Cerita

Pemain Loyal itu Bernama Amarzukih

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Jelang bergulirnya putaran kedua Liga 2 musim 2018, PSS Sleman terus melakukan perubahan di tubuh tim. Selain mendaratkan dua pemain baru tapi rasa lama, Super Elja juga mendatangkan pemain asli Betawi yang telah malang melintang berkompetisi di level teratas sepakbola Indonesia. Ialah Amarzukih, yang didatangkan manajemen dari PSMS Medan.

Pemain kelahiran 21 Juli 1984 ini sudah ikut latihan bersama Arie Sandi dan kolega di Stadion Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pada Rabu (1/8). Amarzukih Nampak antusias menerima materi latihan dalam sesi small side game di bawah intruksi langsung Seto dan Danilo.

Pemain berusia 34 tahun ini bisa disebut sebagai salah satu simbol pesepakbola Betawi era kini. Sebelum bergabung dengan Persija, ia lebih dulu merumput bersama Persitara Jakarta Utara selama lima tahun pada medio 2005 hingga 2010.

Kesetiaan bersama Persitara berbuah kenangan manis dengan mengantarkan tim Laskar Si Pitung ke kasta teratas sepakbola Indonesia. Kala itu Persitara dihuni oleh John Takpor Sonkaley, Kurniawan DY, Itimi Dickson dan Rahmat “Poci” Rivai. Di Persitara ia juga bisa bermain dengan pemain idolanya, Kurniawan Dwi Yulianto.

Di tahun 2010, Amarzukih lantas melanjutkan karirnya ke salah satu tim betawi lain, Persija Jakarta. Bersama Macan Kemayoran progres permainannya sebagai gelandang breaker semakin meningkat dan namanya semakin dikenal luas pecinta sepakbola Indonesia. Tujuh tahun berbaju oranye, Amarzukih merupakan pemain vital bagi Persija. Bersama Rohit Chand atau Hoong Son Haak misalnya, ia mampu menjaga kestabilan di lini tengah Persija.

Meski bukan yang paling menonjol, ia selalu memberikan yang maksimal kala berada di atas lapangan. Pahit manis sudah ia rasakan bersama tim kebanggaan masyarakat Jakarta itu. Salah satu prestasi terbaiknya adalah masuk sebagai pemain bintang LSI 2013.

Sayang, penampilannya mulai menurun di musim 2017 kala bersaing dengan darah muda macam Sandi Sute dan M. Hargianto. Dari 34 partai, Amarzukih hanya terlibat enam kali di atas lapangan. Loyalitasnya berbaju oranye harus berakhir kala tim Persija mengalami perombakan musim 2018.

Bang Jukih memulai pengalaman baru dengan merantau ke Pulau Sumatera. Ia direkrut coach Djajang Nurjaman untuk memperkuat PSMS Medan yang baru saja promosi ke Liga 1. Ia kemudian beradaptasi gaya bermain khas rap-rap ala Ayam Kinantan untuk mendapat tempat utama.

Selama di PSMS, ia sempat mendapat tempat utama di posisi wingback. Namun ia harus kembali menduduki bangku cadangan lantaran kalah bersinar dengan Fredyan Wahyu ataupun wingback timnas U-19 Firza Andhika. Mundurnya coach Janur dan dua asistennya, membuat Amarzukih juga memilih hengkang dari tim runner-up Liga 2 musim lalu itu.

Kini Amarzukih memulai petualangan baru di Liga 2. Dengan harapan, kehadirannya mampu menjawab kebutuhan tim PSS Sleman.

Bang Jukih melihat adanya sinergi yang positif antara manajemen, pemain dan suporter. Ia mempertimbangkan potensi besar yang dimiliki PSS untuk naik ke Liga 1 musim depan. Bagi seorang Amarzukih, memiliki target tinggi seperti itu bukan tanpa alasan baginya. Ia pernah membawa Persitara Jakarta Utara promosi ke Liga Super Indonesia musim 2008/2009. Spirit itu yang masih dibawa Amarzukih hingga sekarang bergabung bersama PSS.

“Pertimbangannya timnya solid, kompak suporter dan pemainnya, managemennya juga bagus. Tujuannya cuma satu, Sleman pantasnya di Liga 1. Pengen bawa Sleman ke Liga 1, Insyaallah. Motivasi seperti di awal waktu di Persitara, pengen naik ke Liga Super. Ya seperti itulah,” jelasnya.

PSS Sleman boleh dibilang beruntung mendapatkan Amarzukih. Hal ini karena kemampuannya untuk bermain di banyak posisi. Ia bisa bermain sebagai gelandang bertahan, bek tengah ataupun bek sayap. Keunggulaan ini yang bisa menjadi modal utama untuk bersaing dengan pemain PSS yang lain.

Apalagi Super Elja tengah menjalani musim yang panjang nan ketat di Liga 2. Ditambah lagi dengan adanya gelaran Piala Indonesia yang tentu menambah jadwal bermain PSS. Coach Seto merasa cukup puas dengan datangnya Amarzukih, ia merasa cukup diuntungkan dengan kemampuan multiposisi rekrutan barunya itu.

“Mudah-mudahan datangnya pemain baru bisa menjadi kompetitor. Ya tentunya bagus, saya jadi punya banyak pilihan, bisa di wingback bisa di gelandang. Tapi nanti kita lihat, kita coba kembalikan di posisi yang sebenarnya,” jelas coach Seto.

Saat ini skuat PSS Sleman tengah dihuni pemain-pemain muda berbakat. Hal tersebut membuat pemilik nama lengkap Ahmad Marzukih ini otomatis terlibat persaingan ketat untuk memperebutkan posisi di tim utama. Namun, sebagai pemain senior Bang Jukih  memiliki kelebihan soal pengalaman sebagai pemain profesional dan mampu bermain di multiposisi. Ia menganggap dalam suatu klub sepakbola persaingan antar pemain merupakan suatu hal yang wajar, tentu dalam koridor positif untuk menambah motivasi bermain.

“Wajar itu persaingan, justru menambah motivasi bagi saya dan juga temen-temen,” pungkas seorang bapak dari tiga anak ini.

Statusnya sebagai pemain senior tak mengendurkan semangat Amarzukih untuk belajar mengenai tim barunya. Ia menggunakan media baru seperti situs jejaring video Youtube untuk mengasah pemahamannya terhadap filosofi dan gaya permaianan PSS Sleman di bawah racikan coach Seto Nurdiantoro. Seolah berpacu dengan waktu dan jadwal bertanding yang mepet, para pemain anyar dituntut cepat beradaptasi

“Melihat di Youtube ya, saya mempelajari juga  bagaimana cara Sleman bermain,” tambahnya.

Sabtu (4/8) besok, PSS sudah akan memulai laga putaran kedua meladeni tim tamu Persiwa Wamena di Stadion Maguwoharjo. Publik Sleman sudah tak sabar menanti debut pemain anyar, salah satunya Amarzukih. Semoga ia dapat menemukan kembali performa terbaiknya di Sleman.

Komentar
Awaludin

Masih menimba ilmu di UIN Sunan Kalijaga dan masih akan terus mencintai PSS. Bisa dihubungi via akun Twitter @al_arif14