Editorial

Memimpikan Sleman Kota Sepakbola

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Sleman dalam beberapa tahun belakangan ini kerap menjadi pembicaraan publik sepakbola Indonesia, bahkan juga internasional. Kerap disebut sebagai salah satu kota (kabupaten) yang sangat kental dengan atmosfir sepakbola.

Tentu hal itu di satu sisi membanggakan. PSS Sleman yang masih berada di level kedua kompetisi sepakbola ternyata dikenal secara luas dan punya nama yang baik di benak pencinta sepakbola.

Di sisi lain, kenyataan itu juga menjadi tantangan tersendiri. Apakah kita akan puas dengan apa yang kita capai hari ini?

Cukup disanjung di media sosial. Puas dengan kebanggaan yang berada di Liga 2. Bangga dengan kelompok suporter yang kreatif. Apakah itu semua sudah cukup?

Cukup atau tidak memang relatif. Tapi, apa yang kita peroleh hari ini alangkah baiknya membuat kita terus berpacu untuk melakukan perbaikan. Mengejar mimpi-mimpi yang lain, yang selama ini belum pernah kita capai atau mungkin belum terpikirkan.

Seperti mimpi liar saya tentang: Sleman Kota Sepakbola. Mimpi yang kelihatannya muluk-muluk, tapi rasanya sah-sah saja kita memimpikan hal tersebut.

PSS luar biasa, begitu pula dengan teman-teman suporter. Tapi, kegairahan akan sepakbola sebaiknya tidak hanya berhenti di situ. Sepakbola perlu hadir di dekat rumah kita, ada bola yang dimainkan terus menerus di kaki kita dan adik-adik kita, ada perbincangan sepakbola yang tiada habisnya.

Oleh karenanya, kegairahan sepakbola perlu terus menerus dipelihara. Bacaan mengenai PSS dan sepakbola perlu terus dibaca, disebarkan, dan diperbincangkan.

Hingga nantinya, kita secara bersama menyusun apa itu mimpi Sleman Kota Sepakbola. Saya membayangkan PSS sebagai klub satu-satunya di Sleman membuka akademi sepakbola yang akan jadi kawah candradimuka talenta muda dari seluruh penjuru Sleman.

Akademi tersebut disuplai dari SSB yang tersebar di berbagai wilayah Sleman. Semuanya dikelola dengan baik. Profesional, transparan, dan metode pelatihannya berkualitas.

Suatu saat, walaupun mungkin tak akan sekeren Barcelona dengan La Masia, lima atau sepuluh tahun mendatang kita akan begitu bangga ada 8 anak Sleman yang diturunkan sebagai pemain inti PSS yang di waktu itu sudah jadi salah satu kekuatan besar sepakbola Indonesia, bahkan Asia Tenggara.

Kita, yang tak bisa menyepak bola dengan benar ini, cukup menjadi penyokong. Mengawal klub ini agar terus berbenah menjadi sebuah klub yang profesional seutuhnya. Memelihara kegairahan akan sepakbola. Memberi semangat agar seluruh stakeholder senantiasa berjalan sesuai dengan jalan yang telah ditentukan.

Semuanya tentu tidak mudah. Dan ini hanya akan jadi mimpi saja jika ternyata hanya saya yang memiliki mimpi seperti ini.

Namun, jika Sleman Fans juga memiliki mimpi serupa, ini tak akan lagi jadi mimpi. Seperti apa yang pernah dikatakan oleh John Lennon, “A dream you dream alone is only a dream. A dream you dream together is reality.”

Komentar
Joko Sembada

Menanti waktu untuk menikmati teh di beranda rumah bersamamu, dik...