Cerita

Politik dan Ultras

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Hingga hari ini, keberadaan politik dan ultras kerap menjadi perdebatan. Sepertinya ultras memang harus dihadapkan dengan politik.

Di era modern, kita bisa dapat menemukan banyak literasi mengenai ini. Jauh di belahan bumi sana ultras sering dikaitkan dengan politik. Dari sejarah, lambang, ideologi hingga alat politik. Mungkin kita bisa menyebut Eropa sebagai tanah lahir ultras, terutama Italia.

Ultras memiliki basis ideologi serta ideologi polotik yang beragam, meski dalam satu kekuatan mendukung klub yang sama. Mereka membawa paham lama dan tua seperti facism, komunism dan socialism.

Ultras lahir dari peristiwa demontrasi yang dilakukan anak-anak muda pada saat ketidakpastian politik melanda Italia di akhir 1960-an.

Partai Komunis di Italia terbentuk pada tahun 1921, kemudian hal ini berhubungan dengan Curva Nord dari ultras Livorno pada tahun 1976. Tahun kejayaan ultras di Italia untuk tumbuh dan berkembang.

Livornesi adalah sebutan bagi penduduk Livorno yang dikenal untuk berkoloni. Berada di wilayah pesisir pantai membuat Livorno memiliki pelabuhan besar yang memungkinkan para saudagar dari Yahudi, Persia, Turki, dan lainnya untuk datang dan menciptakan peradaban baru.

Akhirnya, Livornesi, Curva Nord Livorno atau sekarang Brigate Autonome Livornese (BAL), simbol bintang merah hingga ideologi sayap kiri, lekat hubungannya dengan Livorno.

Karakteristik ultras dengan jumlah massa yang banyak, organisasi yang rapi membuat beberapa hal sulit menjadi mudah. Belum lama dan berdampak luar biasa. Contohnya perisitiwa pergerakan suporter (ultras) di Mesir dan Ukraina.

Mengingat bahwa ultras di Mesir dan Ukraina lahir karena kegilaanya dengan sepakbola. Ultras di dua negara ini jauh dari pandangan politik dan bersikap apolitis.

Namun apa yang mereka perbuat tentang reformasi di negaranya seakan membuktikan kalimat, hal sulit menjadi mudah. Kalau tidak percaya, salah satunya tanyakan saja pada Husni Mubarak.

Bolehlah menyebut Mesir sebagai salah satu rumah ultras yang melawan kepentingan politik. Situasi negara yang diciptkan Husni Mubarak membuat ultras tak ikut campur berpolitik tapi juga tidak diam.

Demokrasi abal-abal ala Mesir kala itu membuat ultras turun ke jalan dan bergabung bersama rakyat. Setelah beberapa rangkaian aksi di dalam stadion dan mencapai klimaknya. Berhari-hari ultras turun ke jalan dan menyebarkan seruan di media sosial agar jangan takut untuk turun ke jalan.

Husni Mubarak turun, pergerakan rakyat dengan ultras di garis depan berhasil. Namun cerita masih panjang, rezim lama masih menempatkan beberapa posisi penting di pemerintahan.

Tahun 2012, peristiwa Port Said terjadi. Sebanyak 74 orang tewas dan lebih dari 1000 orang terluka.

Peristiwa kerusuhan antara suporter Al Ahly dan Al Masry menjadi cerita paling menyedihkan untuk olahraga Mesir. Banyak pihak mengemukakan pandangan tentang peristiwa tersebut. Salah satunya mengenai militer yang ingin bernostalgia dengan para ultras.

Cerita lain datang dari David McArdle dan Manuel Veth, dua orang pemerhati sepakbola Eropa Timur. Ukrainian Ultras and the Unorthodox Revolution merupakan esai yang menganalisis terkait terseretnya ultras kedalam gerakan anti-pemerintah.

Siapa yang tidak mengenal gaya ultras dari Eropa timur? Sudah besar-besar, tak kenal kompromi pula. Ngeri.

Ultras Ukraina turun ke jalan karena ingin melindungi masyarakat dari subkulturnya, yaitu Titushky. Titushky merupakan kelompok laki-laki berbadan besar, bermuka sangar serta memakai pakaian ala ultras.

Mereka adalah warga sipil yang dijadikan alat kepentingan pemerintah untuk melawan dan menghajar warga sipil lainnya. Titushky beberapa direkrut dari klub bela diri kota Kharkiv yang mayoritas adalah anggota ultras klub Methalist Kharkiv.

Situasi politik di Ukraina kala itu memanas, semenjak Presiden Viktor Yanukovich dikabarkan membatalkan kerjasama dengan Uni Eropa. Yanukovich merupakan pro Rusia dan didukung Partai Komunis Ukraina.

Beberapa oposisi pemerintah dan warga Pro-Eropa akhirnya turun ke jalan dan menamainya dirinya dengan sebutan Euromadian. Euromadian adalah target serangan dari Titushky, yang tugasnya mengacaukan demonstrasi damai atau bahkan menghajarnya.

Para ultras yang terbagi menjadi beberapa kelompok bersatu. Diawali oleh ultras Dynamo Kiev yang mendeklarasikan perang kepada pemerintah. Ultras Dynamo Kiev tidak terima dengan perlakukan Polisi yang membubarkan paksa para demonstran yang sudah sebulan menyuarakan ketidakpuasan di jalanan.

Dalam persitiwa tersebut ada hal yang menarik, salah satunya peristiwa penghadangan yang dilakukan ultras Methalist Kharkiv. Mereka menghajar 400 Titushky yang bisa saja teman di dalam satu tribun, tetangga bahkan saudara. Ultras Methalist Kharkiv merasa malu dengan sebutan buruk bagi kotanya.

Ultras Shakhtar Donetsk paling mengguncang. Atasnama melindungi hak suara dan kasus pelanggaran hukum yang dilakukan pemerintah kepada warganya, mereka menentang. Telak.

Donetsk adalah kota kelahiran Yanukovich. Tidak hanya itu, pemilik klub Shakhtar Donestk adalah orang kaya Ukraina dan sponsor utama partai berkuasa.

Ultras dari berbagai negara memiliki karakteristik yang berbeda, kepercayaan atau keyakinan yang mereka pahami terhadap suatu hal juga berbeda.

Lantas, bagimana dengan Ultras Kabupaten Brigata Curva Sud (BCS)? Jelas, Brigata Curva Sud sudah memiliki sikap yang tegas. No Politica!

Sebab, karena itu juga mereka lahir. No Politica merupakan subkultur baru yang terjadi dalam BCS demi meraih nilai sempurna dari seorang yang sedang berdemokrasi. Membebaskan setiap anggotanya untuk terlibat politik.

Menjunjung tinggi hak warga negara. Namun, tidak menghendaki politik masuk tribun selatan. Belajar membedakan kepentingan.

Teringat mengenai suatu pertandingan musim lalu, laga sore hari dari Tribun VIP. Duduk di samping pejabat dari luar daerah. Kita berbincang mengenai banyak hal. Namun, perbincangan terhenti dan saya terpaksa pergi, ketika ia menyatakan; “Ini segitu banyak orang (menunjuk BCS) sudah memiliki hak suara ya.“

Brigata Curva Sud di tribun kuning seakan menjadi bukti bahwa yang terjadi bukan imitasi. Setidaknya mereka berhasil menyampaikan pesan dan memberi kesan kepada mereka yang tidak mengenalnya dengan baik.

Akhir kata, penulis ingin bertanya, jika ada salah satu di antara pembaca dan baru saja masuk BCS karena trend dan ikut-ikutan. Sudah boleh nyoblos belum?

Komentar
Aand Andrean

Bisa bermain bumerang, tapi gagal menjadi atlet hula hoop. Pernah bercita-cita menjadi dokter. Suka rasan-rasan dan berkicau di akun @aancuuk, ojo dibully yo lur...