Cerita

Membaca Pesan Damai Lewat Kalimat Romatis: Makan Tahu-Tempe, Teriak Ale-Ale !!

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Medio tahun 1990-an Liga Italia sedang jaya-jayanya dan disiarkan di televisi Indonesia. Hal tersebut membuat basis penggemar klub serie-A seperti Juventus, AS Roma, AC Milan, dll. menjamur di Indonesia. Saya berasumsi ketika persepakbolaan Indonesia mulai menggeliat sekitar tahun 2000-an awal dan jargon “support your local team” mulai bergema, tak mengherankan jika pada akhirnya banyak suporter sepakbola yang mengadopsi gaya suporter yang berkiblat ke arah “Italy”.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah wajar kita yang notabene orang Indonesia mengadopsi “gaya Italy” dalam memberikan dukungan untuk klub lokal kebanggaan kita? Apakah tidak terdengar lucu meneriakkan “ale-ale”, sedangkan sensor lidah kita terbiasa merasakan tahu-tempe?

Dalam ilmu dunia inovasi dikenal istilah ATM (amati, tiru, modifikasi). Kata kunci di sini adalah modifikasi. Hal tersebut membuat identitas orisinil akan tetap ada bahkan menyatu dan tidak perlu melebur begitu saja (menelan mentah-mentah apa yang kita amati dan tiru).

Masalah yang kemudian muncul adalah ketika konsep ATP (amati, tiru, plek/jiplak) dijadikan rujukan primer, terutama masalah ideologi, dampak budaya, dan kondisi sosial. Misalnya, tidak jarang kekerasan antar supporter di Eropa dianggap keren sebagai eksistensi supporter klub di Indonesia, demi pengakuan atas nama ultras maupun hooliganisme.

Pernah seorang ultras CSKA Moskow melayangkan keberatan tentang pertarungan yang tidak adil dengan ultras Italia di situs forum ultras. Ia protes karena ultras Italia melanggar kode etik ultras, yaitu menggunakan senjata tajam.

Mereka di Eropa lebih fair dalam memandang perkelahian sebagai seorang laki-laki. Jumlah yang sama dan menggunakan tangan kosong tanpa senjata. Dan yang terpenting adalah: TIDAK SAMPAI MEMBUNUH. Sama halnya dengan kejadian Ultras Slask Wroclaw yang menyerang Ultras Sevilla. Tujuan mereka bukan mencari nyawa musuh, melainkan merebut banner atau spanduk lawan.

Kesalahpahaman yang harus segera kita hentikan jika aksi kekerasan supporter Indonesia merupakan implementasi dari sepakbola Eropa.

Kesalahapahaman akan hal yang sebenarnya sepele menjadi salah satu faktor terjadinya kekerasan dalam sepakbola di Indonesia. Orang Jawa menyebutnya, “kriwikan dadi grojogan”. Berawal dari oknum yang saling ejek, ketidakpuasan akan hasil pertandingan, dll. Belum lagi banyak kenakalan remaja, genk motor, yang menyalurkan hasrat energi berlebih yang mereka miliki dengan cara yang kurang tepat dalam dunia persuporteran.

Sebuah pandangan menarik dalam budaya Jawa menurut Koentjaraningrat (1981 dalam Sedyawati, 2003) bahwa orang Jawa memandang hidup sangat dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu dan konsep religiusitas yang didasarkan penghormatan. Tidak hanya orang Jawa sebenarnya, melainkan orang Indonesia memiliki bakat untuk rukun dan bersatu. Pertandingan tim nasional Indonesia tiap berlaga menjadi saksi abadi.

Belum lama ini mas Batak Jore (capo BCS) dan Mas Ferdian Uyok (dirigen Pasoepati) memimpin barisan supporter Indonesia ketika melawan Puerto Rico. Mereka yang pernah berselisih paham rela berbesar hati dan meninggalkan ego dan identitas kedaerahannya demi satu nama: Indonesia.

Salah seorang teman saya pernah bergurau, “kita semua supporter Indonesia dapat bersatu jikalau mempunyai musuh yang sama dan kuat”. Sama halnya dulu ketika kita masih terjajah oleh bangsa asing. Kita mampu dan mau bersatu dengan sumpah pemuda yang melegenda itu. Sekarang, untuk kita suporter maupun penggemar sepakbola, musuh kita hanya dua: ego kita masing-masing dan mafia wasit.

 

 

Komentar

Comments are closed.