Opini

Menilik Nasib para Pelatih yang Promosi ke Liga 1

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Liga 2 telah resmi berakhir. Tahun ini, PSS, Semen Padang, dan Kalteng Putra adalah tiga tim yang mendapatkan jatah promosi.

Di kalangan pendukung PSS, ramai diperbincangkan tentang siapakah pelatih yang pantas untuk menangani Super Elja musim depan. Seperti biasa, ada dua kubu yang saling memberikan pendapatnya. Kubu pertama adalah yang pro supaya Seto kembali diberikan kepercayaan untuk kembali melatih PSS. Kubu kedua berpendapat bahwa Seto kembali diturunkan sebagai asisten pelatih, dan mencari pelatih yang lebih berpengalaman.

Pada artikel kali ini, saya akan membahas tentang bagaimana nasib pelatih yang telah berhasil membawa timnya meraih tiket promosi pada Liga 2 tahun lalu. Hal itu bisa menjadi gambaran tentang nasib para pelatih yang tahun ini membawa timnya ke Liga 1.

Tahun lalu, Persebaya, PSMS, dan PSIS berhasil meraih tiket promosi. Angel Alvredo Vera adalah pelatih yang menukangi Persebaya saat mereka meraih gelar juara Liga 2 2017. PSMS dilatih oleh Djajang Nurjaman, dan PSIS dilatih oleh Subangkit.

Dari ketiga pelatih di atas, hanya Subangkit yang melatih klubnya dari awal. Jauh sebelum Liga 2 dimulai, Subangkit sudah dipilih untuk melatih tim Mahesa Jenar. Bahkan Subangkit terlihat hadir di Jepara saat final ISC B, walaupun saat itu PSIS tidak masuk ke partai final.

Alvredo Vera datang ke Surabaya dengan status sebagai pegganti dari Iwan Setiawan. Iwan sendiri harus rela lengser dari jabatannya karena terlibat konflik dengan Bonek.

Untuk Djajang Nurjaman, pelatih yang sebelumnya melatih Persib Bandung ini menggantikan Mahzuzar Nasution. Djajang masuk ke PSMS sesaat sebelum tim Ayam Kinantan berjuang di babak 16 besar.

Setelah berhasil membawa masing-masing tim promosi, ketiganya masih dipertahankan oleh manajemen, setidaknya untuk mempersiapkan tim sebelum terjun ke pentas Liga 1.

Nasib kurang apik didapatkan oleh Subangkit yang diberhentikan oleh manajemen PSIS sebelum Liga 1 dimulai. Alasan penyegaran tim menjadi latar belakang keputusan tersebut. Ternyata, manajemen PSIS lebih memilih menggunakan jasa pelatih asing, Vincenzo Annese, untuk menahkodai PSIS.

Setelah beberapa saat menganggur, Subangkit sempat melatih Sriwijaya FC yang sedang berjuang dari keterpurukan, sebelum akhirnya dilengserkan ke tim Sriwijaya U-19.

Djajang Nurjaman masih sempat menemani perjuangan PSMS di Liga 1, setidaknya sampai pekan ke 15. Karena hasil minor yang didapatkan oleh PSMS, akhirnya Djanur dipecat dan posisinya digantikan oleh Peter Butler. Selama ditangani Djanur, PSMS hanya bisa meraih 15 poin dari 15 kali bertanding.

Setelah dari PSMS, Djanur secara mengejutkan berlabuh di Surabaya. Bersama dengan Persebaya, Djanur berhasil mendongkrak performa tim Bajul Ijo sehingga bisa mengakhiri Liga 1 di posisi 5.

Sukses membawa Persebaya Juara Liga 2 tidak membuat Alfredo Vera nyaman bersama Bajul Ijo di Liga 1. Setelah pada awal musim merombak skuat dengan memborong pemain Persipura, ternyata hal itu tidak meningkatkan performa tim Persebaya. Kekalahan 3 pertandingan secara beruntun, dan anjloknya posisi Persebaya di klasemen membuatnya harus mengundurkan diri di pekan ke-18.

Selepas meninggalkan Surabaya, Alfredo Vera kemudian melatih Sriwijaya yang sedang berjuang untuk lepas dari zona degradasi. Walaupun pada akhirnya Sriwijaya harus rela untuk terdegradasi di akhir musim.

Dilihat dari ketiga pelatih itu, tidak ada yang bisa meneruskan tugas mereka sampai kompetisi Liga 1 berakhir. Baik dari Subangkit yang bahkan belum sempat merasakan atmosfer Liga 1 bersama PSIS, sampai Alfredo Vera yang hanya bertahan sampai pekan ke 18. Bisa kita ambil kesimpulan, bahwa tidak ada jaminan bahwa pelatih dengan nama besar bisa mengangkat performa sebuah tim. Begitu juga sebaliknya.

Menarik kita saksikan bagaimana kiprah para pelatih yang musim ini berhasil membawa timnya promosi ke Liga 1 2018. Ketiganya adalah Seto (PSS), Safrianto Rusli (Semen Padang), dan Kas Hartadi (Kalteng Putra).

Fakta menarik adalah, ketiga pelatih ini belum pernah menukangi tim di kasta tertinggi Liga Indonesia, setidaknya dalam 5 tahun terakhir. Safrianto Rusli lebih sering melatih tim PON SUmbar, Kas Hartadi terakhir melatih Sriwijaya pada tahun 2013, sedangkan Seto adalah pelatih muda yang baru menukangi 2 tim (PSS dan PSIM).

Terakhir, jika ditanyakan apakah Seto pantas untuk melatih PSS di Liga 1, mari kita nanti jawaban dari Manajemen PSS. Yang jelas pihak manajemen pasti sudah mempunyai keputusan yang diambil dari pertimbangan matang.

Komentar
Ahmad Indra Pranata

Dokter muda yang mencintai sepakbola, bisa kamu hubungi di akun Twitter @mamas_ahmad

Comments are closed.