Analisis

Persip Pekalongan Vs PSS Sleman: Keberhasilan Beradaptasi

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

PSS Sleman berhasil mengkandaskan tuan rumah Persip Pekalongan dua gol tanpa balas pada Rabu 2/08/17 di Stadion Hoegeng Pekalongan. Dua gol Super Elja dicetak oleh Dirga Lasut menit ke 50 lewat eksekusi tendangan bebasnya dan Rizky Novriansyah di menit ke-78, memanfaatkan bola muntah hasil tendangan Ardi Idrus.

Dengan kemenangan ini PSS Sleman semakin mengkokohkan posisinya di puncak klasemen dengan mengemas 25 poin dan meperbesar kans lolos ke 16 besar, menyisakan 4 laga(dua home dua away). Sementara dengan golnya ke gawang Persip membuat Dirga berhasil mengemas 8 gol sejauh ini dan selalu mencetak gol di tiga pertandingan berturut-turut. Pencapaian yang luar biasa untuk pemain yang beroperasi bukan sebagai penyerang.

Formasi

Gambar 1. Formasi kedua tim

Seperti dua pertandingan sebelumnya, coach Freddy kembali menerapkan formasi 3-4-3. Dengan sedikit perubahan di trio centerback, Arie Sandi yang sebelumnya di plot sebagai centerback di kembalikan ke posisi awalnya sebagai gelandang dan posisinya di gantikan oleh Zamzani.

Sementara itu, Dirga yang pada game sebelumnya menemani Busari di pos gelandang dimajukan menggantikan Rossi yang diparkir oleh Freddy Muli. Dan di ujung tombak sudah pasti ditempati oleh striker yang tak tergantikan Riski Novriansyah.

Di sisi lain, tim tuan rumah Persip Pekalongan memakai formasi 3-5-2. Di pos lini belakang mereka dikomandoi oleh bek eks Persiba Bantul yakni Wahyu “Buto “Wijiastanto. Persip Pekalongan juga punya jenderal lapangan tengah Rozikin dan pemain muda Dimas Adik. Dan di pos lini depan mereka di isi pemain yang punya kecepatan dan skill bagus, Samuel Safel dan Edy Witopo.

Jalannya Pertandingan

Di babak pertama, permainan Super Elja sama sekali tidak berkembang. Permainan operan pendek yang biasanya di peragakan sama sekali tidak terlihat. Kondisi lapangan memaksa para pemain PSS lebih sering melakukan direct ball ke depan. Seperti dua laga sebelumnya, Dave didapuk untuk mengisi area half-space kiri, bahu membahu dengan Tedi Berlian yang mengeksploitasi area flank kiri. Dominasi keduanya memang tidak diragukan, serangan PSS sering dibangun dari sisi itu.

Peran Dave di pertandingan ini tampak tidak maksimal. Dave yang mengandalkan skill dan umpan-umpan pendek tentu saja tidak maksimal dengan kondisi Lapangan Hoegeng. Belum lagi Dave dipaksa membantu Tedi menyisir area sayap, Dave yang tidak memiliki atribut seorang winger murni tentu saja kesulitan.

Kesulitan mengontrol bola dengan baik, dan pantulan bola yang tidak terduga membuat para gelandang PSS lebih sering mengirimkan umpan lambung ke pemain depan. Terlihat sekali bagaimana sulitnya para pemain Super Elja mengembangkan permainan dan menembus pertahanan Persip. Alhasil sepanjang babak pertama berjalan anak asuh Freddy Muli hanya mendapat satu-satunya peluang bersih dari shot off target Riski yang mendapat umpan dari Dirga.

Dalam preview sebelumnya (Baca: Preview Persip vs PSS) kami menyarankan PSS untuk mengeksploitasi area sayap Persip, karena di sana terdapat celah yang cukup lebar. Hal itu tidak terjadi di babak pertama, namun semua berubah setelah turun minum.

Di babak kedua permainan Super Elja mulai membaik , nampaknya para pemain mendapatkan instruksi khusus dari FM dan bisa sedikit beradaptasi dengan kondisi lapangan stadion Hoegeng. Mengetahui ada yang tidak beres di area sayap, FM memasukkan Mardiono menggantikan Dave Mustaine. Dengan begitu formasi berubah menjadi 3-5-2 (Gambar 2).

Gambar 2. Perubahan taktik PSS di babak kedua

Babak kedua bisa dibilang PSS melakukan mirroring formasi dari Persip, masuknya Nono membuat PSS memasang 2 pemain serang di depan. Dirga Lasut yang sebelumnya diposisikan sejajar dengan Dave digeser lebih ke belakang dan diberikan tugas tambahan ikut membantu pertahanan. Adanya 2 penyerang yang mempunyai tipikal mirip ini membuat sayap PSS kembali hidup, terutama kombinasi dengan dua wingback PSS.

Kembali lagi kejelian seorang Freddy Muli dalam melakukan pergantian pemain terbukti di petandingan ini. Dave yang sama sekali tidak berkembang di babak pertama di gantikan rekrutan baru PSS: Mardiono.  Pergantian ini murni demi merubah taktik dan cara bermain PSS di lapangan. Karena Dave akan kesulitan berkembang di kondisi lapangan tidak rata.

Kontribusi Nono, sapaan dari Mardiono, ini langsung berkontribusi dalam gol pertama PSS Sleman. Solo run yang di lakukannya melewati beberapa pemain Persip yang kemudian memberi umpan kepada Rizki, memaksa pemain belakang melakukan pelanggaran di depan kotak penalti Persip. Dirga yang menjadi algojo pun berhasil melakukan tugasnya dengan sangat tenang dan 0-1 untuk PSS.

Yang menjadi catatan menarik adalah pada babak pertama, tidak ada yang bisa bergerak seperti Nono di sayap. Terbukti wingback Persip tidak terlalu menonjol dalam hal sprint. DI babak pertama, tidak ada pemain yang berposisi sebagai  Winger murni. Mungkin jika FM memasang Kito, Rossi atau Imam sejak awal, babak pertama akan lebih menguntungkan untuk PSS. Namun sekali lagi, masalah penentuan line up adalah hak utuh dari pelatih.

Statistik Nono yang hanya bermain satu babak ternyata cukup baik. Dia berhasil mencatatkan 24 umpan dengan persentase keberhasilan 75%, 2 shot off target , 1 key pass, 1 chance created , 3 dribbles success dan 1 tackle success.

Gol kedua PSS juga berasal dari area sayap. Ardi Idrus, pemain yang menjalani debutnya untuk PSS menjadi actor utamanya. Ardi dengan akselerasinya berhasil mencuri bola dari pemain belakang Persip, sebelum melakukan tembakan ke gawang. Bola hasil tendangan keras Ardi yang tak bisa dibendung kiper Persip berhasil dicocor oleh Riski.

Walaupun sama-sama menggunakan 3-5-2, ada perbedaan cara bermain kedua tim ini. Perbedaannya adalah pada pergerakan kedua wingback. Persip menginstruksikan kedua wingbacknya untuk lebih bertahan, tidak sering maju melebihi garis tengah lapangan. Di PSS Sleman, Tedi dan Bagus ditugaskan untuk aktif membantu penyerangan. Hal ini menjadi pembeda dalam pertandingan ini, baik untuk Persip maupun PSS Sleman.

Persip Pekalongan yang familiar dengan formasi 3 bek tampaknya tahu betul celah-celah yang bisa dimanfaatkan untuk membongkar formasi ini. Terlambatnya wingback turun akan membuat ruang kosong di sisi pertahanan tim. Hal ini dimanfaatkan oleh Edy Witopo dan Samuel Seflee sepanjang pertandingan (Gambar 3).

Gambar 3. Area di sisi pertahanan PSS Sleman

Saat PSS menyerang, otomatis Tedi dan Bagus akan ikut naik melewati garis tengah lapangan. Sementara itu pemain-pemain tengah Persip akan menunggu di area pertahanannya, dan aktif merebut bola ketika bola sudah mendekati area pinalti. Di lini serang, Samuel Seflee dan Edy Witopo sudah bersiap menyambut serangan balik dari rekan-rekannya. Keduanya sering bergerak di area yang ditinggalkan Bagus N dan Tedi Berlian, membuat Zamzani dan Tolle harus keluar dari posnya menutup pergerakan mereka.

Kenyataannya, tiga peluang emas yang didapatkan Persip juga berasal dari skema yang sama, memanfaatkan serangan balik dan memanfaatkan area kosong yang ditinggalkan wingback. Coach FM harus segera menutup celah ini, sebelum beremu dengan tim yang memiliki pemain sayap cepat seperti Persebaya atau Martapura.

Seringnya sisi kiri PSS diserang membuat Tolle harus sering berduel dengan Seflee atau Edy W, namun penampilan ciamiknya membuat beberapa peluang dari Persip berhasil diredam sebelum masuk area kotak pinalti PSS. Penampilan garang Hisyam Tolle ini berhasil dicatat oleh tim statistik Sleman-Football. Tolle mencatat 18x (90%) umpan sukses, 6x tekel dengan tingkat keberhasilan 83,3%, 15x clearance, 1x block, dan 3x interception.

Pada akhirnya, keadaan lapangan yang tidak mendukung membuat permainan kedua tim menjadi tidak optimal. Kejelian kedua pelatih dibutuhkan untuk menyiasati keadaan, dan tampaknya coach FM lah yang keluar sebagai juaranya. Pergantian yang dilakukannya di babak kedua terbukti mengubah permainan PSS menjadi lebih hidup.

Dengan kemenangan ini tentu kesempatan Super Elja untuk lolos ke 16 besar sangat terbuka lebar. Dengan sisa 4 laga, dua kemenangan di kandang akan meloloskan PSS Sleman sebagai pemuncak klasemen.

Walaupun para pemain tidak di dampingi dan di-support secara langsung oleh Sleman Fans, namun para pemain menunjukan mental juaranya di atas lapangan. Keringat dan perjuangan mereka membawa pulang poin tiga sudah sepantasnya kita beri apresiasi. Mungkin dimulai merubah sikap kita menjadi lebih dewasa dalam menyikapi segala sesuatu. Terima kasih punggawa, we love you !

 

 

Komentar