Analisis

Persijap Jepara v PSS Sleman: 3 Poin Penting di Bumi Kartini

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

PSS Sleman berhasil mencuri 3 poin di lawatannya ke Jepara pada Rabu 17/05/2017. Super Elang Jawa berhasil menang dengan skor tipis 0-1 lewat gol semata wayang Jodi Kustiawan. Kemenangan yang penting untuk tetap menempel PSCS Cilacap di papan atas grup 3. Banyak yang menilai, permainan PSS malam itu di bawah standar terbaiknya. Ditambah dengan komentar Bung Tommy Welly yang dengan pedas mengatakan β€œDengan permainan seperti ini, sangat berat untuk PSS bisa naik ke Liga 1”. Benarkah demikian, mari kita bahas bersama-sama.

Dibawah arahan pelatih Fernando Sales, Persijap Jepara menerapkan Formasi dasar 3-4-3 saat menyerang, dan bisa menjadi 5-4-1 saat bertahan. Persijap mengandalkan 3 pemain depan yaitu Arrianis , Hendri dan Raffi, dengan sayap yang cenderung bermain melebar dan aktif bergerak menyisir pertahanan lawan. Dua gelandang berposisi di belakang untuk menjaga kedalaman lini tengah terutama saat tertekan. Ketiga centerback yang dimiliki Persijap tidak terlalu aktif menyerang, dan cenderung stagnan berada di belakang garis tengah. Ketika tertekan, 2 gelandang Persijap akan turun sejajar dengan pemain belakang, menjadikan 5 pemain menumpuk di area pertahanan sendiri.

Pada pertandingan kali ini coach Freddy menerapkan formasi dasar 4-3-3, yang sering berubah menjadi 4-1-4-1 saat PSS melakukan serangan balik. Ada dua perubahan yang ada di starting line up, Dirga yang sebelumnya harus ditarik keluar karena cedera digantikan oleh Andik Rahmat, dan Jodi Kustiawan melakukan comeback setelah 2 laga sebelumnya harus menepi karena cedera.

Gambar 1. Formasi dasar kedua tim

Babak pertama, PSS bermain dengan bola-bola panjang dari belakang. Bola akan langsung diberikan kepada pemain depan, tanpa proses build up serangan yang baik. Pola permainan ini terlalu mudah untuk ditebak pemain lawan, membuat PSS miskin peluang di babak pertama. Ada dua kemungkinan mengapa PSS bermain seperti itu : pertama karena High Pressing yang dilakukan oleh para pemain Persijap sepanjang babak pertama, kedua karena memang instruksi pelatih yang mengharuskan bermain dengan umpan-umpan jauh.

20 menit awal di babak pertama, Persijap belum bisa beradaptasi dengan strategi yang dipakai PSS Sleman. Hasilnya, bola daerah yang diberikan kepada Riski tidak berhasil dihalau pemain belakang sehingga menghasilkan pinalti untuk PSS. Pinalti diberikan setelah Riski dijatuhkan oleh pemain belakang Persijap. Sayangnya pinalti yang dieksekusi oleh Rossi gagal merubah papan skor.

Selepas tendangan Pinalti, Persijap merubah cara mereka bertahan dengan menempatkan 2-3 orang pemain untuk khusus mengawal Riski Novriansyah. Pelatih Persijap sadar, bahwa semua bola lambung PSS akan diarahkan kepada Riski Novriansyah. Strategi ini sukses mematahkan setiap serangan cepat dari PSS Sleman, ditambah lagi Persijap unggul saat melakukan recovery (Gambar 2).

Selama babak pertama, PSS seperti bermain tanpa gelandang tengah. Karena semua inisiasi serangan dimulai dari belakang, sering dilakukan oleh Waluyo. Waluyo menjadi pemain yang paling sering melakukan long pass langsung ke daerah pertahanan lawan. Build upyang sistematik tidak dilakukan, sehingga sebelum para gelandang kembali ke pos masing-masing, bola sudah kembali dalam penguasaan pemain lawan. Begitu seterusnya, sehingga PSS kesulitan mengembangkan permainan di babak pertama.

Gambar 2. Proses serangan PSS Sleman

Di gambar 2, kita bisa melihat dengan jelas bagaimana skema long pass yang coba diperagakan oleh para pemain PSS di sepanjang babak pertama. Ketika PSS bertahan, hampir semua pemain akan berada di daerah pertahanan sendiri, menyisakan Riski N di lini depan. Pada saat pemain Persijap kehilanagan bola, maka pemain PSS ( Jodi dan Waluyo) akan langsung mengirimkan umpan ke depan, ditujukan kepada Riski N. Persijap sudah membaca strategi ini, mereka menempatkan 3-4 pemain disekitar Riski. Hal tersebut bertujuan untuk mengantisipasi kecepatan yang dimiliki oleh Riski. Strategi ini berhasil, setidaknya sepanjang babak pertama. Riski kesulitan untuk menguasai bola, karena akan langsung berhadapan dengan beberapa pemain Persijap. Selain itu, 4 pemain yang berkumpul di sekitar Riski memudahkan Persijap untuk melakukan recovery, sehingga hampir pasti bola yang lepas dari Riski akan langsung dikuasai para pemain Persijap.

Persijap juga memiliki keuntungan dengan skema direct pass yang dilakukan PSS Sleman. Seperti yang telah saya singgung di atas, PSS mengalirkan bola ke depan tanpa build up yang terskema dengan baik. Bola akan langsung dialirkan ke depan, bahkan sebelum para gelandang menempatkan diri di posisinya masing-masing. Ketika Riski kehilangan bola, maka pemain tengah Persijap akan langsung menguasai bola, dan kembali mengurung pertahanan PSS Sleman.

Nampaknya kehilangan sosok Dirga di lini tengah menjadi hal yang serius, mengulangi hal yang sama di dua pertandingan awal liga, ketika PSS kehilangan sosok Busari. Lini tengah PSS macet dan tidak berfungsi dengan baik. Arie Sandy bermain terlalu belakang, menjaga kedalaman ketika Busari dan Andik Rahmat membantu penyerangan. PSS seperti bermain menggunakan formasi 4-1-4-1. Untuk Andik Rahmat, yang ditugaskan menggantikan peran Dirga,belum menunjukkan permainanseperti yang diharapkan. Dia banyak melakukan kesalahan sendiri di lini tengah, sehingga suplai bola ke depan sangat kurang.

Riski dibebankan tugas yang sangat berat di pertandingan kali ini, menjadi target man yang benar-benar target man. Riski selalu diberikan umpan-umpan lambung daerah, yang bahkan terkadang mengarah sangat jauh dari posisinya. Riski sering kehilangan bola, karena dia akan langsung ditempel oleh beberapa pemain belakang Persijap. Ketika dia berhasil menguasai bola, dukungan dari lini kedua terkadang juga terlambat.

Untuk Persijap, proses build up serangan selalu dimulai ketika pemain belakang mendapatkan bola recovery hasil longpass pemain PSS. Bola akan dikuasai oleh pemain tengah mereka. Yang kemudian akan diarahkan kepada kedua sayap. Peran yang tidak maksimal dari pemain tengah Persijap, membuat serangan Persijap jarang mencapai kotak pinalti PSS Sleman. Sepanjang pertandingan, pemain Persijap lebih sering melakukan tendangan jarak jauh dari luar kotak pinalti. Hal ini tidak terlepas dari pressing ketat yang dilakukan oleh para pemain PSS Sleman di lini tengah, membuat pemain Persijap tidak nyaman ketika menguasai bola.

Pada beberapa keadaan, transisi para pemain Persijap dari menyerang ke bertahan sangat buruk. Pemain terlambat turun ke belakang, terutama kedua sayapnya. Lucky dan Riswan yang aktif menyerang sering terlambat turun meng cover area nya. Hal ini yang kemudian dimanfaatkan oleh Rossy dan Imam Bagus yang memanfaatkan space kosong di sisi kanan dan kiri pertahanan Persijap.

Persijap sebenarnya juga menerapkan pressing blok tinggi sejak awal babak pertama. Tiga pemain depan akan langsung membayangi pemain belakang PSS yang sedang menguasai bola. Meminimalkan ruang gerak pemain PSS, sehingga long pass sering dilakukan dari area pertahanan PSS Sleman. Konsekuensi dari taktik pressing ini adalah stamina pemain yang cepat sekali terkuras. Hal ini mungkin yang menjadi pembeda pada pertandingan malam itu. Pada babak kedua, pressing yang dilakukan pemain Persijap tidak sebaik di babak pertama. Hal ini kemudian membuat pemain PSS lebih nyaman bermain lini tengah.

Di babak kedua, coach FM melakukan perubahan strategi. Lini tengah lebih dimaksimalkan, dengan Busari menjadi centre permainan. Waluyo tidak lagi diberikan kebebasan untuk memberikan umpan jauh ke depan. Dengan skema ini, beberapa kali Riski dan Rossi mendapatkan peluang di depan gawang walaupun belum bisa dikonversi menjadi gol. Sekali lagi, faktor kelelahan para pemain Persijap juga bisa menjadi pembeda. Pressing-pressing yang dilakukan pemain Persijap tidak serapat di babak pertama, membuat PSS nyaman untuk memainkan bola di lini tengah.

Pada akhirnya, sebenarnya PSS bermain tidak lebih baik dibandingkan tuan rumah. Faktor stamina dan luck yang menjadi pembeda. Beruntung PSS berhasil mencetak gol lewat Jodi Kustiawan dan memaksa tuan rumah merelakan 3 poin kedua mereka di kandang. Semoga ke depan PSS tidak lagi bergantung pada satu pemain, jika kehilangan Busari, Dirga atau yang lain penampilan PSS tetap konsisten. Kita harapkan juga, coach FM lebih cepat dan tanggap menghadapi situasi di lapangan. Sehingga tidak harus menunggu hingga turun minum untuk merubah gaya permainan tim di lapangan.

 

Komentar