Opini

Menjawab Resah Hati Sleman Fans

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Tentu tidak ada pendukung yang senang melihat tim kesayanganya kalah. Bahkan untuk laga pramusim para pendukung ingin melihat suguhan terbaik dari tim kesayanganya. Termasuk Sleman Fans, yang terlanjur cinta mati sekonyongkonyong koder terhadap PSS Sleman. Dibandingkan beberapa tahun ke belakang, tahun ini menjadi awal musim yang tidak mudah bagi banyak Sleman Fans.

Benar saja, dari tiga pertandingan pramusim terakhir, PSS Sleman menelan kekalahan dari kawan tandingnya dalam laga persahabatan. Tercatat PSS menalami kekalahan 1-4 dari  Persebaya, 0-2 dari Bhayangkara FC, dan yang terhangat kalah 1-2 dari PSMS. Sebuah kenyataan yang pahit tergambarkan dari kolom reply dan comment yang membanjiri akun sosial media PSS Sleman.

Sebenarnya apa yang menjadi kekalutan hati Sleman Fans adalah hal yang lumrah, namun juga tidak sepenuhnya harus terus diratapi dengan pesimis bahkan berburuk sangka. Melihat PSS bermain di kasta tertinggi memang belum dirasakan “Sleman Fans kekinian”.

Pasalnya terakhir PSS berada di kasta tertinggi sudah lebih dari satu dekade yang lalu. Sama halnya bagi “Sleman Fans legendaris”, satu dekade juga bukan waktu yang singkat. Melewati masa-masa penuh derita pasca gagal lolos ke edisi perdana ISL merupakan perjuangan hebat bagi orang-orang yang menjalaninnya.

Agaknya benar, lirik lagu Sampai kau Bisa milik Neckemic yang biasa dinyanyikan sesudah pertandingan yang mensyairkan “bertahun menjalani, lelah ini tak terasa lagi” menjadi kalimat terdalam bagi beberapa orang yang setia bertahan. Bahkan pada satu musim 2010 PSS pernah finish satu strip di atas jurang degradasi. “Maka nikmat Tuhan mana lagi yang akan kamu dustakan?”

Kondisi federasi yang kacau tidak menyurutkan dukungan untuk kebangkitan PSS Sleman 2013. Bermodal dukungan luar biasa dari Brigata Curva Sud (BCS) dan Slemania yang tidak henti-henti meneriakan chant kebanggaan demi sebuah kemenangan berharga tiap laganya.

Jika harus mengingat gelora di Maguwoharjo saat itu rasanya masih tercium jelas bau flare yang menyala dan suara-suara serak suporter yang dahaga membeli air mineral ditengah laga. Tidak lupa pergerakan fenomenal Sleman Fans untuk memiliki mental no ticket no game demi mendukung tim kebanggaan.

Pergerakan intelekual supporter berhasil membangunkan Sang Elang Jawa yang akhirnya mampu mengangkat trofi juara Divisi Utama. Terlepas dari juara tanpa naik kasta, titik beratnya adalah PSS Sleman bisa.

PSS Berada di Track yang Benar

Dilihat dari sudut pandang tim, seharusnya Sleman Fans saat ini harus lebih bersyukur jika dibandingkan tahun 2013. Sponsor berdatangan berarti kepercayaan pihak ketiga dan masyarakat sudah semakin kuat. Manajemen pasti juga tidak ingin PSS mengecewakan dan kehilangan penggerak utamanya, yaitu kepercayaan dan dukungan Sleman Fans.

Tahun 2013 dengan segala ketidakpastian dan keterbatasan kita bisa juara. Saat ini tim sudah ditangani orang-orang terbaik yang harus kita beri ruang untuk membuktikanya pada kita. Sebagai pendukung dan pecinta PSS, kita hanya perlu  memunculkan optimisme dan pikiran positif.

Mungkin tidak mudah karena sepakbola negeri ini sangat dekat dengan yang namanya instan. Wajar jika Sleman Fans terbawa ingin segera mewujudkan keinginanya untuk naik kasta. Tapi perlu kita belajar dari negara Jepang, yang katanya dulu belajar dari kita. Bahwa klub profesional itu mapan dulu, jago belakangan. PSS Sleman saat ini sedang dalam track yang benar.

Sleman Fans perlu menyadari bahwa PSS tahun ini merupakan tim yang mayoritas diisi wajah-wajah baru. Jika dibadingkan dengan tim dibawah coach Freddy Muli, saat itu masih diisi 80% wajah yang menjalani musim bersama coach Seto di ISC-B.

Hal ini menjadi keuntungan coach Freddy  untuk meracik komposisi, terlebih coach Seto masih ada dalam tim. Ketika Sleman Fans membandingkan hasil pramusim Piala Presiden 2017 dengan hasil saat ini tentu bukan hal yang bijak.

Coach Freddy sudah mendapat komposisi terbaiknya saat itu dan tinggal menambah beberapa lini. Sedangkan saat ini coach Herry Kiswanto masih harus menemukan komposisi terbaiknya.

Terlihat dari starting XI yang diturunkan dalam tiga pertandingan persahabatan, coach Herry Kiswanto selalu melakukan rotasi besar. Inilah keuntungan tim dipersiapkan jauh-jauh hari. Pramusim dilakukan untuk memastikan kerangka tim utama yang akan diandalkan untuk mecapai target promosi. Bukan kemenangan semu di pramusim yang membuat suporter dan tim terlena.

Hal positif lain yang harus kita lihat adalah tim yang dihadapi saat pramusim adalah tim yang levelnya di atas PSS saat ini. Mereka sudah memiliki persiapan yang jauh lebih awal dibandingan PSS. Manajemen sudah melakukan hal yang benar degan mempersiapkan tim jauh-jauh hari. Tim pelatih juga di tangani orang-orang terbaik dibidangnya. Jadi bukan menjadi alasan untuk meratapi hasil laga pra-musim PSS.

Kembali Pada Hakikat Sebagai Fans

Apabila masih ada fans yang meragukan kualitas coach Herry Kiswanto tentu kita harus melihat lagi kiprahnya saat membawa PSS bermain menjanjikan dan hampir promosi tahun 2014.

Terlepas dari skandal yang dialami PSS saat itu, hampir tidak ada hujatan yang mendarat ke tim secara segi permainan dan taktikal. Ditambah dengan perkembangan iklim sepakbola di Sleman dengan gerakan literasi dan sport science, seharusnnya kita bersukur menjadi Sleman Fans. Pendukung tim yang dibentuk dari kecintaan pada sebuah klub dari wilayah kecil di utara Yogyakarta. Bukan pendukung tim kaya instan karena Pilkada dan bukan klub yang dibiayai uang negara.

Saya rasa kecerdasan dan kewarasan kita masih jadi salah satu yang terbaik di Indonesia. Sekali lagi “Maka nikmat Tuhan mana lagi yang akan kamu dustakan?”

Mari, kita kembalikan optimisme dan berpikir jernih dalam mendukung tim sepakbola yang loveable sekonyong koyong koder ini. PSS Sleman juga tidak rela memiliki pendukung bayangan yang dekat disaat terang dan hilang dikala gelap.

Mari kita renungkan sekali lagi, kita ini pendukung atau hanya bayangan yang terlihat menemani PSS Sleman. Mari dukung PSS dengan penuh cinta tanpa “jika dan hanya jika”. Percayalah seperti senyuman dan tepuk tangan, semangat dan optimisme itu menular. Begitupun sebaliknya. Pesimis itu berat, biar Dilan saja. Kita fokus PSS dan gelorakan kembali Stadion Maguwoharjo. Nggo~

 

 

Komentar