Cerita

Perjumpaan dengan Marcelo Braga dan Anderson Da Silva

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Barangkali anda termasuk generasi beruntung sekaligus emas. Generasi yang mampu melihat dan menatap bagaimana PSS Sleman sempat berjaya dengan dua striker mautnya. Muhammad Eksan dan Marcelo Braga.

Entah sejak kapan saya mulai jatuh cinta kepada PSS Sleman. Yang jelas, kata ibu saya, kaos kebanggaan berwarna hijau dan putih selalu saya kenakan saat H-1 menjelang pertandingan PSS Sleman hingga H+1 pasca pertandingan PSS Sleman. Saya begitu deg-degan baik menjelang pertandingan akan berlangsung dan sesaat pertandingan akan berakhir. Saat itu bagi saya, PSS adalah klub terbaik di Indonesia.

Ada saat diΒ mana saya benar-benar takjub dengan PSS. Suatu ketika, saya bersama adik menyempatkan diri untuk pergi ke sebuah toko olahraga yang terletak di Jalan Kaliurang. Saya ingin membeli kaos PSS yang bukan jersey. Ketika sedang memilah dan memilih, saya dikejutkan dengan dua orang yang tampak saya kenal. Pria bertubuh tambun dengan rambut tipis dan pria bertubuh legam bak raksasa menjulang tinggi. Marcelo Braga dan Anderson Da Silva.

Saya melompat kegirangan. Sebuah kejutan tak terkira bisa melihat lebih dekat dengan idola kebanggaan PSS saat itu. Saya sampai menrlan ludah kemudian melongo. Kedua mata saya agaknya berulang kali dikucek untuk memastikan apakah benar di depan saya adalah duo superstar PSS.

Tubuh saya yang kecil nan ringkih agaknya sedikit gemetar. Namun ketika Marcelo menoleh ke kiri sambil mengumbar senyum ke arah saya, maka saya pun ikut tersenyum. Tanpa ragu, kedua kaos yang saya beli, langsung saya serahkan ke mereka. Tampaknya mereka pun mengerti. Sang penjual memberikan spidol ke mereka. Dengan sigap dan tangkas, mereka menjulurkan tangan kemudian membubuhkan tanda tangan di atas kedua kaos saya.

Perasaan saya campur aduk. Antara terkejut sekaligus senang. Sayangnya, pada saat itu belum zaman swafoto. Maklum saat itu piiranti teknologi hanya mampu sebatas pesan berupa SMS dan telepon. Alhasil, kenangan tersebut hanya saya abadikan dalam ingatan. Ingatan yang sungguh membekas hingga pada saatnya, saya tuangkan menjadi sebuah tulisan.

Saat itu, PSS sedang memasuki era keemasan. Dilatih Daniel Roekito, kemenangan demi kemenangan mampu diraih oleh tim kebanggaan asal Sleman. Chant-chant yang dihadirkan dari penonton selalu mampu membakar semangat para pemain. Seperti, “Slemania suportere pancen edan, sanajan edan tapi tetap sopan.”

Baik itu berlaga di Tridadi maupun Mandala Krida, chant tersebut selalu idengungkan suporter setia asal Sleman. Saya masih ingat bagaimana tendangan geledek Marcelo Braga diperbincangkan oleh banyak media. Mulai dari media lokal hingga nasional. Dengan kostum kebanggaan bernomor punggung 28, Marcelo Braga menjadi momok bagi pertahanan lawan.

Begitu pula Anderson Da Silva. Dengan menempati posisi belakang sebelah kiri, ia selalu menjaga pertahanan dengan baik. Tubuhnya yang terlampaui tinggi menjadi aral bagi penyerang untuk melewatinya. Walaupun menjaga pertahanan, ia tak segan untuk membantu ke depan guna mencetak gol. Seperti gol tunggal yang ia lesakkan saat PSS bertandang ke Persebaya Surabaya 13 tahun silam.

Barangkali di era tersebut, kami adalah pendukung setia yang merasakan atmosfer pertandingan yang betul-betul hebat. Di stadion kami menuangkan harapan, menggelorakan kicauan, menghempaskan kepalan tangan ke udara, menyanyikan lagu kebangsaan, hingga menorehkan kemenangan. Di era itu, kami tahu bahwa PSS bukanlah sekedar tim sepakbola kebanggaan masyarakat Sleman melainkan semacam ‘kepercayaan’. Bagiku PSS dan bagi kita semua adalah PSS.

Hasil akhir adalah kunci. Tapi kebersamaan bersama seluruh pengurus, pemain dan penonton lebih dari sebuah kunci. Kini era telah berganti, wajah dan darah baru telah menanti. Ada banyak hal baik berupa kesenangan dan kesedihan akan terus dilewati. Meskipun begitu, saya, kamu, bahkan mereka tetap percaya bahwa PSS akan ada selalu dihati. Karena PSS adalah alasan mengapa sepakbola layak dicintai.

Tabik,

 

 

Komentar