Cerita

Kisah dengan GKS Belchatow

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Beberapa waktu lalu Sleman kedatangan tamu jauh, tak tanggung-tanggung datang dari Eropa, Yaps, tepatnya datang dari Polandia. Mereka datang ke Indonesia bukan untuk berlibur dan mengunjungi tempat wisata, namun untuk datang dan melihat beberapa pertandingan sepakbola di Indonesia.

Kunjungan ke Indonesia mereka rancang dengan rinci. Berbekal kabar tentang liga di Indonesia yang akan bergulir mulai 31 Maret 2017. Sejak jauh-jauh hari sudah memesan tiket penerbangan dan membuat manajemen perjalanan.

Singkat cerita, setelah tiba di Jakarta. Ternyata ada perubahan jadwal liga di indonesia mundur hampir 2 minggu.

Berbekal informasi dari media sosial, Facebook. Mereka kemudian mengunjungi Sleman untuk menyaksikan laga uji tanding, antara PSS Sleman menghadapi Madura United.

Tibalah mereka di Yogyakarta dan menginap di kawasan Prawirotaman. Sehari sebelum laga itu, beberapa dari mereka datang ke Curva Sud Shop di Condongcatur.

Menarik, mereka datang dari Prawirotaman dengan menyewa beberapa becak. One man, one becak. Sebab, postur dan volume badan yang besar-besar. Menurut mereka, si tukang becak tahu di mana itu Curva Sud Shop, ibarat sudah seperti tujuan wisata.

Datang ke Indonesia dengan 5 personil, mereka merupakan suporter dari klub Liga 2 Polandia, GKS Belchatow. Sebenarnya 4 orang adalah suporter dan 1 orang merupakan salah satu kontributor untuk media cetak pergerakan suporter di Polandia, namanya Piotr. Piotr menjadi salah satu yang paling fasih berbahasa Inggris.

Menurut Piotr, pergerakan ultras dan hooligan di Indonesia merupakan salah satu yang cukup impresif serta banyak diliput media suporter di Eropa. Dalam salah satu majalah yang diberikan, secara khusus mereka akan meliput Indonesia dengan segala atmosfirnya dan untuk membuktikannya langsung.  Inilah kami datang ke Indonesia.

Banyak persamaan kultur suporter di Polandia dan Indonesia. Salah satu pelajaran dari Polandia adalah tidak adanya konflik antara ultras dan hooligan dalam satu tribun, mereka yang mengatasnamakan dirinya seorang Ultra harus berada di tribun, bernyanyi dan berdiri, mengawal kebanggaan kemanapun berlaga.

Jika tidak bisa mengikuti rules tersebut, maka dipersilakan menonton di tribun lain. Mereka menyebut tidak adanya selisih paham antara hool dan ultras dengan polish style. Mereka bahu membahu untuk support klub kebanggaannya.

Piotr juga bercerita tentang Italian style dan beberapa style lain. Tentunya setiap negara memiliki kultur yang berbeda, namun di Indonesia ini pergerakan ultras sangat massif. Hal ini yang membuat dia dan kawan-kawannya bertandang langsung ke Indonesia,  khususnya  ke Brigata Curva Sud di Sleman.

Selesai melihat pertandingan, Piotr dan kawan-kawanya menyatakan kekaguman dengan atmosfir pertandingan yang telah mereka saksikan sendiri.

“Saya sudah ke Prancis, saya memberi mereka nilai 7.5/10, saya juga sudah ke Argentina, saya beri mereka nilai 8.5/10. Malam ini saya menyaksikan yang bisa saya beri nilai 9.5/10.” Ujar Piotr.

Mereka datang jauh-jauh hanya untuk belajar, belajar bagaimana cara suporter menghidupi klub dengan ideologinya.

So, untuk BCS dengan paham ultras menurut banyak orang, whats next?

Komentar
Liston Octoberry

Turuo le

Comments are closed.