Cerita

Kembalinya Si Nomor 10 ke Sleman

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Bukan Rudi Widodo, bukan Guy Junior, bukan pula Tri Handoko yang identik dengan jersey bernomor punggung 10 sebelumnya, atau pun Kito Chandra yang sedang mengenakannya di musim ini. 

Mari kita menarik diri kembali ke London Utara sana pada tahun 1928; di mana para penonton dikejutkan dengan adanya nomor punggung di belakang jersey pemain. Nomor-nomor berurutan mulai dari nomor 1 (penjaga gawang) hingga nomor 11 yang dipakai penyerang.

Dari ungkapan di atas sudah jelas, bahwa nomor 10 tidak identik dengan penyerang pada masanya dulu. Pemain bernomor punggung 10 selalu identik dengan posisi gelandang serang, atau lebih mempunyai peran sebagai playmaker, (pencipta permainan) nyawa dari sebuah tim.

Sepakbola tidak sesederhana yang dipikirkan. Tidak sesederhana cuap-cuap komentator televisi dengan nada kerasnya ketika gol tercipta maupun kalimat “Benar, Bung.” yang sering kita dengarkan.

Berbicara sepakbola, maka kita akan berbicara posisi dan peran. Masing-masing mempunyai definisi yang luas, dan “ketidaksepakatan” adalah hal jamak dalam diskusi sepakbola.

Kita berbicara tentang PSS Sleman. Dari 22 pemain yang ada, enam pemain berposisi sebagai gelandang. Ke-6 pemain tersebut mempunyai peran yang berbeda-beda. Kita ambil contoh Arie Sandy, Busari dan Dirga Lasut. Arie Sandy; gelandang “nomor 6” ini perannya sebagai anchorman atau sering disebut gelandang jangkar. Lalu Busari; gelandang “nomor 8” yang bagus ketika bertahan atau menyerang. Lebih dikenal sebagai gelandang box to box. Untuk Dirga sudah jelas, gelandang “nomor 10” ini adalah pencipta permainan. Nyawa dari PSS Sleman dikompetisi tahun ini dengan pint-point pass-nya. Pemain yang punya kemampuan mengendalikan ritme serangan sebuah tim.

Pada bursa transfer kali ini rekrutan terbaru PSS Sleman adalah gelandang bernomor 10 juga. Dave Mustaine; pemain yang musim lalu menjadi roh lapangan tengah PSS Sleman bahu-membahu bersama Dirga dan Busari.

Semua tentu masih ingat bagaimana Dave bermain musim lalu. Yap, pemain satu ini jarang sekali berlama-lama dengan bola. Seorang creative playmaker dengan tipe stylish. Jarang sekali ia melewati pemain lawan. Satu dua gocekan untuk menipu lawan, lalu passing. Akurasi passing dan tembakannya pun bisa dikatakan istimewa. Tak jarang dia menjadi eksekutor bola-bola mati PSS Sleman di depan gawang lawan karena akurasi tembakannya yang tergolong istimewa itu. Tapi biasanya kekurangan dari pemain ber-tipe stylish ini adalah pada kekuatan fisiknya. Dia jarang sekali bisa bermain selama 90 menit penuh.

Lalu bagaimana dengan Dirga yang sudah “nyaman” di posisinya sekarang? Apakah dengan datangnya Dave akan menggusur posisi Dirga sekarang ini? Saya pribadi kurang setuju jika harus mengatakan peran Dirga adalah sebagai gelandang box to box. Toh jarang sekali seorang pelatih memainkan dua pemain dengan peran yang sama; jika ada.

Dirga ini mempunyai kemampuan yang lebih dari sekedar gelandang box to box. Saat bola di kakinya, permainan yang awalnya berjalan cepat bisa menjadi melambat. Begitu sebaliknya.

Sepakbola (pasca) modern memperlihatkan bahwa playmaker tak mesti berposisi sebagai gelandang serang. Nama-nama seperti Andrea Pirlo, Mikael Arteta atau Xabi Alonso memungkinkan lahirnya istilah deep-lying playmaker atau dalam istilah Italia disebut regista. Begitu kata Zen RS.

Akhir kata, welcome back Dave Mustaine. Penak neng Sleman to? 🙂

#PekanMenulisSlemanFans

Komentar