Opini

Menakar Kemungkinan Kembalinya Jodi ke Sleman

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Ketatnya jadwal Liga 2 membuat tim mana saja harus berpikir keras untuk menyiapkan formula terbaik dalam menghadapi pertandingan yang dijalani. Mengikuti 2 kompetisi musim ini (Liga 2 dan Piala Indonesia), para kontestan tentu berharap banyak pada kedalaman skuat yang dimiliki. Hal tersebut menjadi pekerjaan besar yang perlu mendapat perhatian lebih dari setiap manajemen tim, tak terkecuali PSS Sleman.

Harus diakui bahwa PSS kini sedang mengalami krisis pemain, terutama di sektor belakang dan depan. Di sektor depan, Made Wirahadi mengalami cedera yang masih belum  jelas waktu pemulihannya. Cristian Gonzales yang digadang-gadang menjadi juru gedor utama musim ini juga makin tidak jelas perkembangan kasus yang dialaminya.

Sementara satu-satunya pemain depan yang tersisa, Tambun Naibaho, kerap angin-anginan performanya. Di laga terakhir melawan Kalteng Putra posisinya justru digeser oleh Adi Nugroho yang bukan merupakan striker murni.

Kondisi di lini belakang kurang lebih sama. Seto tidak punya banyak pilihan terutama untuk posisi bek tengah. Hisyam Tolle, Hamdan Zamzani, Yudi Khoerudin, serta M. Sahrul menjadi keempat pemain yang mengisi pos ini. Praktis selama menggantikan Herkis sebagai pelatih kepala, Seto hanya bergantung pada duet Hisyam-Zamzani yang merupakan pemain lawas PSS. Sementara, dua pemain lainnya hingga saat ini belum menunjukkan performa yang membaik.

Dari tujuh laga musim ini, Super Elja hanya berhasil menorehkan catatan tanpa kemasukan gol sebanyak dua kali. Di lima laga sisanya, para kompetitor berhasil mengoyak gawang PSS total sebanyak 6 kali.

Fakta di atas semakin menegaskan bahwa lini belakang merupakan sektor yang perlu mendapat perhatian lebih untuk diperbaiki. Akan menjadi tidak baik bagi PSS jika terus mengandalkan duet Hisyam dan Zamzani di setiap laga. Jadwal tanding yang ketat dan intensitas laga yang tinggi lama-kelamaan tentu akan menggerogoti kebugaran si pemain.

Pilihan paling rasional untuk menyelesaikan problem di lini belakang adalah mendatangkan pemain berkualitas. Cara ini merupakan jalan pintas yang mesti diambil mengingat tim sedang dihadapkan pada jadwal yang ketat. Selain masalah jadwal, mendatangkan pemain “jadi” akan mempermudah kerja pelatih dalam menentukan komposisi di lini belakang.

Liga 2 2018 akan mengakhiri paruh pertamanya di akhir bulan Juli ini. Bertepatan dengan periode tersebut, bursa transfer Liga 2 juga turut dibuka. Untuk Liga 1 bursa transfer justru sudah dimulai karena mereka mempergunakan jasa pemain asing dan mengikuti jadwal transfer internasional, Transfer Matching System (TMS) FIFA.

Adanya aktivitas transfer di Liga 1 ini bisa menjadi kesempatan bagi PSS untuk mencari pemain yang dibutuhkan. Walau jadwal transfer Liga 2 masih sekitar setengah bulan lagi, paling tidak pihak klub bisa menjajaki kesepakatan personal dengan pemain yang bersangkutan.

Ada banyak pemain bagus di Liga 1 yang bisa menjadi incaran PSS untuk mengisi posisi bek tengah. Masalahnya adalah tidak semua pemain Liga 1 mau turun kasta dan berkompetisi di Liga 2. Uang tidak serta merta berbicara banyak di sini. PSS mungkin sanggup membayar gaji dengan level Liga 1, namun belum tentu bisa membeli kemauan si pemain untuk bermain di Liga 2.

Dengan pertimbangan tersebut, harus ada kejelian dalam membidik calon rekrutan anyar. Pemain yang masih aktif di Liga 1 sebagai pemain reguler tentu akan sulit digoda untuk bergabung dengan PSS. Jadi, jangan berharap bisa memulangkan Fahrudin atau Bagas Adi dalam waktu dekat ini.

Dari pertimbangan di atas, agar PSS bisa mendapat pemain bagus dari Liga 1 jalan paling terbuka adalah mengarahkan pandangan ke bangku cadangan. Para pelapis ini kualitasnya tentu tidak terlalu jauh dengan pemain utama untuk level Liga 1. Mereka menjadi pelapis karena faktor konsistensi pemain utama. Inilah yang terjadi dengan Jodi Kustiawan, mantan pemain PSS yang kini membela Persela Lamongan.

Jodi adalah pemain yang bagus. Duetnya bersama Waluyo dalam dua musim ke belakang seolah sulit tergantikan oleh pemain lain di PSS. Dengan usia yang masih muda serta kualitas permainan yang terus naik, tak heran jika Persela Lamongan tertarik menggunakan jasanya di awal musim lalu. Terlebih, Jodi tentu silau akan panggung Liga 1. Siapa yang tidak tertarik bermain di Liga 1, sih?

Sayangnya nasib baik belum menaungi Jodi di Liga 1. Ia hanya menjadi pilihan kedua Aji Santoso. Duet Arif Satria dan Wallace Costa seakan sulit digantikan pemain lain. Apalagi performa keduanya sangat menopang Persela yang menunjukan permainan apik musim ini.

Jodi mungkin bisa sabar menunggu untuk dipercaya Aji menjadi pemain utama. Namun masalahnya, sampai kapan? Ia adalah pemain muda yang butuh berkembang dan bermain reguler setiap pekannya. Ia butuh berkompetisi agar kemampuan dan visi bermain bolanya menaik. Intinya, menjadi penghangat bangku cadangan bukan pilihan bagus bagi Jodi. Bagi kemampuannya, dan tentu saja bagi karirnya.

Kembali ke PSS adalah jalan terbaik baginya. Entah statusnya sebagai pemain yang dilepas Persela secara permanen atau hanya pinjaman, keduanya akan baik bagi Jodi. Keterikatan moral antara Jodi dan PSS akan mempermudahnya beradaptasi. Sebelumnya ia juga pernah bekerja bersama Seto. Secara teknis, tidak akan ada banyak kendala apabila ia memperkuat PSS di paruh kedua.

PSS butuh Jodi. Jodi butuh PSS. Sekarang tinggal bagaimana manajemen berkomunikasi dengan Jodi dan Persela Lamongan untuk membawa si pemain pulang ke “rumah”.

 

Komentar
Ardita Nuzulkarnaen Azmi

Sleman Fans sejak dalam kandungan, bisa dikontak via akun Twitter @ardhi___ tapi ojo dibully ya...