uji tanding. Jangankan untuk mencetak gol, bermain sekali dalam laga resmi saja ia tak sempat.

Sebenarnya Johan menunggu-nunggu laga resmi pertamanya. Andaikan pertandingan itu dilaksanakan rasa-rasanya memang sangat spesial baginya. “Itu, kan, seharusnya jadwal pertama (liga) adalah PSS melawan PSIM. Itu sebenarnya partai yang saya tunggu-tunggu. Jiwa profesional saya keluar. Walaupun lawan PSIM saya ingin cetak gol waktu itu,” ungkapnya menggebu-gebu.

Emanuel Adebayor ketika membela Manchester City berlari dari ujung lapangan ke ujung lain untuk berselebrasi di depan pendukung Arsenal setelah sundulannya merobek gawang mantan klubnya tersebut. Sebaliknya, Gabriel Batistuta saat berseragam AS Roma justru menangis tersedu-sedu di pundak Ganni Guigou setelah menceploskan bola ke gawang mantan klubnya, AC Fiorentina.

Di bangkunya, Johan mulai berandai-andai jika saja ia mencetak gol ke gawang PSIM Yogyakarta ketika berseragam PSS Sleman. Sesaat, ia memutuskan untuk tidak melakukan apa yang dilakukan Adebayor maupun Batistuta.

“Saya tidak akan melakukan selebrasi tetapi juga tidak akan berlebihan seperti gestur meminta maaf karena saya juga harus menghormati tim yang saya bela waktu itu, PSS Sleman,” ungkapnya menunjukkan pandangan sebagai seorang profesional.

Menurut Johan, selain untuk menghormati tim yang dibelanya, tidak bersedih ketika menceploskan bola ke gawang mantan klubnya adalah wujud cintanya kepada sepakbola. Sebagai pemain depan, pekerjaannya memang mencetak gol dan semestinya tidak ada kesedihan yang harus dicurahkan ketika melaksanakannya. “Tugasnya ngegolke,” ucapnya.

Selama di Sleman, ia berbagi tugas mencetak gol dengan beberapa pemain depan, salah satunya Dicky Prayoga. Sejak saat itu, Johan menjalin pertemanan yang sangat dekat dengan Dicky dan terjalin hingga saat ini. “Tadi (20/7/18), bermain bola dengan Dicky,” ujarnya.

Mereka berdua sempat melewati momen berbeda seragam pada musim 2016. Dicky berada di bawah panji Laskar Sembada, sedangkan Johan membela Laskar Mataram. Namun, perbedaan itu tak jadi masalah. Johan berkisah bahwa sebenarnya tidak ada pertikaian di antara pemain-pemain PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta.

“Itu yang kadang orang atau mungkin suporter tidak tahu. Permasalahan di mereka itu jangan diasumsikan ke pemain juga seperti itu.” ujar Johan menceritakan kondisi yang sebenarnya di antara pemain kedua klub. “Anang Hadi. Lalu, Agus ‘Awang’ Setiawan. Itu tau lah. Gratheo. Kita berteman di luar,” imbuhnya.

Pengandaian Johan cukup ekstrem kali ini. “Kalaupun ketemu di luar sana, bahkan pakai baju PSS, kami pake baju PSIM, kita tetap berteman. Sama-sama mencari uang di sepakbola, apa gunanya kalau kita hajar-hajaran. Kita hajar-hajaran cukup di lapangan dan itupun dalam konteks sepakbola,” ucapnya.

Kecintaannya terhadap sepakbola tercermin kembali saat mengutuk perbuatan brutal suporter yang mencederai permainan terkasihnya. “Kalau sampai mati, sampai bunuh-bunuhan. Sudah, kamu sebaiknya tidak usah menonton sepakbola lagi saja. Sudah tidak cocok. Kamu malah jadi preman,” ungkapnya dengan kesal.

Permainan ini memang tidak sewajarnya dihiasi dengan warna merah darah. Memang betul bahwa sepakbola merupakan adu fisik, tetapi pergelutan tersebut diberi regulasi sebagai batas. Sebagai orang yang menekuni sepakbola, Johan tahu betul batas-batas itu dan pertumpahan darah jelas sudah diluar ambang batas.

Jalanan di depan warung tempat kami mengobrol sudah semakin lengang, waktu hampir tengah malam kala itu. Johan menutup obrolan dengan prediksi ringan. “Besok, PSS juga akan kewalahan meladeni permainan PSIM. PSIM mainnya cenderung bola-bola pendek dari kaki-kaki,” ucap mantan pemain berambut cepak itu.

“Tetapi, kalau PSS mainnya seperti di Balikpapan, bisa juga punya peluang untuk mencuri tiga poin. Tetapi pasti pertandingan tetap seru banget. Kalau menurutku tetap draw. Di Bantul besok 1-1,” lanjutnya menyebut skor sekaligus menutup obrolan kami malam itu.

Komentar
Andhika Gilang

Perintis @tapakbola. Dapat dihubungi secara personal melalui akun @AndhikaGila_ng