Cerita

[PSS dan Persebaya] Persahabatan Bagai Kepompong

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Thomas Aquinas pernah berkata, “Tidak ada hal apapun di dunia ini yang lebih berharga dari persahabatan sejati”.

Persahabatan adalah sesuatu yang indah. Di dalam persahabatan, ada (sekumpulan) sahabat yang tetap ada walaupun seluruh dunia berkata kau tak lagi berharga.

Apakah mungkin sebuah persahabatan terjadi di dalam dunia sepak bola? Sepak bola di Indonesia yang identik dengan kekerasan dan kerusuhan. Hal-hal yang sepertinya jauh dari kata persahabatan.

Di dalam tulisan ini saya akan menuliskan sedikit tentang persahabatan kedua tim sepak bola di Indonesia: Persebaya dan PSS Sleman. Juga bagaimana saya menyebut persahabatan ini bagai kepompong, yang merubah ulat menjadi kupu-kupu.

Seperti kita semua ketahui (terutama bagi Sleman Fans dan Bonek), bahwa hubungan baik antara PSS dengan Persebaya belum berlangsung lama, tidak sejak lama-lama amat. Seperti diketahui, wadah Suporter PSS baru dibentuk sejak awal tahun 2000an, sedangkan Bonek sudah eksis sejak jaman Perserikatan. Sebuah hubungan yang sebenarnya lebih pantas dilihat sebagai Bapak dan Anak.

Namun saya menganggap tulus tidaknya sebuah hubungan tidak dilihat dari lama tidaknya hubungan itu terjalin, tapi bisa dilihat dari kualitas hubungan tersebut. Menurut saya, ini yang terjadi antara PSS dan Persebaya. PSS (melalui suporternya) baru mulai menyuarakan dukungan kepada Persebaya sejak 3-4 tahun belakangan. Menyusul sanksi yang diberikan oleh PSSI terhadap klub kebanggaan warga Surabaya ini.

Dukungan yang paling terlihat tentu saja saat PSS bertandang ke Karawang pada 12 November 2016. Saat itu PSS akan bertanding melawan Persita, dan BCS selaku pendukung PSS memutuskan untuk tidak masuk ke stadion sebagai bentuk dukungan moral kepada Persebaya. Jika tidak salah ingat, Batak mengatakan:

“Mari kita ikut merasakan apa yang dirasakan Bonek. Mereka lebih dari 5 tahun tidak bisa menyaksikan tim kebanggaannya. Kita sama-sama support saudara kita, kita beri semangat kepada mereka, biar mereka tetap solid ”

Berikutnya, ketika Ketua PSSI yang baru mengembalikan keanggotaan Persebaya, ucapan selamat banyak mengalir dari para Sleman Fans. Ucapan selamat atas kembalinya Persebaya di kancah persepak bolaan Indonesia. Mereka ikut berbahagia, sebagai bukti bahwa mereka ikut dalam sebagian kecil perjuangan Bonek untuk memperjuangkan Persebaya.

Singkat cerita, sampai pada puncaknya, adalah saat Celebration Game. Persebaya memberikan penghargaan sangat spesial untuk PSS. PSS diundang sebagai tamu khusus pada pertandingan ini. Sebagai bentuk terimakasih, dan juga dukungan moral kepada PSS untuk segera menyusul Persebaya ke Liga 1. Sebuah perayaan yang begitu meriah, yang sarat akan makna. Ucapan selamat dari PSS kepada Persebaya, juga ucapan termakasih dari Persebaya kepada PSS. Tidak main – main, Ucapan terima kasih langsung diucapkan oleh Azrul Ananda sebagai Presiden Persebaya. Thats mean a lot to us! Begitu indahnya malam itu.

Metamorfosis Sempurna

Sampai pada bagian akhir, bagaimana saya menganalogikan hubungan persahabatan ini sebagai sebuah metamorfosis sempurna. Seperti  ulat yang berubah menjadi kupu-kupu.

Banyak hal yang bisa kita contoh, kita tiru, kita gugu, dari seluruh perjuangan panjang Bonek selama ini. Bagaimana selama 6 tahun, mereka tidak berhenti memperjuangkan hak Persebaya, bagaimana selama 6 tahun tersebut, kota Surabaya disusupi berbagai klub- klub baru, yang bahkan sempat menggunakan nama Bonek FC untuk memecah persatuan Bonek. Namun mereka tidak berpaling dari tujuan awal. Persebaya, tidak yang lain!

Seharusnya kita sebagai Sleman Fans malu. Ketika Bonek selama 6 tahun terus berjuang berkorban energi, waktu, bahkan juga nyawa menuntut keadilan bagi timnya. Disini kita meratapi nasib ketika salah satu pemain memutuskan pergi ke klub lain. Perginya satu dua orang pemain dianggap sebagai sebuah permasalahan berat. Seakan kita lupa, bahwa lambang di dada lebih besar dibandingkan nama di punggung.

Saat kita bertandang ke Surabaya menghadiri undangan Celebration Game, banyak hal positif yang bisa kita dapatkan. Baik itu sebelum, saat, dan setelah pertandingan.

Sebelum pertandingan, kita bisa melihat begitu ramahnya para Bonek menyambut kita. Ada yang diberikan tumpangan, ada yang mencarikan makanan, ada yang diarahkan jalan menuju THR, atau Stadion.  Seakan hal ini meleburkan anggapan- anggapan negatif tentang Bonek yang selama ini kami lihat di media massa.

Walaupun, mengutip salah satu Bonek yang saya temui di Masjid Agung Surabaya, “Tidak semua Bonek baik mas. Terkadang ada juga Bonek yang ke Stadion yo nyambi mbut gawe, nyopet. Tapi kami terus berbenah untuk menjadi lebih baik”.

Hal lain yang bisa kita amati adalah perjuangan Bonek ketika ingin menyaksikan Persebaya bertanding. Berbeda dengan keadaan di Sleman, dimana Stadion Maguwoharjo memiliki banyak akses jalan.  Akses jalan menuju Stadion Gelora Bung Tomo termasuk sulit. Berada di pinggir kota Surabaya, dan hanya memiliki satu akses jalan yang bisa dibilang kecil.

Bonek sudah mulai memadati area Gelora Bung Tomo (GBT) pada pukul 14.00, yang berarti hampir 5 jam sebelum kick off. Sebuah semangat yang sangat luar biasa. Mendekati waktu kick off, dengan kondisi jalan macet total mereka masih tetap semangat untuk datang ke Stadion. Hujan deras juga tidak menyurutkan langkah mereka untuk tetap melangkahkan kaki kaki di jalan becek dan berlumpur. Bahkan, saya melihat dengan mata saya sendiri, banyak bonek yang rela berjalan di pematang tambak untuk menghindari kemacetan. Ada juga yang sampai berenang di tambak. Luar Biasa (walaupun banyak juga yang pada akhirnya terjebak macet dan memilih tidak melanjutkan perjalanan ke GBT).

Di dalam stadion, kita juga dapat belajar berbagai macam hal. Yang paling terlihat adalah bagaimana panpel bisa membungkus suatu pertandingan menjadi sangat menarik. Mereka bisa membuat Stadion GBT yang berkapasitas 55.000 penonton ini penuh sesak (ditambah ribuan orang yang tidak bisa masuk ke Stadion).

Dengan adanya pengalaman – pengalaman seperti itu, apakah masih pantas jika kita merasa sudah menjadi yang terbaik, merasa yang paling total untuk klub kebanggaan kita? Kembali lagi saya kutip perkataan dari Batak Jore, yang intinya adalah:

“Di atas langit, masih ada langit”

Hal-hal ini harusnya kita jadikan pelajaran, dan kita bawa ke Sleman. Bagaimana kita  harus berjuang dalam hal positif untuk tim kebanggaan, bagaimana menyambut tamu, bagaimana kita harus bersyukur dengan mudahnya akses kita menonton sepak bola. Bagi panpel dan Manajemen PSS, belajar bagaimana mengelola sebuah tim sepak bola sehingga bisa menghasilkan prestasi.

Banyak hal dari persahabatan ini yang bisa kita tiru dan kita gugu. Sehingga kita (PSS dan Sleman Fans) bisa berevolusi secara sempurna. Dari supporter yang baik menjadi lebih baik, dari yang total menjadi lebih total. Dari klub yang apa adanya menjadi klub profesional dan berprestasi. Karena persahabatan yang baik itu bagai kepompong, merubah ulat menjadi kupu-kupu.

Selamat, dan juga terima kasih, Surabaya!

Komentar
Ahmad Indra Pranata

Dokter muda yang mencintai sepakbola, bisa kamu hubungi di akun Twitter @mamas_ahmad