Opini

Kembalilah Pada Filosofimu, Elang Jawa!

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Pepatah mengatakan hanya Keledai yang jatuh pada lubang yang sama. Maka bagi elang yang memiliki pandangan tajam, lubang yang sama itu bisa dihindari.

Pernyataan di atas adalah perumpamaan untuk PSS Sleman, yang kebetulan berjuluk Super Elang Jawa. Tahun lalu jatuh ke lubang penyisihan di fase krusial setelah terbang tinggi di babak awal. Melihat perumpaan di atas, seyogianya PSS akan berusaha untuk menghindari lubang yang sama tersebut.

Agaknya PSS perlu kembali pada salah satu filosofi burung elang yaitu fokus pada tujuan. Burung elang dibekali pandangan tajam dan kemampuan terbang tinggi melebihi burung-burung lain, karena itu dalam kehidupan di alam liar dan rantai makanan elang dikenal selalu sukses menerkam mangsanya. Begitu pula PSS yang memiliki julukan elang, tetap fokus mencapai tujuan ke Liga 1 adalah hakikatnya sepanjang musim.

Namun selain menjaga fokus, demi menghindari lubang yang sama, Super Elang Jawa juga harus belajar dari kegagalannya itu. Layaknya elang yang justru memilih berkawan dengan angin badai agar sayapnya bisa istirahat. Kemampuan mempelajari masalah justru akan menghasilkan solusi yang tepat.

Banyak pembelajaran yang dipetik PSS dari kompetisi tahun lalu. Kelebihan peserta dan fase kompetisi berliku, menyebabkan Laskar Sembada terjungkal dari angannya.

Maka bolehlah kita sebagai Sleman Fans awam untuk memilah fragmen-fragmen apa saja yang membuat hingga akhirnya PSS gagal menangkap “mangsanya”.

Fragmen pertama adalah jangan pernah merasa menang ketika unggul 2-0 di 50 menit awal karena sepakbola berlangsung selama 90 menit. Skor 2-0 hingga menit 50-an di babak kedua pada laga kontra PSPS tanggal 2/10/2017 di babak 16 besar adalah sebuah momen yang takkan pernah dilupakan Sleman Fans sejagad raya. Bagaimana tidak karena sisanya setelah skor itu hanyalah kesedihan belaka.

Kehilangan fokus dalam sebuah laga tentu jangan sampai jadi penyakit yang menaun, meski di partai perdana Liga 2 musim ini menghadapi Mojokerto Putra penyakit itu kembali muncul dan bahkan terakhir di laga derby saat tim tamu mendapat penalti ketika posisi sudah unggul 3-0. Masalah ini tentu kini sudah menjadi perhatian serius manajemen, tim pelatih dan official.

Fragmen kedua adalah kemampuan menjaga periode klimaks pemain, bahasa sederhananya mengatur penampilan pemain hingga mencapai puncaknya di fase penentuan. Tahun lalu PSS gagal menjaga periode ini, buktinya cukup lihat dari perjalanan di fase grup ke babak 16 besar.

PSS begitu digdaya di babak grup. Dari 14 laga, 11 di antaranya menang, sisanya sekali seri dan cuma dua kali kalah. Tapi memasuki fase selanjutnya keperkasaan itu seolah hilang dan penampilan tim anti klimaks. Kelebihan peserta tahun lalu semestinya sudah diantisipasi sejak awal musim, karena fase grup awal bukanlah gambaran Liga 2 saat itu mengingat terdapat gap kualitas antar tim dengan peserta yang mencapai 50 lebih.

Namun kompetisi tahun ini sedikit berbeda. Dengan jumlah 24 tim, gap di antara tim peserta di Grup Barat atau Grup Timur tidak terlalu jauh. Hal ini bisa dilihat dari pencapaian poin tim 4 besar dengan papan tengah. Periode klimaks pemain saat ini bisa dilihat dari penampilan terakhir di derby beberapa waktu lalu (meski perlu dicatat tanpa dukungan langsung penonton).

Fragmen ketiga adalah memanfaatkan jendela transfer pemain. Tahun lalu PSS tidak memanfaatkan transfer pemain di babak 16 besar, padahal tim-tim lain bergerak di pasar untuk menambal dan memperkuat tim.

Beruntung di tahun ini manajemen dan tim pelatih bergerak cepat memanfaatkan jendela transfer jelang 8 besar. Mencoret 4 pemain yang bukan berstatus pemain utama, dan mendatangkan 7 pemain baru yang merupakan pilar di timnya masing-masing.

Ketiga fragmen tersebut sedikit merangkum gambaran kegagalan musim lalu yang coba dibenahi oleh tim saat ini. Manajemen, pelatih, dan official mestinya sudah belajar dari kesalahan itu dan berusaha memperbaikinya. Jika dalam perjalanannya hal-hal itu muncul kembali di fase 8 besar, maka sudah tugas kita sebagai suporter untuk mengingatkan.

Seluruh komponen tim Super Elja tentu sudah bersiap menyongsong babak 8 besar dengan fokus penuh demi mencapai target Liga 1. Maka giliran kita para pendemennya untuk fokus juga menggapai target itu dengan dukungan serta pikiran positif. Jadi anggap saja isu-isu yang berseliweran di sosial media tentang tim-tim yang sudah pesan tempat di Liga 1 sebagai gimmick semata.

Berikan energi positif lewat dukungan serta pikiran positif di babak 8 besar yang krusial ini, sembari berharap semesta mendukung, seperti dukungan semesta pada fokus burung elang yang selalu sukses menerkam mangsanya.

 

Komentar