Cerita

Laga 3×30 Menit Yang Efektif

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Jeda kompetisi Liga 2 kali ini memang seharusnya bisa dimanfaatkan dengan baik oleh para pesertanya guna menjaga kualitas dan mood bermain para pemainnya. Melakukan training center maupun mengadakan uji tanding adalah pilihan yang jamak dilakukan.

Dalam hal ini, Laskar Sembada, memilih untuk melakukan beberapa uji tanding pada bulan Ramadan ini. Selain melawan tim-tim lokal dalam kegiatan Safari Ramadan, skuat asuha Freddy Muli juga tentu saja mengadakan uji tanding melawan tim yang satu level dengan mereka.

Tim dari Kota Gadis, Madiun Putra FC, menjadi lawan pertama PSS Sleman pada hari Minggu, 4 Juni 2017 lalu. Pada laga yang berkesudahan 3-1 untuk kemenangan Super Elang Jawa tersebut, pertandingan digelar selama 3 babak dengan durasi 3×30 menit.

Banyak penonton yang tidak mengetahui aturan tersebut sebelumnya. Beberapa ada yang berpikir pada 30 menit jeda pertama adalah waktu untuk water break. Ada pula yang meninggalkan stadion pada 30 menit jeda kedua.

Pilihan menggelar pertandingan selama 3 babak dengan durasi masing-masing 30 menit tersebut menurut saya merupakan pilihan yang bijak, baik dilihat secara kondisi fisik para pemain maupun secara taktikal yang ingin diterapkan oleh tim pelatih.

Dilihat dari kondisi fisik para pemain, jelas waktu bermain yang relatif lebih pendek tersebut cukup signifikan. Kebanyakan para pemain PSS Sleman menganut agama Islam dan sedang menjalani ibadah puasa Ramadan.

Kondisi tersebut sedikit banyak tentu berpengaruh pada fitness para pemain. Jam latihan yang berkurang serta asupan nutrisi yang tereduksi tentu akan sangat berpengaruh pada kondisi fisik di atas lapangan. Tentunya, agar tidak ada hal yang tidak diharapkan, penyesuaian jam uji tanding serta durasi permainan sangat perlu diperhatikan.

Selain pertimbangan kondisi fisik pemain. Pemilihan durasi permainan sepeti pertandingan melawan Madiun Putra FC kemarin sangat baik untuk kebutuhan rotasi pemain dan uji taktik permainan oleh tim pelatih.

Uji tanding tidak melulu dilakukan untuk meraih hasil akhir. Di luar itu semua, uji tanding juga bisa dijadikan bahan eksperimen dan evaluasi menyeluruh di segala aspek. Para pemain yang selama ini jarang mendapat menit bermain bisa megasah dan menunjukan kemampuannya di laga eksebisi seperti ini.

Pada laga hari Minggu lalu, praktis permainan terbaik ditunjukkan pada babak pertama. Di mana para pemain utama memang mendominasi line up di awal babak dengan beberapa substitusi minor di lini belakang, tengah, dan depan.

Para pemain seperti Try Hamdani, Revi Agung, dan Toni Yuliandri yang jarang mendapat menit bermain ternyata menjunjukan performa yang cukup baik pada pertandingan tersebut. Walau sekedar uji tanding, match seperti ini penting untuk menaikkan moral mereka.

Selain itu, kebutuhan tim yang dapat diperolah dari laga tersebut adalah mencoba menutupi ketimpangan antara pemain utama dengan pemain pelapis. Banyaknya pemain cadangan yang biasa duduk di bench dan pada laga kemarin turun cukup lama diharapkan mampu menjadi pegangan serta gambaran pelatih jika suatu saat ada pemain utama yang cedera.

Akan menarik jika laga berikutnya melawan PSIS Semarang, tim tuan rumah bereksperimen lagi pada pertandingan uji tanding tersebut dengan memainkan seluruh pemain pelapis untuk turun di awal babak misalnya.

Berani tidak, coach?

Komentar
Ardita Nuzulkarnaen Azmi

Sleman Fans sejak dalam kandungan, bisa dikontak via akun Twitter @ardhi___ tapi ojo dibully ya...