Cerita

Komarudin: Dosen dan Pelatih Fisik PSS Sleman

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Permasalahan fisik pemain sepakbola Indonesia memang menjadi problem tersendiri. Bahkan fisik kerap dijadikan kambing hitam di balik kekalahan setiap klub dalam suatu pertandingan.

Dapat di lihat saat pertandingan berjalan, ketika suatu tim mengalami ketimpangan dalam permainan pada kondisi menyerang maupun bertahan. Faktor fisik memang menjadi salah satu perhatian saat berbicara tentang jebloknya prestasi sebuah klub.

Minimnya persiapan fisik pemain saat latihan juga membuat fisik para pemain tidak maksimal dan pemain tidak mampu bermain maksimal selama 90 menit. Evaluasi bagi setiap klub, jajaran manajemen, serta pelatih fisik dalam menyikapi kekurangan fisik pemain dapat menjadi langkah awal dalam memajukan sebuah klub.

Menyambut Liga 2 musim 2018, manajemen PSS Sleman bergerak cepat dalam membentuk tim. Salah satunya adalah dengan membentuk tim pelatih yang terdiri dari pelatih kepala sampai fisioterapis. Di antara jajaran tim pelatih PSS Sleman, ada satu nama yang cukup menyita perhatian publik yaitu Pak Komarudin.

Pak Komarudin atau biasa dipanggil “Bang Komar”, adalah sosok yang sangat populer di kalangan mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan UNY. Tidak hanya dalam lingkungan kampus saja, tetapi beliau juga populer di kancah persepakbolaan nasional.

Setelah gelaran turnamen Coppa Sleman 2018 usai, kami berkesempatan berbincang-bincang dengan beliau. Wawancara dilakukan setelah PSS selesai melakukan latihan rutin pagi di Stadion UNY.

Di kancah persepakbolaan nasional Bang Komar lebih dikenal sebagai pelatih fisik. Pria kelahiran Cirebon ini sudah malang melintang di dunia persepakbolaan Indonesia ketika menjadi pelatih fisik timnas maupun klub.

Tak hanya berkerier di dalam kepelatihan saja, Bang Komar juga pernah menjadi pemain sepakbola jauh sebelum menjajaki dunia kepelatihan. Medio tahun 1995-1999 beliau pernah membela Tim POMNAS DIY saat masa kepelatihan Subagyo Irianto dan St. Hirni Nugroho.

Di samping itu beliau pernah membela klub yang menjadi kebanggaan masyarakat Sleman yaitu PSS Sleman yang saat itu masih berkutat di divisi 1 Liga Indonesia. Dalam periode itu, Bang Komar hanya bertahan satu musim saja dimasa kepelatihan Soedjono dan M.Yunus.

Berbeda dengan dulu dengan status sebagai pemain, Bang Komar kembali ke PSS Sleman dengan menjabat sebagai pelatih fisik yang dipersiapkan dalam mengarungi persiapan Liga 2 indonesia. Berikut wawancara lengkap dengan pelatih fisik yang berdomisili di Wedomartani ini.

 Sejak kapan mengawali karier sebagai pelatih fisik?

Kalau pelatih fisik sejak 2008. Musim 2008-2009 saya sudah menjadi asisten pelatih fisik Persiba Bantul, saat itu head coachnya Pak Nandar Iskandar sampai musim 2010. Pelatih dari Pak Nandar Iskandar dua musim kemudian diganti Rully Nere. Setelah itu 2011-2012 saya masuk PSIM. Waktu itu saya sebagai asisten pelatih bukan pelatih fisik karena pelatih fisiknya Pak Bagyo Irianto. Jadi status saya waktu itu asisten pelatih dan head coach-nya saat itu adalah Hanafing. Lalu di pertengahan musim saya dipanggil Timnas Senior dengan head coach Nil Maizar untuk persiapan Piala AFF 2012 dan Pra Piala Asia 2013.

Bagaimana cerita awal terjun menjadi pelatih fisik?

Saya adalah pecinta sepakbola, passion saya di sepakbola dan saya dulu waktu mahasiswa kan pemain bola, karier saya yang paling tinggi di PSS.  Saat itu gaji pemain bola belum banyak, jadi latihan pagi sore tiap hari membuat kuliah saya terbengkalai yang kemudian hanya satu musim saya di PSS Sleman. PSS saat itu masih divisi satu dan belum masuk divisi utama. Saya putuskan untuk menyelesaikan studi. Saya memilih kuliah karena yang pertama, main bola saat itu belum ada gambaran masa depan, kuliah terbengkalai sehingga cukup satu musim saya di PSS. Kemudian saya selesaikan studi saya tapi tetap main bola, cuma saya hanya main di Ps. IKIP/UNY dan Tim POMNAS DIY.

Bagaimana mengatur waktu antara kesibukan sebagai dosen dan pelatih fisik?

Saya datang di PSS saat ini bertepatan dengan libur antar semester jadi saya punya waktu lebih longgar. Andaikan nanti di perjalanan kompetisi kemudian kuliah mulai masuk, ya bagaimana saya mengatur jadwal. Mahasiswa bisa kompromi, yang penting mahasiswa dan dosen bisa bekerjasama mengatur waktu. Dan selama ini saya tidak pernah ada kendala, pimpinan juga mendukung. Artinya ini kan bagian dari aktualisasi keilmuan. Dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi kan juga ada, nah saya termasuk dalam pengabdian kepada masyarakat dalam hal ini.

Apa fokus pelatihan untuk tim PSS musim 2018?

Tergantung periodisasi latihan. Pelatih fisik itu menyiapkan fisik agar bisa meningkatkan performa para pemain. Program saya harus sinkron dengan head coach. Head coach meminta kita biasanya kalau di periodisasi di satu bulan awal untuk persiapan umum dan seterusnya. Tapi kan persiapan kita tidak 3 bulan persis, kalau start melatih sekarang kurang lebih 1,5 bulan, sehingga kita harus bersinergi dengan program teknikal dan taktikal dari head coach. Metode seperti ini biasa disebut Integrated Training. Hari ini saya mendapat porsi penuh untuk melatih fisik sehingga saya latih endurance mereka sebagai dasar untuk meningkatkan fisik di komponen yang lain.

Apakah ada hambatan setelah bergabung dengan tim pelatih PSS?

Kalau hambatan relatif tidak ada. Cuma ketika saya deal dengan manajemen ada satu permintaan khusus dari saya yaitu diberi kelonggaran ketika saya harus menyelesaikan studi saya. Saya sekarang sedang menyelesaikan S3 di Semarang dan sekarang sudah masa akan masuk ujian disertasi. Kemarin saja libur saya gunakan waktu untuk ke Semarang. Jadi Senin dan Selasa saya di Semarang untuk bimbingan. Kedepannya saya akan mencari waktu yang sinkron dengan program latihan supaya saya juga bisa segera ujian. Kalau sudah mendapatkan gelar Doktor, saya pun akan lebih longgar dalam meluangkan waktu. Ya, itu kendala dan resiko yang harus saya ambil.

Bagaimana fisik pemain selama gelaran Coppa Sleman 2018 kemarin?

Jelas belum optimal, karena untuk persiapan hanya 1 minggu sampai 10 hari, sehingga kalau ditanya prediksinya berapa persen mungkin sekitar 85% kondisi fisiknya. Itu pun hanya di pertandingan pertama, pertandingan kedua agak turun, pertandingan ketiga agak naik lagi. Kalau nanti dalam kompetisi resmi seminggu sekali main, harus dalam kondisi fit. Itu tugas saya untuk bisa menyiapkan fisik para pemain.

Bagaimana grafik pemain secara fisik sejak terbentuknya tim?

Kalau tanya grafik pemain, itu harus diukur. Sebagai akademisi saya harus menggunakan pendekatan sport science. Maka kalau ditanya ada peningkatan atau tidak ya harus di ukur, harus tes lagi. Saya belum bisa mengatakan pastinya, tapi prediksi saya grafik mereka dalam kondisi meningkat dilihat dari kinerja mereka di lapangan. Untuk mengatakan berapa persentase kenaikan harus melaui tes dan pengukuran dan itu idealnya hanya bisa dilaksanakan 3 bulan setelah latihan. Tidak mungkin kita baru 1 bulan kemarin tes lalu sekarang tes lagi. Saya punya program akhir bulan ini akan saya tes bagi yang belum. Kan tes pertama tanggal 6 Januari itu hanya 14 pemain yang saya tes dari nanti mungkin sekitar 22 sampai 25 pemain. Itu sebagai dasar saya untuk meningkatkan fisik pemain.

Apa program kerja anda selama 1 musim ke depan di PSS?

Membuat periodisasi latihan selama satu musim yang bersinergi dengan program head coach. Jadi selain berpatokan pada program periodisasi latihan, saat kompetisi kita akan lihat dinamika pemain seperti apa, kondisi fisiknya bagaimana, mentalnya bagaimana, sehingga program bisa kita dinamisasikan dengan situasi dan kondisi pemain selama kompetisi berjalan.

Selain ke pemain, apakah anda juga membuat program pelatihan fisik ke tim pelatih juga?

Tidak..karena itu memang bukan tupoksi pelatih fisik.

Apakah ada ritual khusus untuk pemain before / after match?

Kalau ritual saya kembalikan ke masing-masing pemain. Menurut saya istilah tepatnya bukan ritual tapi lebih pada sugesti. Ada pemain yang sugestinya, mentalnya, atau psikisnya nyaman ketika dia mendengarkan musik. Ada sekitar 1-2 pemain memakai headset. Selain untuk menghilangkan kecemasan, itu bagian dari kegiatan mereka supaya lebih semangat lagi. Kemudian tentang aksesoris, selagi itu tidak dilarang dalam peraturan  pertandingan, silahkan saja digunakan jika itu dapat menambah sugesti dan percaya diri dalam bermain.

Bagaimana recovery  yang seharusnya dilakukan pemain?

Saya sudah mengajukan alat tambahan berupa kolam mini yang akan saya gunakan untuk recovery. Jadi setelah latihan berat akan masuk ke kolam air dingin supaya mereka recovery-nya cepat dan meminimalisir risiko cedera. Kalau dulu waktu saya di tim Persiram Raja Ampat itu beli tong besar, ada 3 tong. Setelah pertandingan atau latihan berat pemain masuk ke tong berisi air dingin selama 2 menit masing-masing pemain, keluar lagi, seperti itu terus selama 3 repetisi. Itu lebih cepat untuk recovery.

Apakah penyebab fisik rata-rata pemain lokal menurun di menit ke-70 ke atas saat bertanding?

Karena kondisi fisik (VO2Max) pemain secara umum masih dibawah 50/ml/dtk/kgBB. Kalau pengen main 90 menit secara konsisten itu target minimal VO2Max 60/ml/dtk/kgBB harus tercapai. Rata-rata hasil tes kemarin yang masuk 60 belum ada, baru 55. Itu pun hanya 1-2 pemain. Masih perlu peningkatan lagi. Kalau anda lihat di Liga Eropa, rata-rata VO2Max pemain 65-70. Jadi jangan heran mereka bermain dengan intensitas tinggi terus menerus selama 90 menit.

Bagaimana mengatur pola makan dan tidur pemain yang benar?

Kalau tidur yang jelas, itu jam 10 malam seharusnya sudah tidak boleh keluar. Tidur lebih cepat lebih bagus. Kemudian ada tidur siang, ada porsinya. Jadi setelah latihan seperti ini (latihan pagi) mereka makan, bersih-bersih, lalu istirahat. Meskipun istirahat 1-2 jam sebelum latihan sore itu juga diperlukan. Cuma memang tergantung pada masing-masing pemain, tergantung jiwa profesionalnya sampai mana. Banyak pemain yang bilang ke saya tidak bisa tidur siang, tapi aktifitas mereka jalan-jalan ke mall. Jalan ke mall jangan disangka tidak capek, kelihatannya saja tidak capek tapi sebenarnya ketika pulang kok terasa pegal-pegal. Jalan terus di mall itu kan juga lumayan. Harapan saya istirahat diperhatikan. Jam 10 malam sudah di dalam kamar, meskipun mungkin belum bisa tidur tapi setidaknya sudah ada di dalam ruangan dan tidak terkena angin malam, karena angin malam itu muncul jam 10 malam ke atas. Kenapa angin malam tidak bagus? Karena banyak CO2 yang diproduksi oleh pepohonan saat malam hingga pagi hari.

Berapa waktu ideal melatih fisik sebelum masuk materi strategi permainan?

Idealnya 2-3 bulan, tapi 1 bulan awal 80% khusus untuk melatih fisik. Kemudian bulan kedua fisik 60% teknik taktik 40%, dan kemudian bulan ke 3 porsi latihan fisik harus tetap ada. Jadi latihan fisik itu, dari mulai awal pembentukan tim sampai akhir termasuk saat transisi setelah kompetisi menuju kompetisi berikutnya, latihan fisik harus tetap ada, tetapi memang porsinya berbeda. Kalau di awal persiapan lebih banyak, tapi saat masuk kompetisi akan dilihat dari situasi dan kondisi.

Apa harapan anda untuk PSS Sleman musim 2018?

Harapan saya lebih baik dari musim sebelumnya. Kalau musim kemarin hampir promosi mestinya tahun ini promosi, kan gitu. Kalau semuanya mau saya yakin kita bisa. Karena tidak hanya pelatih unsur suksesnya, tapi juga manajemen, pemain, dan suporter. Fine, suporter. Jadi kami mohon kepada para suporter PSS dukung kami itu secara konstruktif. Maksudnya konstruktif, namanya main bola kadang menang kadang kalah. Jadi kalah didukung, menang disanjung. Jadi gitu, jangan kalau kalah malah makin diejek. Justru disanalah suporter berperan. Harapan saya seperti itu.

Apa harapan anda sebagai Dosen FIK UNY untuk PSS?

PSS masuk Liga 1 !

Apa doa anda untuk sepakbola Indonesia?

Semakin hari semakin baik. Profesionalitas para pelaku sepakbola baik pemain maupun pelatih, pengurus PSSI sendiri punya komitmen yang sama untuk memajukan sepakbola Indonesia. Jangan lagi menggunakan standar ganda. Standar ganda itu dimana kadang-kadang untuk orang atau tim tertentu, standarnya diturunkan. Yang harusnya kena sanksi tidak kena sanksi, tapi untuk tim-tim yang medioker kebawah sanksinya begitu tegas. Jadi harapan saya, pakailah standar yang sama, pakai statuta yang sama, implementasinya harus tegas. Saya sangat yakin kita akan bisa maju karena potensi kita sangat banyak. Kenapa Islandia yang penduduknya hanya 300.000 jiwa bisa mencapai Piala Dunia? Sedangkan kita yang penduduknya 250 juta lebih kita tidak bisa masuk Piala Dunia. Itu sebagai pekerjaan besar bagi kita terlebih talenta kita yang banyak sekali.

 Wawancara dilakukan setelah latihan pagi di Stadion UNY hari Rabu, 24 Januari 2018

Komentar
CampusBoys UNY

Dapat ditemui di akun @campusboys_UNY