Analisis

Membandingkan PSS Sleman Era Seto dengan Era Freddy Muli

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Sepakbola sekarang ini sudah memasuki era modern. Gaya bermain operan pendek kaki ke kaki telah terbukti menjadi gaya bermain yang bisa di bilang efektif untuk saat ini jika kita membicara soal gaya bermain yang mengedepankan ball possession.

Gaya bermain sepakbola sekarang adalah lebih ke all about possession, retaining the ball, dan yang paling utama adalah controlling the game.

Bicara mengenai  gaya bermain PSS Sleman sekarang ini pasti tidak jauh dari Freddy Muli dan bicara mengenai gaya bermain Super Elang Jawa musim lalu, pasti tidak jauh dari Seto Nurdiyantara.

PSS Sleman di era Freddy Muli ini merupakan PSS yang bermain sangat konvensional menurut penulis. Gaya bermain yang terkesan tradisional, yang mejadikan permainan Laskar Sembada musim ini terlihat kaku dan sangat membosankan.

Menurut penulis gaya bermain Super Elja agak lambat dan monoton dibanding saat ditangani Seto Nurdiyantara. Di bawah asuhan Seto, PSS adalah tim yang bermain dengan umpan cepat satu dua dan lebih mengandalkan ball possession.

Dengan formasi 4-2-3-1, Seto lebih bisa menjaga keseimbangan lini tengah dibanding formasi 4-3-3 milik Freddy Muli. Lini tengah merupakan kunci bagi setiap tim sepakbola, ketika lini tengah dapat mencapai keseimbangan, maka build up dan transisi permainan akan baik dan efektif.

PSS sekarang ini adalah tim yang sangat bergantung pada sisi sayap. Super Elja lebih mengandalkan penetrasi yang kemudian diakhiri umpan crossing. Tercatat selama 5 pertandingan awal liga musim ini PSS melakukan 109x crossing dengan persentase keberhasilan hanya 26%. Tactical yang tidak efektif.

Kita bisa melihat di dua uji tanding terakhir saat melawan Madiun Putra dan PSIS Semarang, Permainan Laskar Sembada terlihat sangat monoton dan mudah dibaca. Ketika bola dikuasai , bola akan didistribusikan ke sisi sayap. PSS jarang sekali membangun serangan lewat tengah dengan umpan-umpan pendek dan throughball seperti di era kepelatihan Seto.

Kelebihan PSS Sleman di era Freddy Muli adalah di lini pertahanan. Lini pertahanan PSS musim ini sangat solid. Jodi, Waluyo, dan Teddy bermain sangat impresif dan sesuai dengan harapan. Ditambah dengan ketenangan seorang Bagus Nirwanto yang membuat mereka lebih solid lagi. Dan kekurangan  era Freddy Muli ada pada lini tengah dan lini depan.

Lini tengah musim ini jauh sekali dari kata memuaskan. Trio gelandang Arie Sandy, Busari, dan Dirga belum memerankan tugasnya dengan baik. Masih kurang konsisten dan sering angin-anginan. Dan ketika PSS kehilangan salah satu dari pemain ini, maka akan terlihat sekali jomplangnya kualitas antara pemain pengganti dan pemain utama di tim Laskar Sembada.

Sedangkan lini depan PSS musim ini terlihat lemah dalam finishingtouch. Contoh saja di pertandingan terakhir melawan PSIS Semarang. Dari 16x tembakan yang dilakukan, tim Super Elja hanya mampu melesatkan 1 gol.

Sedangkan jika dibanding era Seto, lini tengah dan depan sedikit lebih baik daripada era Freddy Muli. Lini tengah PSS di era Seto lebih terorganisir, karena dibantu dengan adanya Dave Mustaine kala itu yang bisa mengubah permainan dan membuat lini tengah lebih hidup.

Lini tengah PSS merupakan salah satu komposisi lini tengah terbaik di gelaran ISC B 2016. Dan kelemahan PSS di era Seto ada di lini pertahanan, terutama di sisi fullback kiri yang ditempati Eka Angger.

Permainan cantik satu dua yang musim lalu sering diperagakan, musim ini sama sekali tidak terlihat. Permainan dengan mengeksploitasi lini tengah yang musim lalu menjadi taktik PSS, musim ini seperti hilang ditelan bumi.

PSS sekarang ini lebih berorientasi kepada penyerangan melalui sayapnya. Padahal bila kita melihat di lini tengah, Laskar Sembada mempunyai dua sosok pemain yang punya kualitas bagus yaitu Busari dan Dirga yang punya visi bermain cukup bagus dan punya umpan akurat.

Jika PSS terus mengandalkan kedua sayapnya, maka calon lawan akan mudah dalam mengantisipasi gaya bermain Super Elja. Apalagi jika PSS bertemu dengan tim yang kualitasnya sepadan, maka permainan PSS tidak akan berkembang. Contoh saja saat PSS menjamu PSIS Semarang, tim asuhan Freddy Muli tidak bisa berkembang sama sekali.

Jarang sekali kita melihat adanya perubahan tahtik ketika permainan di atas lapangan tidak berkembang. Ketika taktik tidak berjalan, pelatih tidak mencoba alternatif lain dan masih saja dengan taktik itu-itu saja. Ini sama seperti musim lalu di era Seto, ketika permainan buntu pelatih tidak mempunya opsi lain.

Tulisan ini sebenarnya tidak bermaksud untuk membandingkan antara kualitas kedua pelatih. Karena antara Coach Freddy dan Seto mempunyai keunggulan dan kelemahan masing-masing. Dan setiap pelatih juga  mempunyai filosofi dan gaya bermainnya sendiri.

Tugas kita sekarang ini adalah tetap percaya dan yakin kepada pelatih PSS Sleman musim ini. Semoga Coach Freddy dengan gaya bermainnya yang kaku dan membosankan ini bisa membawa Super Elja meraih kejayaannya.

Komentar