Opini

Kebutuhan Mendesak di Tengah Kelangkaan Bek Kiri Berkualitas

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Laga melawan Semeru FC Lumajang menjadi awal perjalanan karir Yericho Christiantoko bersama PSS Sleman. Walaupun tak bermain penuh, Yericho menunjukkan penampilan yang positif di sisi kiri pertahanan Laskar Sembada.

Sejak menemukan sentuhannya kembali bersama Kalteng Putra musim lalu, pemain yang kerap disapa Owik ini memang sangat menjanjikan untuk kompetisi sekelas Liga 2. Ia dapat menjadi salah satu tumpuan di lini belakang Super Elja musim ini.

Kehadiran Owik bisa dibilang mendefinisikan standar seorang fullback kiri yang diinginkan Herry Kiswanto. Kaki kiri yang mumpuni tidak hanya ketika dribbling namun juga saat mengirimkan crossing. Alasan paling mungkin mengapa pelatih menginginkan pemain dengan tipe seperti itu adalah umpan silang.

Herkis menginginkan pemain yang dapat dengan mudah mengirimkan umpan silang akurat ke kotak penalti dari sisi kiri penyerangan. Dan dengan melihat kemampuan pesepakbola Indonesia sekarang, hal tersebut akan lebih mudah dilakukan oleh pemain yang kaki kirinya dominan.

Oleh karena itu, menempatkan pemain dengan kaki kiri dominan di sisi kiri menjadi opsi paling aman untuk memperbaiki skema umpan silang. Hal itu pula yang menjadi alasan mengapa Yericho masuk ke dalam tim.

Namun, berbicara tentang Owik tak melulu soal potensinya. Ia punya track record tak bagus mengenai cederanya. Cedera lutut parah yang ia dapat ketika membela CS Vise di Belgia memaksanya harus menepi dari lapangan dan akhirnya pulang ke tanah air.

Sementara di tim PSS sekarang, Owik merupakan satu-satunya fullback kiri yang ada. Melihat riwayat cederanya, tentu terlalu rawan bagi Laskar Sembada jika hanya mengandalkan dirinya seorang sepanjang kompetisi. Sebuah keharusan bagi manajemen mencari pemain sebagai pelapisnya segera.

Namun, bukan perkara mudah mencari sosok yang tepat untuk mengawal sektor kiri pertahanan PSS. Beberapa musim belakangan muncul nama-nama yang tak sesuai ekspektasi. Eka Angger dan Revi Agung contohnya. Lalu ada juga nama Ardi Idrus yang datang setelah paruh musim tahun lalu.

Situasi sulit yang memaksa tim pelatih memainkan Tedi Berlian sebagai inverted fullback. Tedi yang kaki kanannya lebih dominan diposisikan di sisi kiri pertahanan PSS. Hasilnya pun tak terlalu baik ketika harus memainkan skema umpan silang.

Tedi yang kaki kirinya bukan merupakan kaki terkuat kesulitan mengirim crossing dari sisi kiri. Kerap kali ia menghentikan laju dribble-nya, berbalik arah, baru kemudian mengirimkan umpan ke kotak penalti. Dengan begitu, ada cukup waktu bagi bek lawan untuk mengantisipasi umpan silangnya.

Setelah Tedi dilepas, praktis memang hanya Owik yang baru ada dalam tim. Namun, manajemen bukan berarti tak serius dalam mencari fullback kiri musim ini. Setidaknya ada tiga nama bek kiri selain Tedi Berlian yang singgah di Sleman. Mereka adalah Bima Reksa, Said Marjan, dan David Faristian.

Ketiga nama tersebut gagal mencuri hati Herkis. Bahkan hanya Bima Reksa yang sempat mencicipi laga uji tanding melawan tim Liga 1. Sementara cerita Said Marjan dan David Faristian di Sleman terhenti saat masa trial.

Kegagalan beberapa pemain di atas untuk masuk ke dalam tim menjadi gambaran betapa langkanya pemain yang memenuhi standar Herkis dan mau bermain untuk tim Liga 2. Hal tersebut juga menjelaskan mengapa manajemen kesusahan mencari fullback kiri berkualitas.

Namun sesulit apapun, mendatangkan satu lagi fullback kiri ke Sleman adalah sebuah keharusan. Hanya mempunyai satu pemain saja jelas tidak ideal untuk mengarungi kompetisi. Dengan waktu semakin sempit dan stok pemain di pasar yang menipis, apakah manajemen akan dapat mendatangkan wajah baru sebagai pelapis Owik?

Kita lihat saja beberapa pekan ke depan.

Komentar
Andhika Gilang

Perintis @tapakbola. Dapat dihubungi secara personal melalui akun @AndhikaGila_ng