Opini

Mengupas Kebijakan Transfer Pemain Masuk PSS Sleman

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Tepat setelah masuk dari pintu utara Stadion UNY, terlihat jelas Listianto Raharjo sedang menggembleng anak asuhnya. Para pemain berkaos merah muda bergantian menangkap bola tendangan pelatih kiper yang akrab disapa Bejo tersebut.

Di antara mereka terdapat wajah baru tetapi tak terlalu asing pula. Bertuliskan nomor 17 di dadanya, dia adalah Try Hamdani. Try merupakan salah satu rekrutan anyar PSS Sleman. Sebelumnya, mantan pemain binaan Sriwijaya FC tersebut juga pernah berkostum Super Elja musim lalu.

Perekrutan Try Hamdani mungkin menimbulkan banyak pertanyaan. Alasan untuk mengisi posisi kosong yang ditinggalkan Rizky Arya sepertinya bukan jawaban memuaskan. Di bawah mistar gawang, Laskar Sembada sudah mempunyai dua kiper yang sekualitas dengan Try Hamdani. Kemudian, untuk apa dia diangkut ke Sleman?

Kunci jawaban dari teka-teki tersebut justru ada pada premis dari pertanyaan itu sendiri: kualitas. Ibaratkan kiper-kiper PSS Sleman adalah anggota dalam sebuah kelompok. Masing-masing individu dalam kelompok tersebut menginginkan peningkatan kualitas dirinya sendiri. Salah satu cara yang dapat memenuhinya adalah dengan persaingan.

Persaingan yang terjadi dalam sebuah kelompok akan meningkatkan kualitas semua individu yang ada dalam kelompok, dalam hal ini para kiper Laskar Sembada. Akan jauh lebih baik apabila mutu individu dalam kelompok tersebut tidak berbeda jauh karena intensitas persaingan menjadi lebih tinggi.

Kedatangan Try Hamdani yang mempunyai kualitas tak beda jauh dengan Ega Rizky dan Stya Beni diharapkan akan memicu hal itu. Hanya tinggal bagaimana Listianto Raharjo mengondisikan persaingan itu agar semua kiper dapat naik ke level kualitas yang lebih tinggi.

Bergeser ke sisi lain lapangan, ada satu pemain duduk menyendiri menikmati air minum yang ia genggam setelah Seto Nurdiantoro menginstruksikan para pemain untuk beristirahat. Muka yang benar-benar baru bagi publik Sleman, tetapi pastinya tidak bagi orang-orang Jakarta.

Amarzukih terlihat belum terlalu akrab dengan pemain lain di latihan pertamanya, mirip dengan Rifal Lastori saat dulu pertama kali bergabung dengan tim. Kini, Lastori sudah dapat bercanda hangar dengan para kompatriotnya. Dan harapannya, Amarzukih juga dapat akrab dengan penggawa lain secepatnya.

Berdiri di sentral lapangan tengah, Amarzukih bertugas memutus serangan lawan. Ia memegang komando bagi rekan-rekannya ketika melakukan transisi negatif dari bertahan ke menyerang. Keakraban akan memupus segala rasa sungkan ketika harus mengatur pemain lainnya dalam situasi tersebut.

Amarzukih adalah salah satu kepingan puzzle yang dipilih Seto untuk menutup kepingan lain di lini belakang yang baru-baru ini dilepaskan PSS Sleman. Kehilangan tiga pemain belakang membuat Arie Sandy menjadi back-up bagi pos bek tengah.

Situasi yang tidak ideal mengingat Sandy juga merupakan pilihan utama sebagai gelandang bertahan karena Laskar Sembada baru saja mengakhiri kerja sama dengan Syamsul Chaeruddin. Kedatangan Amarzukih merupakan solusi sebagian bagi masalah tersebut.

Amarzukih dapat bermain sebagai gelandang bertahan yang artinya dia akan bersaing dengan Arie Sandy. Mantan pemain Persija Jakarta tersebut juga bisa mengisi pos bek tengah apabila Seto memilih memainkan keduanya secara bersamaan dan menginginkan Sandy tetap berperan sebagai pemutus serangan.

Masih dalam satu rombongan dengan Amarzukih saat berlatih, tampak kepingan puzzle lain. Mengenakan kembali nomor 13 yang pernah ia kenakan musim lalu, Jodi Kustiawan yang tampak lebih kurus berbincang-bincang rekan lamanya.

Saat ini ia merupakan satu-satunya bek tengah murni disamping Hamdan Zamzani. Jodi mengisi kekosongan posisi yang ditinggalkan Sahrul Kurniawan, Hisyam Tolle, dan Yudi Khoirudin. Kedatangannya diharapkan dapat mengatasi kelemahan duel udara yang menjadi titik lemah PSS Sleman selama putaran pertama.

Ekspektasi cukup berat disematkan kepadanya. Ia dituntut untuk cepat beradaptasi sehingga bisa segera nyetel dengan Zamzani. Laga debut Jodi sepertinya tinggal menghitung hari. Pengalamannya yang pernah menghirup atmosfer Sleman membuat Seto berharap Jodi sudah bisa menjadi tumpuan lini belakang menghadapi Persiwa Wamena pada hari Sabtu (5/8/2018).

Nantinya, bersama Zamzani, Jodi akan memikul beban kondisi tim yang tidak ideal di lini belakang. Mereka berdua kini tak mempunyai bek tengah lain sebagai pelapis. Back-up­ bagi mereka adalah Arie Sandy atau Amarzukih yang lebih fasih sebagai gelandang bertahan.

Bursa transfer ditutup sehari setelah menghadapi Persiwa Wamena di Maguwoharjo. Kondisi lini belakang PSS Sleman tak bisa terus seperti ini. Idealnya, ada satu atau dua penggawa masuk berposisi sebagai bek untuk melengkapi puzzle Seto. Dan jangan lupa pula, ada pemain satu lain yang hingga kini tidak punya pelapis sama sekali: Ichsan Pratama.

Komentar
Andhika Gilang

Perintis @tapakbola. Dapat dihubungi secara personal melalui akun @AndhikaGila_ng