Analisis

Memahami Sepakbola Pragmatis Freddy Muli

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Dalam dunia sepakbola banyak dikenal berbagai gaya permainan, mulai dari Cattenacio dari Italy, Inggris dengan Kick And Rush , Brazil dengan sepakbola indah Jogo Bonito, Spanyol yang terkenal dengan Tiki Taka, Belanda dengan Total Football , dan masih banyak lagi.

Dari sekian banyak gaya permainan tadi masih ada satu gaya sepakbola yang satu dekade ini melekat pada  salah satu pelatih “terbaik” di dunia Jose Mourinho: sepakbola pragmatis.

Jika dilihat dari definisi secara singkat, pragmatisme adalah suatu pandangan yang berlandaskan pada tujuan yang praktis. Orang yang mempunyai sifat pragmatis ini menginginkan segala sesuatu yang dikerjakan atau yang diharapkan segera tercapai tanpa mau berfikir panjang.

Kepraktisan ini yang akan menghambat pemikiran seseorang untuk mengeksplorasi pemikirannya. Sehingga mereka tidak lagi berfikiran secara kritis ketika menghadapi sebuah permasalahan.

Pun begitu dengan sepakbola pragmatis, yang hanya berfokus pada hasil akhir tanpa mementingkan proses. Dalam hal ini mari kita ambil contoh final Liga Eropa yang mempertemukan Manchester United melawan Ajax.

Manchester United dikecam karena memainkan sepakbola bertahan, “parkir bus”, melawan sekumpulan anak muda. Jose Mourinho berkelit, bahwa membuat tim lawan tidak bisa berkembang juga merupakan bagian dari stategi.  Inilah sepakbola pragmatis, yang penting adalah hasil akhir.

Sepakbola dengan gaya bermain pragmatis sebenarnya banyak di kecam oleh para penikmat sepakbola. Hal ini karena gaya ini sangat kental dengan negatif football. Tim yang menerapkan strategi ini biasanya akan bermain “sabar” dan menunggu; bermain aman dengan mengandalkan efek kejut berupa serangan balik yang mematikan.

Bisa dibilang permainan sepakbola ini sangat membosankan dan tak enak untuk dilihat, namun mengedepankan sepakbola yang efektif dalam memanfaatkan momentum setiap serangan.

Penulis adalah salah satu orang yang menyadari, bahwa sepakbola yang diterapkan Freddy Muli bukanlah sepakbola yang mengedepankan ball possession seperti Spanyol, atau sepakbola indah Jogo Bonito seperti Brazil ataupun Total Football seperti Belanda.

Jika kalian mencermati permainan PSS Sleman di bawah asuhan Freddy Muli, pasti akan berpendapat bahwa permainan Super Elja musim ini mebosankan dan sama sekali tidak menghibur. Yang Freddy Muli cari hanyalah mencetak gol lebih banyak dari lawan dan meraih kemenangan.

Apakah terdengar seperti sepakbola pragmatis?

Lalu kenapa Laskar Sembada selalu bisa meraih hasil postif dan minim dalam hal kebobolan? Jawabannya sederhana saja, karena PSS memiliki skuat yang lebih superior di bandingkan tim-tim lain di grup 3, PSS memiliki skuat yang bertabur bintang.

Hampir di semua lini PSS memiliki pemain yang mempunyai kemampuan di atas rata-rata.

Nampaknya sistem permainan yang di anut seorang Freddy Muli adalah sederhana,  perkuat lini pertahanan, jangan beri celah kepada lawan untuk memasuki kotak penalti, lalu balas dan kirimkanlah bola kepada kedua sayap, tak perlu serangan balik cepat namun yang terpenting terorganisir dan efektif dalam memanfaatkan setiap momentum.

Bisa kita lihat sendiri , selama ini PSS adalah tim yang bermain lambat namun bisa mencetak 9 gol dan hanya 1 kebobolan. Bagaimana tidak? Di lini belakang PSS mempunyai dua tembok kokoh Waluyo dan Jodi Kustiawan.

Mereka berdua bagaikan tembok raksasa Cina yang akan membendung setiap serangan pemain lawan. Dan di sektor depan tim Laskar Sembada punya pemain berpengalaman sekaliber Rizky Novriansyah, dia kuat, cepat dan punya naluri gol yang cukup baik.

Namun ketika tim Laskar Sembada sudah unggul, PSS lebih terkesan bermain hanya muter-muter di sektor belakang. Mereka lebih seperti bermain aman dan mempertahankan keunggulan. Mungkin ini yang membuat Sleman Fans banyak yang mengkritik permainan PSS kurang atraktif dan sangat monoton.

Memang para pemain PSS selama ini tidak bermain dengan dribble yang indah nan memukau, gocekan yang lihai atau umpan satu dua sentuhan nan cantik. Namun sangat tak masuk akal jika kita harus meminta PSS Sleman bermain indah ala Jogo Bonito seperti Brazil yang di bawah kendali hipnotis seorang balerina handal bernama Neymar atau menyerang secara sporadis bagaikan embel-embel Total Football Belanda. Karena gaya bermain yang dianut FM adalah keefektifan dan efisiensi permainan (walaupun belum efektif wkwkwk).

Sejatinya sepakbola adalah permainan yang memang untuk dimenangkan. Efisien dan solid adalah dua kata yang bisa menggambarkan permainan PSS Sleman musim ini. Memang tidak sepenuhnya sempurna, seperti tentang efektif; banyak peluang terbuang sia-sia karena para pemain tidak bermain dengan efektif.

Akhir kata mungkin permainan menghibur tidak bisa diberikan oleh seorang Freddy Muli. Namun yang akan dia beri pada suporter dan para pecinta PSS Sleman adalah mencatatkan nama PSS Sleman dalam buku sejarah persepakbolaan Indonesia yaitu gelar juara dan promosi ke kasta tertinggi.

Mungkin FM terinspirasi dari salah satu chants yang sering dinyanyikan oleh Sleman Fans “Asal Kau Menang Ku Bahagia”

Komentar

Comments are closed.