Cerita

Menangisi Sepakbola, dan Bagaimana Saya Jatuh Cinta Kepada PSS Sleman

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Apakah sebagai seorang laki laki yang begitu mencintai sepakbola, sampai hujan air mata itu sebuah kesalahan? Tidak!

Asal kau tahu, menjadi laki-laki itu tak harus selalu berkeras hati. Ketika air matamu menetes, itu adalah pertanda bahwa kau lelah menjatuhkan dirimu sejatuh-jatuhnya kepada suatu hal, atau dengan kata lain bisa kita sebut jatuh cinta. Semua hal bisa membuat kita jatuh cinta, salah satunya adalah sepakbola.

Bukankah jatuh cinta itu perihal kasih sayang? Gelak tawa dan air mata? dan segala bentuk emosi yang tercipta karenanya? karena itu kita tak seharusnya pergi menjauh ketika hal yang kita sayangi sedang berada dalam posisi di bawah, karena memang sejatinya seperti itulah bentuk jatuh cinta dan kasih sayang yang hakiki. Memang seperti itulah macam fase dalam mencintai, ia tak melulu tentang gelak tawa dan pelukan bahagia, akan ada fase di mana cobaan datang. Dengan tujuan untuk menguatkan cinta yang ada.

Saya kemudian berfikir mundur beberapa tahun ke belakang, ketika bagaimana saya pertama kali menjatuhkan hati saya kepada PSS Sleman. Tak ada figur yang menurunkan dan mengajarkan kepada saya bagaimana saya harus mencintai kultur dan tim bola di tanah kelahiran saya, semuanya saya bangun dan saya perjuangkan sendirian. Slogan “From Father to Son” tak pernah saya rasakan, bahkan keluarga saya jauh dari dunia sepak bola.

Saya ingat betul bagaimana dari waktu ke waktu ketika perasaan saya dibuat naik turun tak karuan karena PSS Sleman, tapi dari situ saya belajar bagaimana bertahan dalam sebuah perasaan cinta terhadap suatu hal. Bagaimana merasakan marah tanpa perlu meninggalkan, berusaha bangkit bersama saat sedang jatuh-jatuhnya. Menyakitkan memang, tapi begitulah jatuh cinta. Saya belajar banyak seiring waktu saya mencintai PSS Sleman.

Ketika kita jatuh cinta dengan sepak bola, akan ada menang dan kalah, datang dan pergi, kebahagiaan dan kekecewaan. Semuanya berbalut emosi, karena cinta memang salah satu bentuk dari emosi. Pun begitu ketika saya mencintai PSS Sleman. Semua rasa di atas pernah saya rasakan.

Jatuh cinta juga membuat kita melakukan hal-hal yang tidak masuk akal. Sibuk mencuri-curi waktu untuk pergi ke stadion di sela sela kerja atau saat perkuliahan. Dengan berjuta alasan, yang paling sering adalah dengan surat dokter. Kadang di surat dokter tertulis diagnosis parah seperti “sakit muntaber” atau “radang amandel parah”.

Berpamitan kepada kekasih dengan alasan “ingin membantu teman memanen lele” hanya untuk menyaksikan PSS berlaga. Kemudian hari berikutnya kita sibuk merapal doa kepada Tuhan agar tak terkena azab mendapat penyakit penyakit kurang ajar seperti yang kita tulis pada surat dokter tadi.

Mencintai PSS itu layaknya berharap kepada cuaca atau keberuntungan, kau tak akan pernah tahu persis bagaimana hari-harimu akan berlalu, dipapar panas matahari pagi hari, kemudian malamnya masuk angin di pojokan kamar karena terkena hujan badai di sore hari.

Tapi hal-hal semacam itulah yang seringkali membuat kita banyak belajar, bahwa sejatinya rasa cinta dan kasih sayang yang tulus itu akan mendorong kita percaya bahwa semesta itu sungguh adil, bahwa ada makna dibalik semua peristiwa. Di setiap keterpurukan PSS Sleman, pasti tersimpan rencana hebat yang untuk sebuah kebangkitan.

Menangis bisa merupakan wujud dari kegembiraan, juga bisa wujud dari kekecewaan. Gembira dan Kecewa, hal yang sering kita temukan dalam dunia sepak bola. Ketika tim kalah, menang, ditinggal pergi pemain idola, gagal meraih piala, semua hal ini melibatkan emosi.

Wajar jika kita meneteskan air mata. Dari hal itu, tangis untuk PSS bukanlah sebuah kesalahan atau hal yang memalukan. Karena ketika kita mengangisi sesuatu, itu berarti kita menyayanginya sepenuh hati. Dan jika ada hal yang membuat saya tertawa dan menangis dalam satu waktu yang bersamaan, maka itu adalah tim kebanggaan dan kesayangan saya, PSS Sleman.

#PekanMenulisSlemanFans

Komentar