Cerita

Cerita Nostalgia: Menjadi Sleman Fans, Panggilan Jiwa atau Sekedar Ikut Tren?

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Medio tahun 2002, saya mengenal PSS Sleman lewat Slemania, wadah supporter yang masa itu menjadi kebanggan bagi anak SD sampai lelaki paruh baya. Atribut yang kental dengan nuansa hijau seperti jersey PSS Sleman sampai detik ini.

Bermarkas di Stadion Mandala Krida, Laskar Sembada menjelma sebagai tim papan atas divisi utama Liga Djarum yang saat itu masih menjadi kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Saya yang saat masih itu masih kelas 6 SD bisa dikatakan militan.

Tiap laga PSS di Mandala Krida selalu hadir walau tanpa tiket. Berharap keberuntungan dapat mbrobos atau nunggu bukaan pintu di babak kedua. Pernah ketika pertandingan melawan  Persipura medio 2002/2003, saya berhasil mbrobos di tribun VIP (barat) Mandala Krida. Anak kelas 6 SD yang lugu itu berada di kerumunan suporter Persipura.

Ketika M. Eksan berhasil mengeksekusi peluang tendangan bebas menjadi gol, suporter Persipura menertawai anak SD tersebut karena selebrasi histerisnya. Masih teringat dibenak saya, “Ini seperti pertandingan dua negara”, kata salah satu Persipura mania kala itu.

Masih banyak cerita berkesan masa itu, seperti come back PSS Sleman ketika tertinggal 0-2 dari Persija Jakarta. Setiap  pertandingan menjadi cerita yang kala itu wajib untuk dibahas ketika bertemu teman sekelas masa SD sampai SMP.

Sampai pada tahun 2008 divisi utama berganti nama menjadi Indonesian Super League (ISL). Sejak itu, PSS Sleman selalu menempati kasta kedua liga Indonesia. Pada tahun 2008 sampai 2012, mimpi untuk bisa ke kasta tertinggi rasanya seperti mustahil.

Kurun waktu tersebut saya jarang melihat langsung Laskar Sembada di stadion tetapi masih mengikuti lewat media masa. Bahkan saya pernah tergoda untuk menganti kebanggan dengan menyaksikan laga tim tetangga dengan menyaksikan secara langsung beberapa pertandingannya.

Namun hal itu tidak berlangsung lama. Sampai di bulan April 2013, saya untuk pertama kalinya kembali tergerak ke MIS untuk melihat pembukaan divisi utama LPIS pada pertandingan PSS vs Persibangga. Motivasinya sederhana, penasaran ingin melihat teman SMP , mas Batak, yang sekarang menjadi dirigen suporter baru PSS Sleman.

Waktu itu saya belum begitu mengenal Brigata Curva Sud (BCS). Awal masuk stadion, saya terkejut melihat sekumpulan suporter yang berada di tribun selatan yang mengumandangkan chants yang asing di liga Indonesia namun terasa easy listening.

Parade flare dan koreo di tribun selatan stadion membuat euphoria semakin menjadi. Saat itu asa untuk melihat PSS Sleman di kasta tertinggi yang pada tahun 2008-2012 terasa mustahil, menjadi kembali menyala malam itu. Sejak itu, saya tidak pernah absen dalam laga home Super Elang Jawa di MIS. Setiap datang ke MIS, terbersit pertanyaan “engko koreone opo yo?”.

Pembaca boleh saja menilai motivasi saya datang ke MIS bukan untuk mendukung PSS Sleman tetapi hanya ingin melihat BCS. Saya tidak munafik untuk mengakuinya. Mungkinkah ada juga yang seperti saya? Mungkinkah ada yang juga yang  memiliki perasaan seperti saya?

Ijinkan saya untuk menyampaikan terimakasih kepada seluruh pendukung PSS Sleman (Slemania, BCS, dan Sleman Fans). Terimakasih Slemania karena telah mengenalkan cinta yang bernama PSS Sleman kepada kami. Terimakasih BCS karena telah membuat kami CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali) kepada PSS Sleman.

Ada masa meninggalkan yang dicinta, lalu tumbuh menjadi lebih setia dan menggelora. Ada yang mengenggam yang dicinta, lalu merasa bosan seiring waktu sehingga membenci. Mari merenung, termasuk yang manakah kita? Karena cinta yang sempurna itu hanya ada dalam kisah novel.

Komentar

Comments are closed.