Analisis

Preview PSS vs PSMS: Menentukan Best Eleven

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

PSS melanjutkan persiapannya untuk menyongsong Liga 2 2018 dengan menggelar uji tanding melawan PSMS Medan, 4 Maret 2018. PSMS menjadi tim Liga 1 ketiga yang mendapatkan kesempatan menjajal PSS Sleman di Stadion Maguwoharjo. Sebelumnya ada Persebaya dan Bhayangkara FC yang berkesempatan berduel dengan Super Elja.

Setelah menggelar Coppa Sleman 2018, memang PSS belum pernah menorehkan kemenangan di uji tanding (dengan klub selevel atau satu level di atasnya). Tercatat, PSS menelah kekalahan 1-4 dari Persebaya, dan terakhir kalah 0-2 dari Bhayangkara.

Walau begitu, pada berberapa kesempatan, Herkis memang tidak menargetkan kemenangan di pertandingan uji coba yang dilakoni oleh PSS. Tim pelatih sedang mencoba menemukan komposisi ideal untuk starting eleven PSS.

Hal ini terbukti bahwa PSS memainkan starting line up yang berbeda di dua laga ujicoba. Herkis mengganti 80% pemainnya saat melawan Bhayangkara FC. Tercatat, hanya Arie Sandy, Hisyam Tolle dan Yudi Khoirudin yang tetap dipertahankan mengisi sebelas utama.

Memasang 2 line up yang berbeda, tampaknya juga menghasilkan permainan yang berbeda. Saat melawan Persebaya, PSS lebih sering memanfaatkan area sayap untuk memulai serangan.

Thaufan Hidayat dan Slamet Budiyono yang memiliki keunggulan kecepatan sering mengeksploitasi sayap dan mencoba merangsek masuk ke dalam kotak pinalti atau mengirimkan crossing. Selain itu, Tambun Naibaho yang sering bermain di area sayap membuat aliran bola lebih banyak ke arah sayap.

Berbeda dengan line up yang diturunkan saat melawan Bhayangkara FC. Permainan lebih mengalir di lini tengah. Pemain-pemain seperti Ichsan Pratama, Dave Mustaine, dan Rangga Muslim lebih sering membawa bola di area tengah. Mencoba membangun serangan dengan umpan-umpan pendek pertahanan lawan. Ditambah dengan Rangga Muslim yang diberikan kebebasan bermain, Rangga sering membawa bola di area tengah dan terkadang bertukar posisi dengan Ichsan.

I Made Wirahadi yang didapuk sebagai penyerang, memiliki karakter untuk menunggu di dalam kotak penalti lawan dibandingkan melebar. Namun ternyata permainan apik di lini tengah masih belum maksimal ketika sampai di sepertiga akhir pertahanan lawan. Para gelandang PSS kesulitan untuk mengirimkan umpan ke dalam kotak pinalti, sehingga Wirahadi tidak mendapatkan suplai bola.

Menghadapi PSMS Medan, seharusnya Coach Herkis sudah memiliki gambaran “Best Eleven” yang akan diturunkan. Setelah mencoba seluruh pemainnya, Herkis seharusnya sudah mengantongi karakter permainan setiap pemain, baik dari segi teknik maupun taktik. Selain itu, Herkis pasti sudah melakukan analisis dan evaluasi dari pertandingan uji coba, yang kemudian diperbaiki di sesi latihan.

Best Eleven harus menyesuaikan cara bermain lawan sehingga bisa memanfaatkan kelemahan lawan untuk meraih kemenangan.

Dalam tulisan ini, penulis mencoba untuk menganalisis Best Eleven yang mungkin akan dimainkan sore nanti. Untuk lini belakang, Ega Rizky akan dikawal oleh Hisyam Tolee dan Yudi Khoirudin. Untuk bek kanan dan kiri, ada Vandy Prayogo dan Tedi Berlian. Arie Sandy masih akan ditugaskan sebagai seorang breaker, pemain yang belum tergantikan sejauh ini.

Di depannya, Herkis tidak mempunyai banyak pilihan setelah Dave Mustaine dan Adi Nugroho dalam kondisi yang kurang fit. Herkis kemungkinan akan memasang Ichsan dan Irhaz yang akan bahu membahu di lini tengah. Di posisi sayap, Rangga Muslim akan mengisi area kiri dan Slamet Budiono di sayap kanan. I Made Wirahadi akan diturunkan untuk mengisi posisi penyerang.

Pemain belakang tidak boleh terlalu sering membawa bola di area pertahanan sendiri, terutama ketika banyak pemain lawan berada disana. Hal ini masih sering terjadi di pertandingan lalu, bahkan pada beberapa kesempatan bola kembali bisa direbut oleh pemain depan lawan. Situasi ini seharusnya tidak perlu terjadi ketika pemain belakang langsung melakukan clearance.

Para pemain harus bisa memanfaatkan area tengah dan sayap, namun tetap harus bisa membagi area permainan sesuai dengan tugasnya. Pada pertandingan melawan Bhayangkara, Rangga, Ichsan, dan Dave sering berada pada satu area di lini tengah, membuat area sayap kiri kosong. Ichsan Pratama harus bisa menjadi pengatur serangan PSS, bisa membagi bola ke area sayap atau ke dalam kotak penalti.

Saat melakukan serangan dari sisi sayap dan mengirimkan umpan ke kotak pinalti, pemain-pemain lain harus memberikan support kepada penyerang tunggal PSS. DI match melawan Bhayangkara, sangat sering kita lihat Wirahadi sendirian di kotak pinalti saat menerima umpan crossing dari pemain sayap.

Situasi 1 vs 5 di kotak pinalti lawan tentu tidak akan menguntungkan untuk seorang striker. Pemain sayap, dan satu pemain tengah paling tidak harus berada di kotak pinalti, sehingga bisa memunculkan situasi 3 vs 5 yang mempunyai kemungkinan lebih baik dibandingkan 1 vs 5.

PSS harus bisa memaksimalkan skema fast break dari lini belakang. Di dua pertandingan sebelumnya, skema serangan balik cepat yang diperlihatkan oleh PSS sangat amburadul. Pemain yang berhasil merebut bola dari pemain lawan tidak segera mengirimkan umpan ke depan, padahal sudah ada beberapa pemain yang posisinya menguntungkan. Terlalu lama membawa bola sehingga kehilangan momentum dan bolanya kembali direbut oleh lawan.

Menjadi harapan kita bersama, di pertandingan kali ini permainan PSS menjadi lebih baik dibandingkan sebelumnya. Dari segi progress permainan maupun hasil akhir. Karena walaupun ini hanya pra musim, ketika hasil-hasil minor terjadi berurutan akan mempengaruhi mental bertanding para pemain.

Komentar
Ahmad Indra Pranata

Dokter muda yang mencintai sepakbola, bisa kamu hubungi di akun Twitter @mamas_ahmad