Analisis

Melihat Lebih Dekat Duet Arie Sandy – Rian Miziar

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Pertandingan Liga 2 Indonesia kembali bergulir. Perjuangan PSS untuk mengejar target promosi pun kembali berlanjut. Dalam lanjutan putaran kedua ini, beberapa wajah baru menjalani laga debut. Rian Miziar dan Taufiq Febrianto akhirnya bisa mencicipi atmosfer pertandingan di Stadion Maguwoharjo saat PSS berhadapan dengan Persegres di pertandingan pekan ke-14 Liga 2.

Setelah menyelesaikan putaran pertama, lini belakang menjadi posisi yang paling banyak mengalami evaluasi dari tim pelatih. Hisyam Tolle, Sahrul Kurniawan, dan Yudi Khoerudin harus mengakhiri kerja sama dengan PSS pada lanjutan Liga 2. Untuk menggantikannya, Jodi Kustiawan dan Rian Miziar didatangkan ke Bumi Sembada. Arie Sandy pun menjadi opsi tambahan untuk mengisi lini belakang PSS.

Dengan cederanya Jodi dan Zamzani saat kompetisi libur Asian Games, lini belakang PSS hanya menyisakan Arie Sandy dan Rian Miziar. Sempat diduetkan pada uji tanding melawan PSIS Semarang, Arie Sandy – Rian melanjutkan kerja samanya pada pertandingan lanjutan Liga 2, Selasa (4/9) sore WIB. Bagaimana duet Arie Sandy – Rian dalam mengawal lini belakang PSS? Mari sedikit kita lihat lebih dekat performa kedua pemain ini pada pertandingan melawan Persegres.

Gambar 1. Grafik umpan Arie Sandy dan Rian Miziar pada pertandingan melawan Persegres di babak pertama.

Pertama, mari kita lihat penampilan keduanya saat menguasai bola. Seperti terlihat pada Gambar 1, Arie Sandy dan Rian banyak melakukan umpan dari dan ke daerah sendiri. Arie Sandy lebih banyak bergerak di sisi kanan, sedangkan Rian di sisi kiri. Pada babak pertama, PSS banyak mencoba membangun serangan dari lini belakang.

Kedua pemain berperan untuk menstabilkan penguasaan bola di lini belakang sebelum melepaskan umpan ke pemain di lini tengah atau umpan panjang melambung ke lini depan. Menghadapi Persegres yang mencoba membentuk pertahanan blok menengah, Arie Sandy dan Rian mencoba melepaskan umpan horizontal untuk menarik lawan keluar dari blok pertahanan dengan tujuan menciptakan celah di blok pertahanan lawan.

Bola kemudian akan diberikan pada pemain tengah atau ke fullback untuk mengeksploitasi celah yang tercipta. Dalam beberapa momen, Arie Sandy akan mencoba mengeskpliotasi sendiri ruang yang tercipta dengan melepaskan umpan ke pemain di ruang antar lini untuk melanjutkan progresi bola.

Gambar 2. Grafik umpan Arie Sandy dan Rian Miziar pada pertandingan melawan Persegres di babak kedua.

Pendekatan strategi dan taktik yang berbeda pada babak kedua dari kedua tim mengakibatkan perbedaan grafik umpan kedua pemain. Pada babak kedua, Persegres lebih bermain menyerang setelah kebobolan dua gol di babak pertama. Persegres lebih banyak menguasai bola, namun PSS mampu meminimalkan ruang bagi lawan untuk membangun serangan. Dengan keluar menyerang, Persegres sedikit kehilangan keseimbangannya, terutama saat bertahan.

Anak asuh Seto mencoba memanfaatkan momen ini untuk melakukan serangan menggunakan kombinasi umpan secara cepat untuk langsung menusuk ke pertahanan lawan. Umpan horizontal dari Arie Sandy dan Rian pun tidak sebanyak pada babak pertama. Pada babak kedua, beberapa kali, kedua pemain juga melepaskan umpan progresif, melalui umpan vertikal atau umpan diagonal ke pemain di lini tengah atau lini depan.

Meski bermain cukup bagus pada momen menguasai bola, terdapat beberapa hal yang masih perlu ditingkatkan oleh keduanya, secara pasangan dan secara individu. Pemilihan waktu, kapan harus melepaskan umpan, kapan harus tetap menguasai bola masih perlu ditingkatkan keduanya. Selain itu, posisi badan saat menerima umpan dan pergerakan saat mendukung pembawa bola juga menjadi hal yang masih bisa dioptimalkan dari kedua pemain ini.

Gambar 3. Intersep dan tekel yang dilakukan Arie Sandy dan Rian pada pertandingan melawan Persegres di babak pertama.

Bagaimana saat sedang tidak menguasai bola? Sama seperti pada momen menguasai bola, terdapat perbedaan aksi bertahan yang dilakukan oleh Arie Sandy dan Rian. Pada momen tidak menguasai bola ini, kita coba lihat dari aksi intersep dan tekel yang dilakukan keduanya. Pada Gambar 3, terlihat lokasi aksi intersep dan tekel yang dilakukan oleh kedua pemain.

Pada babak pertama, PSS mencoba bertahan dengan blok yang cukup tinggi untuk memudahkan dalam melakukan pressing untuk mengganggu bangun serangan lawan. Beberapa kali pemain Persegres melakukan umpan panjang melambung untuk melakukan progresi bola ke depan.

Dalam kondisi ini, Arie Sandy dan Rian harus siap melakukan penjagaan terhadap pemain depan lawan atau memotong umpan panjang melambung oleh lawan. Hal ini mengakibatkan keduanya justru terlihat banyak melakukan aksi intersep dan tekel di sekitar area sayap dan ruang apit (halfspace).

Gambar 4. Intersep dan tekel yang dilakukan Arie Sandy dan Rian pada pertandingan melawan Persegres di babak kedua.

Pada babak kedua, seperti terlihat dalam gambar 4, Arie Sandy dan Rian justru lebih sedikit melakukan aksi intersep dan tekel. Lebih sedikit intersep dan tekel yang dilakukan oleh keduanya di area sayap. Pada babak kedua, saat Persegres lebih aktif dalam menyerang, PSS cukup baik untuk bertahan dan mempersempit ruang bagi lawan untuk leluasa masuk ke daerah pertahanan. Dengan baiknya blok pertahanan PSS, Arie Sandy dan Rian menjadi lebih banyak terlibat dalam penjagaan ruang agar bola tidak bisa dengan bebas masuk ke daerah pertahanan Super Elja.

Meski keduanya terlihat cukup baik saat bergantian menjaga lawan dan menjaga ruang, terdapat beberapa catatan yang perlu diperhatikan. Rian sering terlihat terlalu asyik mengikuti lawan sehingga terlalu jauh meninggalkan posisinya di lini belakang. Selain itu, timing saat harus melakukan tekel atau menekan lawan untuk mempersulit pergerakan lawan harus ditingkatkan. Soal kecepatan, Rian sebagai bek senior harusnya mampu mengatasinya. Jika kurang cepat menggunakan kaki, dia harus bisa cepat dalam menggunakan pikirannya untuk berada di posisi yang tepat. Semoga pengalaman bermainnya bisa membantu.

Arie Sandy dan Rian bermain cukup baik saat melawan Persegres. Namun tetap terdapat beberapa catatan yang tentu harus ditingkatkan oleh keduanya. Saat Zamzani dan Jodi harus menepi untuk pemulihan, Arie Sandy dan Rian sudah menunjukkan pada tim pelatih gaya bermain mereka.

Saat semua pemain sudah pulih, coach Seto dan tim pun akan lebih mudah menentukan siapa duet yang akan dipasang di lini belakang karena sudah lebih mengerti tentang kelebihan dan kelemahan tiap pemain. Semoga persaingan pemain di lini belakang ini mampu mendorong tiap pemain untuk terus meningkatkan kemampuannya. Peningkatan kemampuan individu yang tentu akan berdampak pada peningkatan kemampuan tim PSS Sleman.

Komentar
Dani Rayoga

Football Addict | Physics Lovers | @DaniBRayoga