Analisis

Mengenal Skema Up-Back-Through sebagai Alternatif Build Up PSS Sleman

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Pembagian Zona Lapangan

Untuk mengawali artikel ini, saya ingin menjelaskan tentang pembagian zona dan koridor di lapangan. Jika Anda sudah paham, bagian ini dapat anda lewati.

Pembagian zona yang biasa dipakai adalah pembagian zona ala Louis Van Gaal. Beliau membagi lapangan menjadi 18 zona. Zona 1 hingga 9 berada di daerah pertahanan sendiri, sedangkan zona 10 sampai 18 berada di pertahanan lawan.

Build Up yang Sering Dipakai PSS Sleman

Beberapa pertandingan terakhir, PSS Sleman kesulitan menembus pressing pemain lawan saat melakukan bulid up. Ketika membangun serangan dari kiper, Jodi Kustiawan dan Waluyo (di pertandingan terakhir Arie Sandy dan Muhammad Hamdan Zamzani) akan berada di zona 5. Sementara gelandang bertahan, biasanya Arie Sandy (di pertandingan terakhir dilakukan oleh Wahyu Sukarta) turun membelah kedua bek dan berada di zona yang sama.

Salah satu dari ketiga pemain di zona 5 ini akan menerima bola dari kiper untuk dialirkan ke pemain lainnya. Di sinilah mulai ada masalah. Pemain lawan kerap kali membentuk blok pressing di zona 8 untuk memutus akses ke gelandang lain seperti Dirga dan Busari.

Solusi sampai saat ini yang sering dilakukan adalah mengirim umpan kepada kedua fullback, Tedi Berlian dan Bagus Nirwanto. Kedua fullback ini sebenarnya telah masuk ke zona 10 dan 12, tapi terpaksa turun lagi untuk menerima bola.

Setelah itu, sama saja masih sulit untuk menembus pressing lawan. Akhirnya bola langsung diumpankan lambung jauh ke depan kepada trio lini depan. Trio lini depan ini biasanya langsung melakukan progresi ke depan yang kerap kali gagal karena mudah dibaca oleh pertahanan lawan. Bagi Sleman Fans yang memperhatikan pasti sering melihat skema seperti ini.

Memanfaatkan Zona 14 dan Skema Up-Back-Front

Skema ini sebenarnya tidak terlalu salah, tapi juga tidak terlalu efektif. Jika melihat lebih jeli, (kecuali ketika melawan PSCS yang memainkan pressing blok rendah) ada ruang kosong di zona 14. Zona 14 berada tepat di antara lini tengah dan lini belakang lawan. Zona ini sangat strategis bagi gelandang untuk mengirimkan bola-bola terobosan ke lini serang.

Namun, karena terdapat blok pressing dari pemain lawan di zona 8, Dirga maupun Busari yang berada pada zona ini tidak dapat akses bola dari lini pertahanan. Sebenarnya ada sebuah skema yang dapat dilakukan untuk menghadapi stuasi seperti ini.

Skema tersebut bernama up-back-through. Menurut Ryan Tank jika diartikan dalam bahasa Indonesia, skema ini berarti atas-bawah-terobos (ke depan) dengan urutan bek-penyerang-gelandang-penyerang. Skema ini sebaiknya dilakukan dengan urutan umpan yang cukup cepat dan matang sebelum pemain lawan berhasil melakukan pressing kembali. Pemain PSS Sleman punya pemain-pemain yang cukup mumpuni untuk melakukan ini.

Fase awal pada skema ini, yaitu fase “up”, sama dengan skema yang biasa dilakukan oleh PSS Sleman yaitu dengan mengirimkan umpan lambung ke depan dari lini pertahanan. Baik Jodi, Waluyo, maupun Arie Sandy sudah sering mengirimkan umpan panjang ke depan. Walaupun akurasinya masih perlu diperbaiki, namun sudah cukup terbiasa untuk melakukannya.

Fase selanjutnya terdapat perbedaan dengan skema biasanya. Pada fase “back”, bola yang diterima penyerang di zona 17 wall pass untuk mengembalikan bola kepada gelandang di zona 14. Berbeda dengan skema yang biasa dilakukan PSS Sleman dimana bola akan langsung digiring ke daerah pertahanan lawan.

Riski Novriansyah punya kemampuan untuk melakukan ini. Tubuh yang tinggi membuatnya kuat saat melakukan duel bola-bola atas. Kelebihan fisik tersebut dapat dimanfaatkan untuk menerima umpan lambung dari lini pertahanan yang kemudian diberikan kepada Dirga atau Busari yang sudah berada di zona 14.

Selanjutnya adalah fase “trough”, fase ini menuntut kejelian gelandang untuk mengirimkan umpan terobosan dan juga memerlukan kecerdikan kedua sayap serta striker untuk mencari celah. Busari dan Dirga memiliki kemampuan untuk mengontrol bola dan juga memberikan umpan matang. Tak ada masalah dengan itu. Hanya tinggal bagaimana Imam Bagus, Rossy Noprihanis, atau Riski Novriansyah mencari ruang diantara bek lawan.

Gambar 1

Gambar 2

Gambar 3

Gambar 4

Jadi jika diringkas maka skemanya akan seperti ini: Jodi, Waluyo, atau Arie Sandy di Zona 5 mengirimkan umpan lambung kepada Riski di Zona 17 (gambar 1 ke gambar 2). Riski di Zona 17 menerima bola lalu melakukan wall pass kepada Busari atau Dirga di Zona 14 (gambar 2 ke gambar 3). Busari atau Dirga di Zona 14 mengirim umpan terobosan kepada Imam, Rossy, atau kembali ke Riski di Zona 17 atau 18 (gambar 3 ke gambar 4). Setelah itu, dapat dilakukan tembakan, umpan silang, maupun kombinasi umpan tergantung di zona mana salah satu winger menerima bola dan juga situasi di lini pertahanan lawan.

Skema up-back-through dan beberapa modifikasinya sebenarnya cukup lumrah digunakan dalam sepakbola. Musim ini, Chelsea melakukannya ketika bertemu Manchester City yang memiliki barisan gelandang lebih superior. Juventus juga kerap melakukan skema ini jika bertemu lawan yang melakukan pressing blok tinggi.

(Video Up Back Front Juventus)

Komentar

Perintis @tapakbola. Dapat dihubungi secara personal melalui akun @AndhikaGila_ng